"Ibu, ayah, Riley!"
Begitu memasuki kediaman Naois, Ruley menyibak tudung jubah hitamnya. Menampakkan wajah berseri-seri yang sangat jarang ia tampilkan. Dua sosok yang membuat Ruley dan Riley berada di dunia menuruni anak tangga dengan perlahan.
"Kami di ruang keluarga, sayang!" Suara Duchess Naois terdengar, membuat langkah kaki Ruley yang mulanya hendak berkeliling kediaman untuk mencari keduanya berbalik cepat menuju ruang keluarga.
Langkah kaki gadis beriris kuning itu terdengar semangat, membuat Riley yang tengah mengunyah sepotong cookies cokelat mengernyitkan dahi. "Sepertinya Ruley akan membawa kejutan?" Duke dan Duchess Naois yang mendengar prediksi dari putra mereka hanya menggeleng dengan senyum di wajah.
"Yah, anak itu memang selalu mengejutkan kita." Duke Naois menyetujui. Derap langkah Ruley semakin dekat, ketika gadis itu berada di ambang ruang keluarga, dengan wajahnya yang berseri Ruley berhasil menyuarakan kalimat.
"Aku menyetujui pesta perayaan untuk Naois sekaligus pesta ulang tahunku dan Riley!"
Bukan hanya terkejut, tapi benar-benar terkejut. Riley sampai berkedip dengan wajah bodoh, melupakan cookies setengah badan yang terjepit di belah bibirnya. Duke Naois yang baru saja menyesap teh, berperilaku jorok dengan membuka belah bibirnya, menciptakan air terjun teh yang membasahi pakaiannya.
Sepertinya hanya Duchess Naois yang terlihat normal, meskipun tangannya yang memegang cangkir teh terhenti sejenak dengan wajah tertegun sepersekian detik. Wanita paruh baya dengan marga Naois menyesap tehnya, sebelum meletakkannya ke atas meja, dan menangkupkan dagu suaminya.
"Ruley... serius?" Tanya Duchess Naois dengan nada mendalam. Ruley terbahak menyaksikan kebodohan ayah dan kembarannya mengusap sudut matanya yang basah. Gadis itu berjalan mendekati ibunya dan duduk di pegangan kursi.
"Uhm, aku mau ikut." Tegasnya ulang. Riley yang sadar dari fase bodohnya menggigit habis cookies yang tadi terjepit di bibirnya. "Serius? Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Selidik pemuda beriris hijau pada kembarannya.
Ruley memutar bola matanya malas dan mencebikkan bibirnya. "Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertemu seseorang saja." Tukas Ruley, menciptakan raut wajah penasaran yang tak dapat disembunyikan dari sang Duke.
"Putri ayah yang ayah sayangi, apakah kamu diam-diam punya kekasih di luar sana?" Pertanyaan hati-hati namun terus terang dari ayahnya menciptakan rona merah di wajah Ruley. Lagi-lagi membuat waktu seakan berhenti. Riley menelan ludahnya, "serius?" sahutnya tak percaya melihat rona merah yang asing di wajah kembarannya.
Duke membulatkan kedua matanya, "siapa, siapa pria itu?!!" Panik, tentu saja. Ayah mana yang tidak panik mendengar putrinya tiba-tiba mendapatkan kekasih di luar meskipun sejak awal Duke Naois dan istrinya hendak membujuk putrinya untuk mencari calon pasangan di pesta perayaan nanti.
Duchess Naois meskipun tak bersuara, namun wajahnya melukiskan wajah ingin tahu. Ditatap dengan berbagai sorot mata dari keluarganya, Ruley memalingkan wajahnya dan menutupinya dengan jubah. "Bukan kekasih, aku baru bertemu dengannya sekali!"
Duke Naois mengusap dada lega, merasa lapang karena hati putrinya masih miliknya. Padahal kenyatannya hatinya sudah dicuri oleh seorang penulis kisah romansa.
Riley memutar iris matanya, kemudian menyipitkan mata ke wajah kembarannya. "Apakah penulis buku romansa yang kau beli kemarin?" Tebaknya tepat. Rona merah di wajah Ruley semakin gelap, membuat gadis itu mengangkat wajahnya dari jubah hitamnya, panas.
Iris hijau Riley melebar, "ayah, ibu, lihatlah putri kalian jatuh cinta pada seorang penulis! Oh, dan sepertinya penulis itu juga jatuh cinta padanya!" Duke Naois hanya terbengong, punggungnya menempel di sandaran kursi. Sementara Duchess Naois menyorot putra putrinya bergantian dengan pandangan tertarik.
"Bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran. Riley berdeham, mengambil alih suasana untuk mewakili kisah kembarannya. Iris hijau pemuda itu berkilat senang, "apa ibu tahu? Penulis buku romansa yang baru saja kakak baca tadi malam, menggambarkan ciri-ciri tokoh utama wanitanya seperti Ruley!"
Menanggapi putranya yang menggebu, Duchess Naois menyamai energi putranya. Bertingkah seolah terkejut dengan melebarkan kedua matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga, manisnya. Jadi penulis itu selalu mengamati Ruley?"
Riley mengangguk-angguk dengan sok, kedua lengannya terlipat di dada. "Itu dugaanku saja sih bu, tapi benar-benar persis seperti Ruley! Ditambah apa yang Ruley suka atau tidak suka, diketahui begitu saja oleh si penulis!" Tegasnya ulang dengan kedua iris hijau yang melebar. Ruley menutup wajahnya dengan telapak tangan, memalukan!
"Dasar sok tahu!" Ruley membantah, memalingkan wajahnya tak ingin memandang iris hijau penuh selidik dari kembarannya dan ibunya. Bukan tertarik lagi, Duchess Naois kini mengerutkan dahi serius dengan jari telunjuk yang mengusap-usap dagunya.
"Kira-kira darimana pemuda itu mengetahui semua hal tentang Ruley?" Tanyanya serius, seketika Duke Naois yang sedari tadi terdiam langsung membuka suara. "Apakah pemuda itu memata-matai putriku?!!" Sungutnya marah.
Duchess Naois tertawa melihat sikap posesif suaminya terhadap putrinya, sebelah tangannya terulur untuk mengusap lembut lengan suaminya. "Suamiku, tidak boleh berburuk sangka pada seseorang." Mendengar peringatan istrinya, Duke Naois mencebik, menimbulkan kernyitan jijik dari kedua anaknya.
Ruley menggesekkan ibu jarinya dengan telunjuknya, sorot matanya mengambang. "Mungkin mengamati dari jauh dan mengira-ira dari gosip?" Pendapatnya mendapat anggukan dari kembarannya. "Bisa jadi, setelah ku ingat-ingat lagi sepertinya tidak semua tentang Ruley diketahui oleh si penulis. Malah, ada beberapa hal yang tidak Ruley sukai menjadi disukai oleh si tokoh utama wanita." Riley mengeluarkan teorinya.
Ruley mengangguk-angguk menyetujui teori yang kembarannya keluarkan. Riley menyeringai, "jadi kau setuju tentang kalian yang saling mencintai diam-diam?" Sontak jubah hitam terlempat kuat ke tubuh Riley, membuat pemuda itu meledakkan tawanya dengan elegan. "Diam ya!" Tekan Ruley kesal, meski begitu wajahnya memerah.
Melihat tingkah putrinya, Duke Naois melembutkan sorot matanya. Pria paruh baya yang masih gagah itu mengedikkan bahunya, "jika memang cinta katakan saja cinta ya putriku, tapi pastikan jika kamu benar-benar mencintainya. Berlaku juga untukmu, Riley." Si kembar mengangguk patuh.
Duhcess Naois mengulas senyum, kedua telapak tangannya ia pertemukan menimbulkan suara tepukan. "Nah, karena Ruley sudah setuju, bagaimana kalau kita pergi ke butik bersama-sama sekarang?" Duke Naois menganggukkan kepala setuju, Riley terlihat memikirkan sesuatu dan melirik ajudan di sudut ruangan. Mendapatkan gelengan dan senyuman, wajah pemuda itu sumringah.
"Baiklah!" Ketiganya memandang Ruley dengan sorot mata penuh harap, membuat gadis itu sedikit salah tingkah, dan mendengus. "Y-Ya ayo!" Sahutnya sembari melangkah keluar ruangan mendahului keluarganya.
Riley menyusul kembarannya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, tak lupa pemuda itu melongokkan kepalanya setelah beberapa detik menghilang di ambang pintu. "Ayah, tidak ingin ganti baju?"
Duke dan Duchess Naois memandang ke baju Duke Naois, kemudian keduanya menepuk dahi dan tertawa. Duke Naois menggelengkan kepalanya. "Sepertinya aku benar-benar sudah tua." Gumamnya sedikit sendu.
Duchess Naois mengusap bahu suaminya dengan seulas senyum di wajahnya. "Pergi ganti baju dulu, akan kutunggu di kereta bersama anak-anak." Intruksinya lembut. Setelah mendapat anggukan dari suaminya, Duchess Naois hendak berlalu. Namun, Duke Naois menahan lengannya.
Mengernyitkan dahi, Duchess Naois memandang suaminya bingung. "Ada apa?" Tanyanya lembut, Duke Naois menunjuk pipinya dengan sorot mata memohon. Rona merah yang manis terlukis di wajah Duchess Naois. Meski tak ada siapapun di ruang keluarga ditambah ajudan Riley juga telah meninggalkan ruangan, Duchess Naois berdeham.
Mengira mendapatkan tolakan, Duke Naois melepaskan lengan istrinya dan menundukkan kepala. Tiba-tiba sebuah kecupan manis berlabuh singkat di keningnya. Duke Naois membeku, mendongakkan kepala, dan menyaksikan istrinya melarikan diri dengan langkah cepat.
Seulas senyum lebar terlukis, rona merah pekat menjalar di wajah sang Duke. Mengusap bekas kecupan istrinya, sorot matanya melembut. Meskipun yang ia inginkan di pipi, menurut kamus cinta Duchess, kecupan di kening memiliki arti lebih dari kecupan di bagian lainnya. Sorot mata beriris kuning itu melembut.
"Aku benar-benar mencintainya."
o --
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasyUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
