River berterima kasih dan membungkukkan tubuhnya berkali-kali kepada Sophia, Bibi pengasuh Sophia, dan Arthur yang telah membantunya. Pemuda itu sepertinya bisa membungkuk semalaman jika Sophia tidak mengusirnya dengan tegas.
Setelah susah payah memanjat pakaiannya bersama Travey di bahunya, River menarik kain panjang itu dari jendelanya. Kedua lengannya bergerak cepat melepas ikatan satu demi satu pakaiannya. Selesai, ia lipat satu-satu dengan cepat.
Beres dengan pakaiannya, pemuda itu menutup jendelanya. Kait jendela ia sambungkan dengan gembok seperti semula. Saat itulah terdengar derap kereta kuda mendekati kediamannya.
Pemuda beriris cokelat itu langsung meletakkan Travey ke tempat tidurnya dan berbaring di atas kasur tipisnya. Memejamkan mata dengan paksa seolah-olah telah terlelap dalam mimpi.
Suara bahagia tiga keluarga tirinya samar-samar terdengar di telinganya, membuat River semakin memulaskan tidurnya. Karena lelah dan tubuhnya yang lemah karena hujan, pemuda itu benar-benar terlelap ketika Merina membuka kunci pintu putra tirinya.
Iris ibu tiri River itu menyorot datar, di belakang tubuhnya terdapat Gerald dan Arnold yang melongokkan kepalanya.
"Dia benar-benar tidur?"
Merina mengangguk, kembali menutup pintu kamar putra tirinya. "Dia tidur, gembok di jendelanya juga masih utuh." sahutnya tenang. Ketiganya berjalan berurutan menuruni tangga yang sempit dan berderit.
"Nona muda Naois benar-benar cantik!" puji Arnold membuka topik. Gerald di belakangnya mengangguk semangat.
"Ya! Tapi kulihat dia tadi sudah bersama seorang pria lain, katanya dia si penulis novel romansa yang dicari oleh warga Fairytale."
Merina mendengarkan percakapan kedua putranya dengan hati tenang meskipun kedua tangannya saling meremat di depan tubuhnya.
"Sejujurnya aku ingin salah satu diantara kalian menikahi gadis itu, tapi sepertinya sedikit mustahil. Jika saja aku memiliki seorang putri." keluhnya yang membuat kedua putranya terdiam.
"Ibu, bukankah Nona Ruley tidak melihat wajah si penulis itu?" celetuk Arnold membuat Merina berhenti melangkah dan berbalik dengan cepat.
Gerald yang melihat ketertarikan ibunya menyahut, "mungkin kami bisa berpura-pura menjadi salah satunya jika kediaman Naois mencari si penulis itu."
"Mencari? Kupikir Nona muda Naois sudah mengenal si penulis itu?" tanya Merina penasaran.
"Tidak ibu, aku dengar dari beberapa gadis tadi Nona Ruley baru pertama kali bertemu dengan si penulis malam ini. Lagipula, belum ada satupun warga Fairytale yang mengetahui siapa sebenarnya si penulis RV itu." jawab Arnold menggebu.
Merina melebarkan senyumnya, wanita yang kini menjanda itu berpikir bahwa mungkin ada kesempatan bagi kedua putranya untuk menjadi menantu kediaman Naois.
"Baiklah, jika memang Nona muda itu akan mencari 'pria' nya, lakukan sesuai yang kalian inginkan!"
Gerald dan Arnold saling pandang, kemudian mengangguk dengan seringaian.
"Baiklah putra-putra ibu, silakan tidur. Mimpi indah!"
-- o --
"Jadi bagaimana?"
Riley dan Ruley menatap seorang pria tua berbaju khas tukang sepatu yang tengah mengamati sepatu hitam dengan lensa sebelah matanya. Pria itu berdeham, memandang penerus Naois dan kembarannya yang tengah menyamar dengan serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasiUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
