Aula pesta yang tadinya riuh benar-benar tenang. Di tengah lautan manusia berbalut pakaian indah, Sang Raja dan keluarga Naois berjalan di celah yang telah disediakan. Iris kuning Ruley sejak awal memasuki aula istana untuk pesta tertuju pada sesosok bertopeng hitam dengan ornamen perak di sudut ruangan.
Gadis itu tak dapat menahan debaran jantungnya yang semakin kencang, rasa sesak di dada yang menyenangkan membuat seringaiannya melebar. Riley disebelahnya hanya bisa melirik kembarannya tanpa daya, pasalnya gadis itu terlihat sekali tengah memandang seseorang dengan terang-terangan.
"Tidak mau melepaskannya dari pandanganmu sebentar saja?" bisiknya menegur kembarannya. Ruley yang terus memandangi Tuan Penulisnya bahkan tak menoleh, hanya menggelengkan kepala pelan dan balik berbisik.
"Mana bisa, magnetnya terlalu kuat!" balasnya serius. Tak menyadari tawa kecil dari pamannya dan lirikan pasrah dari orang tuanya.
Mencapai sudut aula yang mulia, Sang Raja berbalik mengarah pada tamu undangan. "Silakan bangkit, dengan kedatanganku dan Naois kemari menandakan bahwa pesta perayaan akan dimulai!"
Suara musik lembut mengalun membersamai tepuk tangan yang riuh. Sang Raja mengulas senyum, menunggu suasana yang tepat sebelum meraih gelas tinggi berisi anggur manis khas Kerajaan Fairytale untuk ia angkat.
"Semoga dengan diadakannya pesta ini, kejayaan dan kesejahteraan akan selalu menyertai tanah Fairytale!"
Soarakan semakin riuh terdengar. Para tamu undangan turut menegak anggur manis di tangan mereka masing-masing setelah sang Raja meneguknya terlebih dahulu. Pria yang memiliki kekuasaan tertinggi itu kemudian menyampaikan beberapa patah kata sebagai sambutan.
Suasana aula menjadi damai, mendengarkan suara bijaksana dari sang pemimpin utama membelai rungu mereka masing-masing. Meskipun sang Raja bisa dikatakan sebagai pemimpin tunggal karena belum juga menikah dan memiliki seorang Ratu, namun kerja kerasnya benar-benar menyamai kerajaan lain yang memiliki Ratu. Karena hal inilah para rakyat dan fraksi bangsawan menyerah untuk membujuk Raja mereka untuk menikah.
"Nah, sekian sambutan dari saya. Kini aku memberi waktu untuk keluarga Naois memberikan beberapa patah kata juga?"
Ruley menyorot pamannya tajam dari balik topeng, membuat pamannya mengerlingkan mata di balik topengnya. Riley mendesah, menepuk lembut lengan kembarannya kemudian menoleh kepada orang tuanya, meminta izin untuk mewakili keluarga Naois.
Duke dan Duchess Naois mengulas senyum dan mengangguk, sepertinya mereka memang harus sudah pensiun melihat betapa cakapnya putra mereka mengurus urusan Naois.
Riley melangkah ke sebelah paman Rajanya, sosoknya yang cukup tinggi dengan tubuh tegap memberikan salam penghormatan untuk para tamu yang telah datang. Sambutan yang ia katakan tidak jauh-jauh dari ungkapan terima kasih telah datang ke pesta perayaan, terima kasih telah membantu lewat doa dan pasokan bahan makanan dalam pembasmian binatang magis, dan yang terakhir pujian serta doa untuk Kerajaan Fairytale.
Tepuk tangan kembali meriah ketika bungsu Naois menyelesaikan sambutannya, ia hendak melangkah kembali mendekati keluarganya ketika seseorang mengungkit hal yang membuatnya kesal.
"Maafkan kelancangan saya, Tuan muda Naois. Namun saya dengar bukankah Nona muda Naois mendapatkan pinangan dari pangeran kerajaan seberang?"
Seketika seisi aula terdiam, suasana kembali hening dengan bisik-bisik para tamu yang kebingungan. Riley berbalik, menyorot lurus sang penanya.
"Marquess Lorendo, apa maksud anda menanyakan hal pribadi kakak kembar saya?"
Seorang pria paruh baya dengan setelan elegannya memukulkan tongkatnya sekali ke lantai, seulas senyum ramah ia lukis di wajah tuanya. Sosoknya melangkah maju, berniat meraih atensi seisi aula.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasiUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
