o -- 13

42 6 0
                                        


Kereta kuda dengan lambang Naois bergerak stabil di tengah jalan yang lumayan padat menuju istana. Ruley yang duduk di sebelah kanan menghadap depan menopang dagu memandang keluar jendela. Iris kuningnya memantulkan cahaya lampion yang digantung oleh rakyat di sepanjang jalan.

Duke dan Duchess Naois yang duduk berdua di seberang putra-putrinya sibuk dengan dunianya sendiri. Keduanya terlihat elegan dengan pakaian serasinya. Di sebelah kiri Ruley, adik kembarnya tengah membolak-balik berkas yang diberikan ajudannya beberapa menit lalu.

Ruley mendengus, "apa itu? Apakah mendesak?" tanyanya memecah keheningan. Riley yang sibuk mengerutkan dahi membaca isi berkas di tangannya mendongakkan wajah, menolehkannya ke kanan. "Tidak begitu, hanya saja aku bosan diam di dalam kereta." cengiran manis Riley keluarkan untuk kabur dari situasi dingin kembarannya.

Gadis beriris kuning itu menyipitkan matanya, mencondongkan tubuhnya ke tubuh kembarannya. Ikut membaca berkas yang ternyata laporan keuangan untuk para Ksatria Naois. Gadis itu mengangguk-angguk, kemudian kembali memandang keluar jendela.

Riley memastikan saudari kembarnya tidak dalam mood yang jelek, sebelum mengembalikan fokusnya pda berkas di tangan. Duke Naois yang menyadari suasana damai di kereta tersenyum lega, mengulurkan tangan ke belakang tubuh istrinya.

Duchess Naois sedikit berjengit ketika lengan suaminya melingkari pinggangnya, mendorongnya kecil agar dirinya bersandar pada suaminya. Menurut, Duchess Naois merilekskan tubuhnya, menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.

Pemandangan yang tidak asing mulai muncul dari balik jendela, menandakan istana Raja sudah semakin dekat. Kereta kuda Naois masih diselimuti keheningan yang damai dan nyaman, terus berlalu karena diberi jalan utama oleh para prajurit istana.

Dengan mulus, kereta hitam itu meluncur mendahului beberapa kereta kuda lain yang berjajar di depan gerbang masuk istana. Ruley, yang sejak awal diam di dunianya sendiri tiba-tiba tersentak dengan wajah memerah.

Ketiga pasang mata Naois memandangnya bingung. 

"Ruley, ada apa?" Duke Naois membuka suara, tubuhnya secara alami memasang gestur waspada.

Ruley menggeleng, masih dengan wajah merahnya. Iris kuningnya berkilat, gadis bergaun hijau gelap itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Tidak ada apa-apa ayah, aku hanya melihat sesuatu yang menarik."

Setelah anggukan maklum dari keluarga Naois, kereta kuda kembali hening sampai seorang prajurit dengan sopan memberi intruksi untuk masuk ke dalam istana lewat pintu samping. Ruley memutar bola matanya malas, pasti pamannya meminta untuk bertemu dengan mereka terlebih dahulu dan memasuki aula pesta bersama.

Satu persatu Naois menuruni kereta kuda dengan anggun, mendapati sang Raja melebarkan lengan meminta pelukan di ambang pintu samping. Duke Naois yang sedarah dengan Raja mendekati saudaranya, mendekapnya singkat, dan mengobrol santai.

Duchess Naois melangkah mendekat, memberikan salam singkat dengan gestur tubuh yang dibalas anggukan ceria oleh sang Raja. Iris milik pemimpin utama Kerajaan Fairytale itu menyorot ponakannya jenaka.

"Kembar tidak mau menyapa paman?" godanya dengan kedua alis dinaikkan.

Riley terkekeh, memberi gestur elegan mirip dengan ibunya, dan mengucapkan salam. "Selamat malam Paman Raja, semoga berkah selalu menyertai anda." 

Raja tertawa, mendekati Riley dan merangkul bahu tegap pemuda beriris hijau itu. Sementara Duke dan Duchess Naois terlebih dahulu memasuki ruangan atas perintah sang Raja. 

"Riley, ponakanku yang sopan. Ruley, tidak mau menyapa paman?" 

Ruley mendengus, memberi salam dengan ogah-ogahan dan berlalu terlebih dahulu. Meninggalkan Riley yang meringis dan meminta pemakluman dari pamannya. Sang Raja mengulas senyum teduh, menepuk bahu lebar ponakan laki-lakinya.

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang