o -- 26: Extra

88 7 0
                                        



"Ruri, kenakan sarung tanganmu sayang!"

Suara Ruley terdengar, sosok gadis cilik bergaun hijau muda yang tengah mengusap-usap tubuh Nala beranjak mendekati sang ibu.

"Baik ibu!"

Dengan terampil, gadis cilik yang merupakan putri sulung River dan Ruley itu melapisi kedua lengannya dengan sarung tangan sesiku. Wajahnya bulat, perpaduan sempurna antara ayah dan ibunya. Iris matanya berwarna cokelat dengan surai hitam.

Saat ini mereka hendak pergi ke istana untuk menghadiri pesta tahunan yang sang Raja rayakan. Membicarakan sang Raja, sampai saat ini pun ia masih melajang. Sang ajudan bahkan sudah lama menyerah untuk membujuk atasannya menikah.

Ruley dengan gaun hijau tuanya berkacak pinggang melihat rambut berantakan putrinya, dengan tangkas, wanita itu merapikan helai hitam putrinya.

Sebuah kepangan cantik diikat dengan pita senada sangat cocok dipadukan dengan gaun anak-anak yang Ruri kenakan, gadis cilik itu kini berusia tiga belas tahun. Tumbuh dengan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya, kakek, nenek, serta paman dan bibinya.

River keluar dari kamar dengan setelan yang serasi dengan istrinya, pria itu merapikan helai hitam istrinya yang melarikan diri dari ikatan pita kecil di bagian samping.

"Cantik." bisiknya pada sang istri.

Ruley tersipu, menepuk keras lengan suaminya dan berlalu untuk menuju kereta kuda bersama putrinya. River terkekeh, menyusul istri dan putrinya dengan tenang.

Ketika keluar mansion, River mendapati dua kereta kuda lainnya tengah berhenti di sebelah kereta kuda mereka. Menaikkan sebelah alis penasaran, River melangkah mendekat.

"Ah, ayah mertua, ibu mertua."

Rupanya Duke dan Duchess Naois terdahulu tengah meminta ijin apakah Ruri boleh ikut di kereta mereka. Ruley belum menjawab, ia menunggu keputusan suaminya. Pada akhirnya, Ruri ikut dengan Duke dan Duchess Naois, sementara River berduaan dengan istrinya.

Kereta kuda Duke dan Duchess Naois berjalan terlebih dahulu, menyisakan satu lagi kereta kuda milik Riley dan istrinya. Pasangan yang belum dikaruniai putra maupun putri itu menyapa River dan Ruley, berbincang sejenak.

Ruley dan istri Riley memisahkan diri, membicarakan hal-hal yang tak ingin suami mereka dengar. Sementara Riley mendekati kakak iparnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kakak ipar,"

"Ya?"

"Aku tidak tahu apakah kakak ipar sudah mengetahui hal ini atau belum, tapi mata-mata di kediaman Anderson menangkap transaksi mencurigakan yang ibu tirimu lakukan di tengah malam."

River membeku, iris cokelatnya sempat menggelap. Lengan pria berambut cokelat itu terangkat, menepuk bahu adik iparnya dengan senyuman teduh seperti biasa.

"Terima kasih atas informasi yang diberikan, aku akan hati-hati." jawabnya tulus. Riley mengangguk, membiarkan kakak iparnya mengurus keluarga tirinya sendiri.

Ruley yang merasa aura suaminya sedikit suram memutuskan untuk mengakhiri pembicaraannya dengan istri kembarannya, keduanya saling melambai dan melangkah menuju suami masing-masing.

Lengan berbalut sarung tangan Ruley terangkat, mengelus lembut lengan suaminya yang tengah melamun di depan kereta kuda. River tersentak, mengulas senyum ketika mendapati istrinya memandangnya penuh tanda tanya.

"Ayo naik,"

River menuntun Ruley menaiki kereta kuda dengan lembut, lalu menyusul istrinya dan menutup pintu kereta kuda secara mandiri. Dapat dirasa badan kereta kuda bergerak stabil, menyusul kereta kuda sebelumnya yang telah melaju lebih dulu.

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang