o -- O2

94 8 0
                                        


River mengedipkan kedua matanya, tanpa terasa air mata mulai mengenang di kedua netranya ketika ia mengingat masa lalunya yang suram. Seulas senyum tipis pemuda itu lukis di wajahnya mengingat momen lucunya bersama Travey, tikus gendut berwarna putih yang kini bertengger di bahunya sembari menggerogoti secuil keju.

Sebelah tangannya yang bebas terulur, mengusap lembut kepala mungil si tikus dengan telunjuknya. "Beruntungnya saat itu aku menyelamatkanmu ya, kalau tidak, mungkin aku akan terus terpuruk mempercayai kebohongan wanita tua dan antek-anteknya itu." Gumam River dengan sorot mata tulus pada tikus yang kini telah melahap cuilan keju dan beralih menepuk-nepuk pipi River sembari mencicit.

Tertawa, River merasa hatinya lapang. "Yah, untung dirimu pintar memilih kertas penting." 

Singkatnya, beberapa bulan setelah Travey diselamatkan River dari pukulan sapu kedua kakak tirinya, tikus itu menjadi gendut dan berniat balas budi. Tikus putih itu merayap di pipa rumah, memasuki lemari ibu tiri River dengan melubanginya di bagian bawah, dan menggigit sepucuk kertas.

River yang saat itu tengah menyapu kamarnya tersentak mendapati selembar kertas dengan tulisan yang dikenalinya. Mendapati Travey yang mencicit di atas saluran air, River membacanya. Seketika air matanya meluap. Isakannya mulai terdengar.

Saat itulah River mengetahui fakta yang sebenarnya. Ayahnya menyayanginya, tidak pernah menyalahkannya, dan malah minta maaf karena sepertinya usianya tak lama lagi di dunia.

"River!" Sibuk melamun sembari menyusuri jalan, pemuda itu tak menyadari bahwa sedari awal sosok gadis berambut cokelat penuh gelombang meneriakkan namanya sembari melambaikan tangan kesal. "Hei pemuda tampan, tidak bisakah kau menungguku!"

Travey mencicit, menarik telinga River dan menunjuk sosok di belakang pemuda itu. River menoleh, mendapati Sophia, gadis tetangga sebelahnya yang berlari-lari dengan seorang pelayan di belakangnya. Rambut cokelat bergelombangnya melambai-lambai tersapu angin yang melawan arah Sophia berlari.

Karena Sophia semakin dekat, tikus gendut River merayap ke bawah, masuk ke dalam keranjang berisi makanan yang River bawa. Tenang saja, tubuh gendutnya selalu dimandikan River, jadi bersih. Travey tidak mau bertemu dengan Sophia, terakhir bertemu gadis itu menyiksanya dengan melemparkannya ke udara kemudian menangkapnya, terus begitu berulang kali hingga Travey memuntahkan kejunya yang telah berubah bentuk. Mabuk.

Mendapati River yang terhenti menunggunya, Sophia melebarkan senyumnya. "Mari kembali ke desa bersama!" River menggeleng maklum melihat Sophia yang kini terengah-engah dan membungkukkan tubuhnya mengumpulkan napas. 

Sosok pelayan yang membuntuti Sophia terengah-engah, menepuk lembut bahu nonanya. "Nona, tolong jangan berlari lagi. Saya sudah cukup tua untuk mengikuti anda berlari. " Cengiran manis dikeluarkan oleh gadis berambut cokelat, sebelah tangannya menumpu kedua lengan pelayannya yang sebenarnya merupakan pengasuhnya sejak kecil.

"Maaf bibi, aku hanya tidak mau ketinggalan kesempatan untuk kembali pulang bersama pria tampan." Celetukan Sophia yang dibalut godaan di akhir membuat bola mata sang bibi pengasuh melebar dan berakhir menampar lengan nona asunya.

"Nona!" Peringatnya tegas. River menghela napas dan terkekeh. "Ingat tunanganmu Sophia, tidak baik menggoda lelaki lain jika kau sudah terikat dengan lelaki yang mencintaimu sepenuh hati." Nasehat yang terlontar dari bibir River membuat senyum Sophia merekah.

"Tentu saja, Arthur sangat mencintaiku dan aku juga mencintainya. Beruntungnya kisah cintaku ini, tidak seperti pria di sebelahku yang mengharapkan gadis setinggi langit." Seringaian di akhir kalimat oleh Sophia membuat River mendatarkan wajahnya. Bibi pengasuh yang melihat sikap nonanya itu hanya menghela napas dan memijat dahinya lelah.

"Ngomong-ngomong, bagaimana ceritamu yang selanjutnya? Akan tentang apa? Persahabatan? Pembunuhan? Atau seorang pria yang mengharapkan gadis di atas langit?" Tamparan renyah lagi-lagi Sophia dapatkan, membuat gadis itu merenggut dan mencebik pada bibi pengasuhnya.

"Ayolah bibi, aku risih melihat River yang selalu mengamati gadis impiannya dari jauh tanpa berniat mengejarnya sedikitpun." Rengekan Sophia membuat bibi pengasuh melembutkan sorot matanya, beralih memandang pemuda yang merupakan sahabat nonanya lembut.

"Bibi mengerti perasaanmu, jika kau memang menginginkannya, maka pantaskanlah dirimu dan kejarlah dirinya. Cobalah dulu, jika memang tidak berhasil, setidaknya di masa depan kau tidak akan pernah menyesal karena pernah mencobanya." 

River mengangguk, pikirannya sibuk berkelana menyusun alur cerita yang telah ia siapkan kali ini. Sophia yang hapal dengan tindak-tanduk sahabatnya memiringkan kepala. "Aku menunggu ceritamu, akan aku salurkan ke toko buku yang aku percaya untuk menerbitkannya!"

Bantuan Sophia yang selalu gadis itu berikan tiap kali River menyelesaikan sebuah cerita selalu berhasil menenangkan hatinya. River mengangguk, mengulas senyum, dan menundukkan kepala. "Terima kasih, Sophia." Kemudian senyumnya ia tarik, "kuharap kau berhenti mengejekku karena aku mencintai putri Duke Naois."

Desisan peringatan River membuat gelak tawa Sophia menggelegar, menimbulkan tamparan renyah di lengan gadis itu karena menurut bibi pengasuhnya, tidak baik seorang gadis tertawa terbahak-bahak di jalanan.

Ketiganya berjalan dengan tenang menuju kediaman masing-masing, sesekali Sophia melontarkan ejekan pada River yang dibalas dengusan oleh pemuda berambut senada dengan maniknya itu. Deretan rumah yang cukup megah mulai terlihat.

Kediaman bercat putih yang elegan merupakan kediaman keluarga Rosemary. Sophia sendiri merupakan putri tunggal keluarga Rosemary. Gadis berambut cokelat itu tinggal bersama ibunya dan beberapa pelayan serta bibi pengasuhnya. Sementara ayahnya, sang Baron Rosemary jarang berada di rumah karena sibuk berdagang di luar daerah.

"Karena sudah sampai, jadi aku akan masuk duluan. Selamat tinggal River!" River membalas lambaian tangan Sophia ketika gadis itu mulai menghilang di balik pagar putih setinggi satu setengah meter. Bibi pengasuh menyusul Sophia setelah menganggukkan kepalanya pada River dengan seulas senyum.

Ketika River berbalik hendak melangkah menuju halaman kediamannya, sosok Sophia menyembulkan kepalanya dari celah pagar rumahnya dan meneriakkan sesuatu.

"River, malam bulan purnama merupakan kesempatanmu. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, aku akan mendukungmu wahai sahabat ku yang sangat kubenci!" Setelah mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan, Sophia menarik kepalanya dari celah pagar kediaman dan menutupnya.

River menegang teringat sebuah pesta topeng yang akan digelar pada malam bulan purnama sebagai penghargaan jasa Naois. "Bukankah malam bulan purnama beberapa hari ke depan juga merupakan tanggal lahir putra dan putri Duke Naois..?" River bergumam di sisa perjalanannya menuju kediamannya.

Pemuda itu tanpa sadar bersemu ketika mengingat wajah rupawan sang putri Duke Naois tadi ketika menunggangi serigalanya. Gelengan kepala kuat River lakukan untuk mengusir ingatan yang membuatnya salah fokus. Mengabaikan wajah merahnya, River membuka gerbang kediaman Anderson dengan tinggi setengah badannya kemudian menutupnya setelah ia melangkah masuk.

"Kenapa lama? Bukankah sudah kubilang anak-anakku dan aku sedang kelaparan?!!" River tersentak kaget dengan bentakan Merina yang langsung mencekik telinganya begitu ia membuka pintu. Sosok Merina melipat kedua tangan di dada, tubuh semampainya dibalut gaun ungu. Sementara Gerald dan Arnold terduduk arogan di kursi meja makan yang terlihat dari pintu masuk kediaman.

"Cepat siapkan makanan."  River yang tadinya menunduk, menganggukkan kepala. Travey sejak tadi menyelinap masuk ke dalam keranjang makanan yang River bawa omong-omong, muak bertemu dengan nenek sihir dan antek-anteknya yang selalu memarahi sahabat manusianya.

Setelah memberikan perintah, Merina berlalu menuju ruang makan. Meninggalkan River yang membuntuti di belakang menuju ruang masak. Ruang makan dan ruang masak di kediaman Anderson bersebelahan, hanya dipisahkan oleh dinding dengan sebuah lubang sebagai akses keluar masuk ruangan.


o --

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang