o -- 22

47 7 0
                                        


River membuka kedua kelopak matanya yang berat, mengerjapkannya berkali-kali hingga penglihatannya jelas. Pemuda beriris cokelat itu mendesis, mendudukkan dirinya diatas permukaan empuk kasur di bawahnya.

"River, sudah bangun?"

Suara serak khas seorang gadis mengejutkan River, pemuda itu menoleh ke asal suara dan mengerjap bingung.

"Aku di surga?"

Seketika Ruley yang baru saja terbangun dari tidurnya membeku, kemudian kulit putihnya tersembur warna merah padam.

"Diam, apakah kepalamu masih pusing?" tanya Ruley, gadis yang kini menggunakan gaun elastis dengan bagian bawah cukup lebar selutut berwarna putih gading itu beranjak dari duduknya untuk mendekati pasien di atas ranjang.

Ruley menyentuhkan punggung tangannya ke dahi River, kemudian menganggukkan kepalanya senang.

"Sepertinya sudah tidak demam, baiklah kusingkirkan dulu baskom air ini."

Gadis itu berlalu, meninggalkan River yang menampar pipi bersemunya sendiri.

"Ini bukan mimpi." gumamnya tak percaya.

Sepeninggal Ruley, pemuda itu mengamati kamar kosong yang bersih tempatnya berada. Sebuah jendela besar dengan bingkai putih terbuka, menampakkan pemandangan hijau berkabut.

"Hutan kediaman Naois?" gumamnya kagum.

Suara pintu terbuka menginterupsi River, ketika ia menoleh, sosok Ruley memasuki kamar disusul oleh seorang pelayan yang mendorong kereta makanan.

Setelah meletakkan semangkuk bubur untuk orang sakit dan segelas susu segar, pelayan yang mengikuti langkah Ruley menunduk dan berlalu pergi, meninggalkan sepasang manusia.

"Makan dulu?"

Ruley mengangkat mangkuk bubur dan menatap iris cokelat River. Ketika pemuda itu mengangguk, gadis beriris kuning itu menyendok bubur dan mendinginkannya sejenak, lalu menyuapkannya pada River.

"Kau tidur lama sekali, sekarang sudah pagi lagi." celetuk Ruley dikala suapan terakhir berhasil tandas di mulut River.

Pemuda itu menelan bubur di mulutnya, kemudian mengulas senyum.

"Maaf, fisikku lemah jika terkena air hujan."

Ruley mengerucutkan bibirnya, meletakkan mangkuk bubur yang kosong, dan beralih mengambil segelas susu yang ia serahkan pada si pemuda diatas ranjang.

"Sudah tahu fisikmu lemah, kenapa malah mengajak hujan-hujanan?" ketus Ruley kesal ketika River menerima segelas susunya dan menegaknya hingga tandas.

Pemuda bersurai cokelat itu mengeluarkan cengiran polosnya dan terkekeh lembut, "habisnya suasananya mendukung." jawabnya jenaka.

Ruley mendesah, menundukkan kepalanya. Entah mengapa tiba-tiba gadis itu merasa malu, jantungnya berdegup kencang, kepakan sayap di perutnya kembali terasa.

"Tidak mau melihatku?"

Ruley spontan mendongak dan menggelengkan kepala, "b-bukan begitu, hanya saja... Ah, kau menyebalkan!"

River tergelak menyaksikan calon istrinya yang tiba-tiba salah tingkah, pemuda itu menyenderkan kepalanya ke bantal yang ditumpuk tinggi.

"Bagaimana kedua orang tuamu?"

Ruley mengulas senyum cerah begitu mendengar River membahasnya.

"Mereka setuju, adikku juga, bahkan paman juga menyetujuinya."

"Paman? Sang Raja?" beo River terkejut, tak menyangka bahwa sang Raja sekalipun mengetahui perihal rencanyanya dan Ruley untuk hidup bersama sepanjang usia.

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang