o -- O4

57 8 0
                                        


Selesai menghidangkan makanan dan minuman ala-ala bangsawan kepada keluarga tirinya, River menaiki satu demi satu anak tangga sempit yang terbuat dari kayu menuju loteng. Pemuda berembut cokelat senada dengan warna irisnya itu mengulurkan tangan, memutar knop pintu berbentuk bulat.

Sepetak ruangan mungil terpampang di balik pintu. Dindingnya terbuat dari kayu kokoh yang tidak di cat, di salah satu sisi tergelar kasur tipis dengan kumpulan kapas dibalut kain bekas sebagai bantal. River menggunakan selembar kain yang ia jahit sendiri sebagai selimut. Di sebelah kasur tipis yang tergelar, terdapat sebuah meja dengan kursi kayu. Di dinding depan meja, tergantung sebuah papan kayu dengan lembaran-lembaran kertas yang ditancapkan menggunakan pin.

River menghela napas, melangkahkan kakinya ke dalam loteng yang menjadi kamarnya sejak perginya Steven dari kediaman Anderson. Tangan kanannya merogoh saku, mengeluarkan sepotong roti, yogurt dan air yang ia masukkan ke dalam plastik, dan sepotong keju untuk Travey.

Karena ibu tirinya, Merina selalu memiliki seribu cara untuk menyiksanya, maka River memiliki seribu satu cara untuk mengatasinya. Seulas senyum miring terlukis di wajah rupawannya. Salah satu siksaan yang sering Merina berikan adalah tidak memberinya makanan dan minuman ketika ia tidak becus atau terlambat dalam melakukan sesuatu.

"Travey, kejumu. Aku akan menulis ceritaku sebentar." Setelah mengeluarkan suara, River meletakkan sepotong keju untuk tikus gendutnya ke sebuah pecahan piring yang telah ia poles agar tidak tajam di atas meja. Kemudian ia mendudukkan dirinya dan meraih pena bulu dan beberapa lembar kertas yang ia dapat dari Sophia.

Suara mencicit terdengar, gundukan yang terlihat di sisi kanan pinggang River bergerak ke atas, merayap ke bahu si pemuda. Geli, River terkekeh kecil dan menepuk-nepuk gundukan yang kini berhenti di bahunya. "Cepat keluar, geli." Memahami keinginan River, Travey menyembulkan kepala mungilnya dari kerah baju River, merambat keluar dan turun ke meja untuk bertemu kejunya lewat lengan River.

Melihat tikusnya yang memakan keju dengan lahap, River menopang dagu dengan sebelah tangan. "Kira-kira serigala putri Naois akan memangsamu tidak ya?" Perkataan River membuat tubuh gendut Travey bergetar takut, tikus itu sampai menjatuhkan kejunya dan memandang iris cokelat di atasnya memelas.

Tertawa lepas, River menggeleng dan mengembalikan cuilan keju ke kedua tangan mungil Travey yang kaku di udara. "Bercanda, kupikir serigala Naois tidak akan memakanmu. Karena tidak mengenyangkan meskipun kau gendut sekalipun." Tukasnya riang. Travey yang mendengarnya mendengus dan melanjutkan kunyahannya.

River menghela napas, baru menyadari bahwa ia belum membuka jendela kamarnya. Pemuda itu berdiri, gesekan kursi dengan lantai kayu menimbulkan sedikit suara membuat pemuda itu meringis. Kedua kakinya melangkah menuju jendela ruangan. Kedua lengannya terulur, mendorong jendela yang tertutup.

Cahaya matahari dipadukan angin lembut berebut memasuki kamar River, melukiskan senyum lebar di wajah si pemilik kamar. Kedua kelopak mata itu terpejam, menyembunyikan iris cokelat yang menenggelamkan.

"Travey, apakah menurutmu aku harus mengikuti perayaan yang Raja gelar besok?" Pertanyaan yang sedari tadi mengusik pikirannya akhirnya River tanyakan pada Travey, tikusnya. Tikus gendut yang baru saja menelan habis cuilan keju terakhirnya mencicit dan menganggukkan kepala. River yang kebetulan menoleh memandangi Travey mengulum bibirnya ragu.

"Tapi nyonya Merina pasti akan melarangku ikut, aku yakin itu." Suara rendah River melayang di udara, dahinya mengernyit dengan sorot mata mengambang ke langit. Travey mencicit, merambat dinding untuk berdiri di ambang jendela.

River mengulurkan salah satu tangannya untuk mengelus tubuh gendut Travey yang kini bertengger di ambang jendela. Cicitan Travey terdengar, minta diperhatikan. Menurut, River mengalihkan iris cokelatnya untuk memandang tikusnya.

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang