o -- O8

45 7 0
                                        


Langkah kaki River yang tergesa menuju kediaman Rosemary membuat Travey yang bergelantungan di bahunya tersentak-sentak panik. Tikus itu sesekali mencicit marah karena ketakutannya akan terjatuh.

Tertawa, River meraih tubuh gendut Travey dan menggenggamnya di depan dada, memberikan rasa aman pada teman curhatnya sedari kecil. "Maafkan aku Travey, aku hanya ingin segera bertemu dengan Sophia untuk berkonsultasi masalah baju yang akan aku kenakan. Baju milik ayah entah hilang kemana, kemungkinan ulah wanita itu."

Melihat bangunan serba putih, iris cokelat River berkilat senang. "Karena aku yakin, Nyonya yang terhormat itu tidak akan pernah mau membelikan aku sepasang baju bagus untuk menghadiri pesta. Kemungkinan besarnya juga dia tidak akan pernah mau membiarkan aku menunjukkan diriku di acara seperti itu." 

Sesampainya di depan gerbang kediaman Rosemary, River mengatur napasnya, melepaskan Travey untuk menjemput Sophia sementara dirinya bersembunyi dulu, takutnya terpergok oleh Merida. "Dia tidak akan pernah pantas untuk menggantikan gelar Baroness Anderson yang ia rebut dari ibuku." Gumamnya geram sembari melambai pada Travey.

Saat itu Sophia tengah berbincang dengan Arthur, tunangannya. Keduanya masih menjaga jarak aman ditemani oleh sang bibi pengasuh. Rona merah di wajah sepasang tunangan itu tak dapat membohongi siapapun bahwa mereka berdua saling jatuh cinta. Bibi pengasuh mengulas senyum memandangnya.

Ketika Sophia hendak mengatakan sesuatu untuk membangun topik, dari ujung matanya ia melihat sosok putih kecil yang berlari menuju ke arahnya. Gadis itu memutar kepalanya dan membulatkan mata terkejut. "Loh, Travey?!!"

Mendengar nama laki-laki lain keluar dari bibir tunangannya, Arthur hendak memprotes namun urung ketika melihat Sophia menghampiri seekor tikus bulat berwarna putih, bukan seorang laki-laki seperti yang ia bayangkan. Pemuda berambut pirang itu berdeham malu, melirik kondisi sekitar, beruntungnya tak ada yang memergoki sikap cemburu butanya itu.

"Tikus? Apakah kamu memelihara tikus?" Tanya Arthur membuka suara ketika Sophia kembali duduk di sebelahnya dengan seekor tikus putih di tangannya. Gadis bermarga Rosemary itu menggeleng tenang, "bukan tikusku, tapi sahabatku yang sering kuceritakan padamu. Sepertinya ia berada di luar dan memerlukan bantuan. Bolehkah aku membawanya masuk?"

Mendengar izin dari tunangannya, Arthur merasa dirinya benar-benar dihargai. Kernyitan di dahinya tanpa sadar timbul, "namanya River bukan?" Arthur memastikan. Mendapat anggukan dari Sophia, pemuda pirang itu mengulas senyum lembut. "Boleh, lagipula aku juga penasaran dengan seorang pemuda yang menulis kisah romansa."

Apa yang Arthur ucapkan murni pujian, ia benar-benar kagum dengan seorang pemuda di balik nama pena RV yang sering tunangannya ceritakan dengan menggebu-gebu. Arthur juga memburu novel-novel terbitan milik RV omong-omong, menurutnya membaca novel milik RV meredakan stresnya akan pekerjaan yang tak ada habisnya.

"Baiklah kalau begitu bibi pengasuh, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?" Pinta Sophia dengan tatapan memohon. Bibi pengasuh tersenyum dan mengangguk, "tentu saja nona, serahkan kepada saya." Sosok bibi pengasuh berlalu, meninggalkan Sophia yang masih menggoda Travey dan Arthur yang memandanginya dengan senyum.

"Tidak kamu saja yang membukakan gerbang dan pintunya?" Sophia menggeleng, menatap tunangannya dengan sorot mata jenaka. "Tunanganku kan disini, untuk apa aku membuang waktu membukakan pintu demi pemuda tak ada daya juang sepertinya." Mendengar tunangannya mengejek sahabatnya lagi dan lagi, Arthur hanya bisa menegurnya lembut.

"Bukan begitu, mungkin River tengah mengalami apa yang dinamakan rendah diri." 

Memikirkan nasehat dari tunangannya, Sophia merenung. "Benar juga, sepertinya ia benar-benar rendah diri. Lihat saja, ia tak pernah merasa percaya diri bisa mengaet hati Nona muda kediaman Naois." Gumamnya menyetujui. 

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang