Ruley meletakkan pedang miliknya ke tempatnya semula, kemudian melemparkan kain yang ia gunakan untuk mengelap bilah pedangnya ke atas meja. Wanita yang kini memiliki perut buncit itu merebahkan dirinya di kursi lembut.
Kedua kelopak matanya terpejam, seiring dadanya naik dan turun untuk mengatur napas.
Beberapa bulan lalu setelah Ruley menikah dengan River, sebuah mansion dua tingkat dibangun beberapa meter di sebelah kediaman utama Naois. Seiring dengan dibangunnya mansion dua tingkat yang nantinya akan ditempati Ruley dan River, pasangan baru itu untuk sementara tinggal di kediaman utama.
Mansion milik River dan Ruley siap dihuni tepat sebulan setelah pernikahan mereka diadakan. Keduanya pindah tepat setelah mansionnya siap, sementara kediaman utama dihuni oleh Duke dan Duchess Naois serta Riley.
Meskipun gelar Duke sudah diwarisi oleh Riley sepenuhnya, kedua orang tuanya tetap membantu pemuda itu sesekali jika ia mengalami kesulitan bahkan jalan buntu.
Iris kuning milik Ruley menyorot jendela yang terbuka, mengarah pada hutan lebat milik Naois. Gadis yang kini telah menjadi calon ibu itu menyipitkan mata ketika melihat sekelebat warna putih melintas.
"Nala!" tegurnya.
Seketika kepala serigala muncul di bingkai jendela, melolong kecil dan mengibaskan ekor. Mengingat Ruley berada di lantai satu, setengah tubuh Nala terlihat sepenuhnya. Di puncak kepala Nala, sebuntal bulu putih tambahan melambaikan kaki kecilnya, menciptakan tawa kecil dari Ruley.
"Kalian disini?"
Wanita bersurai hitam itu beranjak perlahan, mendekati bingkai jendela untuk meraih serigala betinanya. Lengannya terulur, mengusak lembut bulu jernih serigalanya.
"Aku sangat merindukanmu, Nala."
Ruley membenamkan wajahnya ke dada Nala, mengusaknya lembut. Suara cicitan iri terdengar, membuat Ruley mendongak dan mendapati tikus milik suaminya meloncat ke bingkai jendela, lalu marah-marah.
Bingung, Ruley memiringkan kepala dengan dahi mengernyit.
"Hah? Kau lapar?" tanyanya bingung, bukannya mengangguk, Travey malah memunggungi Ruley.
Istri dari River itu mengedipkan mata bingung, saling pandang dengan serigalanya. Sesaat kemudian, iris kuningnya melebar paham dengan tawa kecil menyembur.
"Astaga, aku juga merindukanmu Travey!"
Kedua tangan Ruley terulur, mengusap gemas tubuh gembul milik Travey. Ketiganya bercengkrama dengan damai, ditemani semilir angin yang sejuk.
Suara langkah kaki yang familiar terdengar, telinga Nala dan Tarvey bergerak-gerak. Si tikus putih langsung berlari lincah menuju pintu yang terbuka.
Sesosok River muncul dari balik pintu. Iris cokelatnya sedikit melebar mendapati tikusnya menantinya di ambang pintu, pria itu meraih Travey, dan meletakkannya di bahu.
"Istri," panggilnya lembut.
Semu merah menghiasi wajah Ruley, perempuan itu entah bagaimana bisa belum terbiasa dengan panggilan yang River gunakan meskipun sudah banyak waktu yang mereka lalui bersama.
"Kenapa tidak menyahut?" River menggoda istrinya, mendekati sosok dengan perut buncit yang kini menenggelamkan wajahnya kembali ke dada serigalanya.
Iris cokelat River ia kontakkan dengan iris kuning Nala, menganggukkan kepalanya kecil dengan senyuman. Mengerti jika dirinya disapa, Nala menegakkan telinga dan ekornya senang dan balas menganggukkan kepala.
Lengan kekar River memeluk lembut pinggang istrinya, mengusakkan wajah tampannya ke leher istrinya gemas.
"Aku rindu." keluhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasyUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
