o -- O3

71 9 0
                                        


Lelah mengejar pamannya yang masih saja gesit di usia tua sebagai Raja, Ruley mendengus dan memutuskan untuk melepaskan pamannya kali ini. Gadis dengan helai hitam itu memutar badan dan berlalu menuju kediaman Naois. Sang Raja yang sejujurnya bersembunyi di balik tanaman serta menyembunyikan auranya terkekeh pelan melihat ponakannya yang berlalu dengan kedua kaki di hentak-hentakkan.

"Mereka sudah dewasa." Gumam pria paruh baya yang menjabat sebagai Raja Kerajaan Fairytale. "Ya, dan anda juga sudah kelewat dewasa, tetapi mengapa tak pernah berhenti untuk mencari masalah dengan nona Naois, Tuan?" Suara dingin sang ajudan membuat Raja meremang. Pria paruh baya itu perlahan-lahan menolehkan kepalanya dan mengeluarkan senyuman lebar.

"Aaah, ajudan kesayanganku. Ayo kembali ke istana, aku mau menyiapkan pesta untuk adik dan keponakanku." Sang ajudan menghela napas dan memincingkan kedua matanya. "Biarkan pekerja istana yang menyiapkannya dan kepala pelayan yang mengawasi. Anda cukup duduk diam di ruang kerja dan menggarap ribuan kertas penting. Mari, Yang Mulia." 

Sang Raja melengkungkan bibirnya ke bawah ketika jubah merahnya di seret begitu saja tanpa sopan santun oleh ajudan kesayangannya. 

"Tapi aku ingin menyiapkan pesta yang mewah untuk menghargai jasa adikku, oh pesta ulang tahun untuk keponakanku juga." Kedua bola mata sang ajudan mengerling malas, "itu mudah Yang Mulia, untuk saat ini anda pikirkan dulu kertas-kertas penting yang menunggu tanda tangan anda di ruang kerja."


Di sisi lain, tepatnya kediaman Naois. Ruley menepuk lembut tengkuk Nala, serigalanya setelah membisikkan sesuatu. Sesaat kemudian, Nala berlalu masuk ke dalam hutan lebat di belakang kediaman Naois. Gadis dengan iris kuning itu memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan langkah memasuki kediamannya.

"Ayah, bisakah ayah membujuk paman agar meniadakan perayaan yang ingin ia adakan? Itu sangat merepotkan!" Duke Naois, Duchess Naois, dan Riley yang kala itu tengah menyesap teh sembari berbincang tenang di ruang keluarga hanya bisa menghela napas.

Sang ayah, Duke Naois meletakkan cangkir tehnya dan mengulas senyum riang untuk berdiri dan menyambut putrinya. "Bagaimana? Apakah berhasil menangkap pamanmu?" Mendengar pertanyaan ayahnya, Ruley merenggut. Gadis itu membalas pelukan yang ayahnya berikan dan berjalan mendekati adik kembarnya.

"Paman menyembunyikan auranya, tidak menarik." Gadis beriris kuning itu mendudukkan tubuhnya di sebelah adik kembarnya, dengan sembrono merebut cangkir teh adiknya dan menegaknya. Riley yang kehilangan cangkir tehnya hanya menggeleng, mengambil cangkir baru dan mengisinya dengan teh.

"Untuk kali ini, turuti saja kemauan pamanmu. Toh dia sudah tua, kasihan jika tidak dituruti permintaannya." Celoteh Duke Naois yang baru saja mendudukkan dirinya ke tempat semula. Bukannya mendapatkan dukungan dari istrinya, Duke Naois malah mendapat lirikan tajam dari istrinya. Mencebik, Duke Naois merebahkan kepala ke bahu Duchess Naois.

"Aku setuju dengan ayahmu, Ruley. Namun suamiku, alangkah baiknya dirimu bersopan santun ketika membicarakan kakakmu. Ingat, dia juga Rajamu." Di ingatkan oleh istrinya dengan lembut, bonus panggilan 'suamiku', Duke Naois rasanya ingin meleleh. Kedua mata dengan iris kuning senada dengan putrinya itu berbinar penuh kasih sayang.

Ruley dan Riley mengernyitkan dahi mereka secara bersamaan, kemudian keduanya saling melirik, dan menampakkan wajah jijik. "Ayah dan Ibu menyetujui perayaan yang akan Paman Raja adakan?" Riley, si adik kembar Ruley dengan iris mata hijaunya menanyakan keputusan akhir kedua orang tuanya.

Duchess meletakkan cangkir tehnya, berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Sesekali kalian harus berbaur dengan orang lain, terutama Ruley. Ibu mengerti jika dirimu kurang nyaman setiap berbaur dengan orang lain, tetapi ibu tidak ingin dirimu sengsara di kemudian hari hanya karena tidak berbaur dengan orang lain." Ruley yang mendengar nasehat ibunda tersayangnya melipat bibir. 

"Nak, manusia itu makhluk sosial. Kita harus berbaur dengan manusia lain ketika hidup, agar kematian kita tidak sepi." Riley melipat bibir, berusaha menahan tawanya, Duchess menyangga dahi dengan sebelah tangan, dan Ruley menatap ayahnya terharu. Memang pada dasarnya Ruley dan Duke Naois ini sepemikiran.

"Tapi ayah, aku kan memang suka kesepian." Duke Naois yang mendengar tanggapan putrinya mendatarkan wajahnya, memilih untuk menyembunyikan wajahnya di bahu istrinya. "Istriku, lihat putrimu itu." Keluhnya kesal.

Duchess mengulas senyum geli, mengusap helai cokelat suaminya, dan memandang putrinya lembut. "Coba dulu ya. Ibu pikir kau hanya tidak menyukai putri para bangsawan, karena itu untuk perayaan besok pamanmu mengundang rakyat biasa juga. Lagipula, kan ada adikmu."

Setelah memikirkannya, Ruley akhirnya mengangguk. Benar, yang ia tidak suka hanyalah putri-putri kaum bangsawan lain yang sibuk memamerkan harta dan saling menyindir. Meskipun tidak semua bangsawan menyebalkan, tetap saja yang ditemui Ruley putrinya menyebalkan semua.

Suatu ketika, Ruley pernah di undang ke sebuah pesta teh oleh salah satu putri seorang bangsawan. Karena itu undangan pertamanya, Ruley menyiapkan gaun dengan sepenuh hati. Ketika sampai di pesta teh, bukannya bahagia, Ruley malah tersiksa. Sejak awal kedatangannya, Ruley hanya dijadikan bahan candaan dan sindiran oleh para putri bangsawan yang datang ke pesta teh tersebut.

Sejujurnya, para putri bangsawan itu iri dengan Ruley. Di pesta teh, mereka mempermalukan Ruley hingga gadis itu pulang ke kediaman dengan basah kuyup. Riley yang melihat kembarannya diperlakukan seperti itu tentu saja mengamuk. 

Pemuda berwatak lembut dan elegan khas ibunya itu mencabut pedang dan hendak melaju ke kediaman putri penyelenggara pesta teh. Ruley dengan gaun beratnya terseret ketika mencegah adik kembarnya. Beruntung, Duchess dan Duke yang kala itu baru saja pulang dari kunjungan mereka ke istana baru saja turun dari kereta kuda dan langsung menahan Riley.

Mengingatnya, Ruley memutar bola matanya. "Seharusnya dulu aku membiarkanmu memenggal kepala mereka satu persatu." Riley yang kala itu tengah menyesap tehnya dengan tenang seketika tersedak. Kedua mata dengan iris hijau seperti ibunya itu melebar.

"Sayangnya, aku bersyukur tidak jadi memenggal kepala mereka walaupun memang mereka minta dipenggal." Riley menanggapi dengan tenang sembari membersihkan cipratan teh dari dagunya. "Ayah, Ibu, Ruley, aku pergi dulu. Ada yang harus kulakukan." Pemuda dengan iris biru itu berdiri ketika seorang pria yang merupakan ajudannya memberi suatu isyarat. Setelah membungkukkan tubuhnya, ia berlalu dengan sang ajudan di sisinya.

Duke dan Duchess Naois tak dapat menyembunyikan sorot mata bangga ketika melihat putra mereka mulai sigap menanggapi urusan Naois. Duke Naois mengerlingkan matanya, "istriku, sepertinya kita bisa berlibur dan menyerahkan tugas Naois pada Riley." Duchess Naois mengulas senyum, terkekeh lembut dan mencubit hidung suaminya.

"Lalu, kemanan kediaman bagaimana?" Duke Naois melirik putrinya yang ternyata tengah memandang mereka dengan sorot mata jijik. "Kan ada putri kita. Siapa yang berani melawan putri kita dan serigalanya?" Tanggapan ayahnya membuat Ruley memutar bola matanya.

Gadis dengan iris kuning itu melambaikan sebelah tangannya. "Jika ayah dan ibu ingin berlibur, pergi saja. Kediaman pasti aman di tanganku dan Riley." Duke Naois memikirkan suatu skenario di kepalanya, kemudian tersentak dan menggelengkan kepala.

"Tidak, tidak. Tidak jadi, ayah percaya kepada Riley tapi tidak kepadamu wahai putri ayah!" Mendengar ralat dari ayahnya, Ruley mengernyit tak suka. Gadis itu mendongakkan kepala angkuh dan menggeram kesal.

"Kenapa ayah pilih kasih sekali sih, ibu, lihat ayah!" Gadis dengan iris kuning itu merengek pada wanita yang melahirkannya. Duchess Naois yang menghadapi ocehan dua bayi besarnya hanya menggeleng kepala dengan dahi yang ia pijat lembut. 

"Yah.. Riley benar, di kediaman ini yang bisa diandalkan hanya Duchess dan putranya."

Setelah mengungkapkan pendapatnya, Duchess Naois berlalu begitu saja meninggalkan suami dan putrinya yang mematung.

"LOH SAYANG?!!" Teriakan Duke Naois menggelegar, disusul pula dengan teriakan putrinya.

"IBUUU!"


o --

Destroying Fairytale: CinderellaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang