Cukup lama Ruley dan Riley menanti, sampai-sampai para pelayan yang lewat terburu-buru mengambilkan sepasang kursi dan sebuah meja, lalu mengisi meja dengan dua cangkir teh serta kudapan-kudapan manis.
Ruley menggigit kue manis di tangannya, entah kue yang keberapa. Iris kuningnya tak lelah memandangi tiga sosok yang terlihat berbincang serius. Di sebelahnya, Riley menumpu sebelah kakinya ke kaki lainnya, menyandarkan punggung dengan santai, dan menyeruput teh di cangkirnya.
"Tenang saja, ayah dan ibu tidak mungkin memakan calon suamimu." celetuknya tiba-tiba.
Ruley mendengus mendengarnya, melahap kue di tangannya dalam sekali suap, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Aku penasaran apa yang ingin River bicarakan dengan ayah dan ibu." keluhnya.
Riley menggelengkan kepala sembari tertawa kecil, "nanti juga pasti kita diberitahu, tunggu saja." hiburnya.
Tak lama setelahnya, Duke Naois terlihat menganggukkan kepala. Sosok River terlihat mengulas senyum lebar dan berkali-kali membungkukkan kepalanya. Kemudian, Duchess Naois memusatkan pandangan ke tempat putra-putrinya berada.
Wanita bergelar Duchess itu melambaikan tangan, memberi isyarat pada si kembar untuk datang ke sana.
Ruley yang tadinya hendak menggigit satu kue lagi langsung meletakkan kuenya kembali ke atas nampan, menegak tehnya hingga tandas, lalu melangkah cepat menuju ayah, ibu, dan calon suaminya berada.
Di belakangnya, Riley menyelesaikan gigitannya pada kue di tangan, kemudian memberi pesan pada salah satu pelayan untuk membereskan kursi-kursi dan sebagainya. Barulah pemuda itu menyusul saudari kembarnya.
"Duduk."
Si kembar menurut, keduanya duduk di kursi kosong yang mengapit River. Kemudian, Ruley dengan ragu-ragu mengeluarkan suaranya.
"Jadi... ada apa?" tanyanya.
Duke Naois dan Duchess Naois saling pandang, mengulas senyum.
"Mari ke istana untuk meminta akta nikah dan melaporkan tanggal pernikahan, namun sebelum itu kami ingin kalian mendengar keputusan River. Ini berkaitan dengan hidup kalian ke depannya."
Mendengar penjelasan ibunya, si kembar mengernyitkan dahi. Duchess Naois mengulurkan tangannya mempersilakan River menjelaskan apa yang ia minta, sementara Duke Naois hanya diam mengamati saja.
"Jadi, aku ingin ke depannya jika aku dan Ruley memiliki putra atau putri, mereka akan menggunakan marga Naois."
Riley sempat mengernyit, bukankah hal tersebut malah bisa berbahaya jika dirinya juga memiliki seorang putra atau putri? Takutnya si kecil akan berebut gelar Duke Naois dan terjadi pertumpahan darah yang tidak diinginkan.
"Bukan berarti aku membiarkan putra atau putriku nanti akan berencana merebut gelar Duke Naois, hanya saja jika ke depannya ibu tiri dan saudara tiriku mendengar putra atau putriku memiliki marga Anderson, takutnya mereka akan berpikir bahwa aku membesarkan putra atau putriku untuk merebut perdagangan milik ayahku."
Mendengar pembelaan calon suaminya, bukannya memahaminya, Ruley malah semakin bingung.
"Kau... membiarkan mereka menguasai perdagangan milik ayahmu?" tanyanya heran.
"Setengah iya, setengah tidak. Iya karena aku ingin mereka yang mengurusnya, tidak karena kemungkinan besar aku akan mendapat keuntungannya di masa depan."
Si kembar hendak mengajukan beberapa pertanyaan yang tergiang-giang di pikiran mereka, namun urung ketika Duke Naois melebarkan senyum, dan tertawa.
"Putra-putri ayah, tenang saja. Percayalah semua yang River lakukan tidak akan berdampak buruk, jikapun iya, itu tidak akan membahayakan kita." hiburnya tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destroying Fairytale: Cinderella
FantasiUntuk menghargai jasa Duke dan Duchess Naois yang telah memburu monster magis selama lima tahun, sang Raja mengadakan sebuah pesta perayaan sekaligus pesta ulang tahun keponakannya yang boleh dihadiri oleh keluarga bangsawan maupun rakyat biasa. Sta...
