[DISARANKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
Perebutan kekayaan dan harta warisan sering sekali terjadi. Apalagi pada keluarga kaya seperti keluarga Kim ini. Memang benar, kini perdebatan tengah terjadi dalam keluarga tersebut. Tapi perdebatan kali ini...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 💝
Malam sudah tiba, Namjoon dan Hoseok sebenarnya sudah kembali dari sore hari tadi—tepatnya jam 5. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk mempercayai JW Company dan bersedia menandatangani kontrak kerjasama antara perusahaan. Meskipun ada hal janggal dikarenakan ucapan dari Jeon Uk—ayah dari pemilik perusahaan itu.
Sekarang mereka berdua tengah berada di taman belakang dengan ditemani secangkir coklat hangat. Setelah sesapan kedua, mereka memulai pembicaraan yang dari tadi masih tertinggal dalam benak masing-masing karena belum sempat terucapkan saat rapat sedang berlangsung.
Pasalnya, mereka akan menanyakan hal tersebut pada orang yang membuat semua ini janggal. Tapi Jeon Wook melarang mereka dengan alasan ayahnya iri karena kalah saing dengan perusahaan anaknya sendiri.
"Jadi bagaimana? Apa kau tidak merasa janggal dengan ucapan Wook? Apa cuma aku saja yang merasa ada yang disembunyikan dari kita?" tanya Namjoon pada Hoseok yang masih menyesap coklat hangat kesukaannya.
"Kurasa ada benarnya juga kenapa ayahnya bisa seperti itu, karena kita tahu sendiri betapa jayanya JW Company di lingkungan perusahaan-perusahaan lainnya. Padahal mereka bisa disebut startup. Begitupun dengan Wook, dia masih sangat masih muda untuk bisa mendirikan perusahaan itu dengan bekerja sangat keras," jawab Hoseok.
Namjoon menjentikkan jarinya, lalu berkata, "justru itu adalah hal yang janggal bagiku, bagaimana bisa dia menjalankan perusahaan yang baru dimulai dengan sangat baik tanpa ada campur tangan ayahnya yang bisa kita sebut juga sebagai seorang pebisnis. Aneh bukan?"
Hoseok menyatukan kedua alisnya serius. Benar juga apa yang kakaknya bilang, ini semakin tidak masuk akal.
"Memang sih, tapi sudahlah. Kita coba percaya saja dengan Jeon Wook. Ini adalah pilihan yang terbaik."
Namun lagi-lagi Hoseok membuat pernyataan untuk bisa meyakinkan bahwa perusahaan tersebut adalah pilihan yang benar bagi mereka untuk bekerja sama mengingat teman-temannya yang semakin berkembang pesat setelah bekerja sama dengan JW Company.
Baiklah, Namjoon akan mempercayai rekan bisnis barunya tersebut. Sementara Namjoon yang akan memulai bisnis barunya, Jungkook pun juga akan memulai bisnis barunya bersama Taehyung. Bisnis tersebut bukanlah bisnis biasa, bisnis ini sangat luar biasa.
"Jadi bagaimana rencana kita, Baby Koo? Ari yuu rediii?" tanyanya pada Jungkook dengan pelafalan bahasa inggris yang salah.
Jungkook yang tidak tahu artinya pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sebenarnya dari tadi siang—sepulang sekolah—mereka merencanakan akan membuat Jimin bermain bersama-sama, tetapi anak itu hanya berbaring ditempat tidur setengah hari ini.
Taehyung merekrut Jungkook sebagai rekan bisnisnya. Sedangkan jungkook hanya diiming-imingi cookies coklat sudah menerima bisnis tersebut. Katanya sih bisnis mereka adalah membuat Kim Jimin ikut bermain menata lego bersama-sama. Karena mereka butuh otak dan Jimin adalah yang Taehyung butuhkan.
Kini mereka memulai bisnisnya; pertama Jungkook memasuki kamar Jimin yang tidak terkunci, kemudian berpura-pura kesakitan karena Taehyung bermainnya secara kasar.
"Awww, atit tetali huwaaa," ucapnya dan berpura-pura menangis hingga membuat Jimin terkejut dan kini berganti posisi menjadi duduk.
"Baby Kookoo kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Jimin khawatir dan menuruni ranjang untuk mendekatkan dirinya pada Jungkook.
Dan kini adalah saat dimana rencana kedua; yaitu menangkap Jimin dengan peralatan yang dibawa Taehyung. Taehyung sudah bersiap-siap dengan selimut ditangan.
Hap!
Kena, Jimin masuk di dalam perangkapnya. Artinya bisnis mereka sukses. Taehyung dan Jungkook kesenangan dibuatnya. Hingga membuat Jimin mengerutkan dahinya mencerna apa yang sedang terjadi.
"Jadi, Baby Koo baik-baik saja?" tanya Jimin dengan nada yang diupayakan sebaik mungkin agar tidak marah.
Namun Taehyung semakin menjadi karena menarik tubuh Jimin yang terlilit selimut hingga kaki mungil Jimin terpleset dan membuatnya tertarik dengan posisi badannya tertidur di lantai. Pada saat itu lantai berbunyi sangat keras, begitupun suara tangisan anak kecil yang menjadi korban rencana bisnis Taehyung kali ini. Otomatis Taehyung langsung berhenti menarik selimutnya dan membuka selimut untuk memeriksa keadaan Jimin.
Mendengar suara tangisan yang sangat kencang, orang tua mereka pun berlari mencari sumber suara. Ternyata berada di depan pintu kamar Jimin.
"Astaga, apa yang terjadi?" khawatir Seokjin saat pertama kali melihat keadaan Jimin yang tengah memegang kepalanya dengan tubuh bergetar kesakitan.
"Ada apa ini?" tanya Hoseok dan Namjoon bersama-sama.
"Hyung, apa yang terjadi?" Itu Yoongi yang baru saja selesai mandi, bahkan dia datang masih dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya.
"Tidak tahu, aku datang Jimin sudah menangis," jawabnya sembari mengangkat tubuh mungil Jimin dan membawanya dalam dekapannya. "Mungkin tadi mereka tidak berhati-hati saat bermain," lanjutnya.
Jimin yang tidak mau disalahkan pun membela dirinya. "Baby Taetae yang membuat aku terjatuh Appa! Dia yang menarik selimutnya dan membuat kaki Ncim kepeleset sampai jatuh."
"Astaga, kau ini ada-ada saja, Kim Taehyung. Sekarang masuk ke kamar mu! Bisa tidak sih, tidak membuat onar satu hari saja, ha?!" bentaknya cukup keras pada Taehyung hingga Taehyung tersentak kaget.
Ia berjalan menuju kamarnya dengan suara tangisan yang keras juga bantingan pintu. Membuat Jungkook yang tidak tahu apa-apa juga ikutan menangis dan memeluk kaki ayahnya takut.
Jadi sekarang adalah lomba ajang menangis siapa yang paling keras menangis dialah pemenangnya. Bercanda, tapi benar rumah mereka jadi sangat ramai karena tangisan anak-anak.
"Maafkan Taehyung ya, Hyung. Dia memang nakal sekali entah menurun dari siapa. Aku nanti akan memarahinya supaya tidak bermain seperti itu lagi," tutur Yoongi yang merasa bersalah atas kelakuan anak satu-satunya itu.
"Tidak apa-apa, Yoon. Tapi aku minta tolong bicarakan baik-baik saja, jangan memarahinya apalagi membentaknya seperti tadi. Ia akan memiliki rasa sakit hati, takut, dan sedih. Bahkan bisa memengaruhi kesehatan mentalnya. Kita tidak boleh bersikap dewasa kepada anak kecil. Mereka tidak tahu apa-apa jadi aku mohon dengan sangat bicaralah baik-baik pada Taehyung. Dia pasti tidak akan tahu kalau hal seperti ini akan terjadi," ujar Seokjin penuh dengan wejangan untuk sang adik.
Memang benar, kita tidak boleh menjadi orang dewasa kepada anak kecil. Karena mereka tidak tahu apa-apa dan masih polos. Namun kita juga harus tetap bisa memberikan contoh yang baik untuk mereka. Banyak contoh hal baik tersebut, daripada memilih memaki-maki anak yang tidak tahu apa-apa.