ALWAYS C. 15 || Keharmonisan Palsu?

212 143 111
                                        

Haiii Readers!!

ALWAYS C. 15 || Keharmonisan Palsu?

----

----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ALWAYS

Pagi tiba, begitu cerah seperti pagi biasanya, sinar matahari lembut menembus celah-celah dedaunan, menyinari halaman yang luas di dalam hutan, embun masih menempel di rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tenda, memantulkan cahaya pagi sehingga terlihat seperti butiran kristal kecil yang berkilauan, udara terasa segar, dengan aroma tanah basah yang khas, membawa ketenangan setelah malam yang dingin.

Di halaman itu, beberapa dari mereka mulai bergerak dengan cekatan, membereskan tenda-tenda dan peralatan camping mereka, suara obrolan ringan dan tawa terdengar sesekali, mengiringi kesibukan pagi itu.

"Udah siap semua kan?"tanya Gavin, ia menatap satu persatu teman-temannya secara bergantian, saat mereka telah selesai mengepak barang masing masing.

"Udah siap Vin" jawab Ezakiel, kemudian di angguki oleh Falenza dan Amora tanda bahwa mereka juga telah selesai mengepak barang dan membereskan area camping.

"yaudah, tapi kalian cek lagi dulu gih, jangan sampe ada yang ketinggalan, gue gak mau yah harus balik kesini lagi kalau di antara kalian kehilangan barang" perintah Gavin sembari kembali memeriksa barang bawaannya sendiri.

Disaat beberapa dari mereka mulai memeriksa kembali barang bawaan masing masing, Samuel—bukannya memeriksa barang bawaannya, ia malah hanya berdiri, menatap Alana yang kini tengah duduk termenung di atas bongkahan batu besar yang tak jauh dari dirinya berdiri saat ini, ia tersenyum tipis, sinar matahari lembut yang menyinari wajahnya, serta angin pagi yang berhembus menerbangkan helaian rambut gadis itu, lagi dan lagi membuatnya kembali merasa jatuh, hanya dengan menatap wajah tenang gadis itu, ia juga bisa merasakan kehangatan tersendiri di dalam hatinya.

"Alana" panggil Samuel lembut, laki laki itu berjalan menghampiri Alana yang kini tampak masih duduk di atas bongkahan batu  besar seraya termenung.

"kaki lo gimana? Masih sakit gak?"tanya Samuel.

"Udah mendingan El" jawab Alana, gadis itu sedikit menggerakkan kakinya, menegaskan bahwa kakinya yang terkilir saat jatuh dari lubang kemarin sudah tidak terlalu terasa sakit. Namun gerakan Alana yang penuh hati-hati dan wajahnya yang sedikit meringis tak luput dari penglihatan Samuel.

"lo yakin kuat jalan, jarak hutan yang mau kita lewati jauh banget, Na?" tanya Samuel, memastikan.

"Mungkin.."jawab Alana pelan seraya mengangguk ragu.

"Woi lo berdua, Sini! Udah mau balik nih, berduaan mulu perasaan, lama lama kita tinggal lo berdua" teriak Gavin memanggil Samuel dan Alana, laki laki itu menggelengkan kepalanya, menatap malas seraya berdecak pinggang kala melihat Samuel dan Alana.

ALWAYS (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang