Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
4 years later...
Empat tahun penuh perjuangan akhirnya membawa Alana ke hari ini-hari yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam benaknya. Kini, ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan senyum haru.
Alana mengenakan toga hitam yang terbuat dari kain halus, menjuntai dengan anggun di tubuhnya. Di balik toga itu, ia memakai kebaya berwarna biru muda dengan detail bordiran emas di bagian lengan dan lehernya, membentuk pola yang elegan. Kain batik bernuansa biru dan coklat membalut kakinya dengan rapi, berpadu sempurna dengan kebayanya.
Selempang beludru hitam dengan tulisan emas "Alana Carolline S.Psi." melintang di dadanya, menjadi simbol dari kerja keras dan pengorbanannya selama empat tahun terakhir. Topi toga dengan tali berwarna keemasan bertengger di kepalanya, melengkapi penampilannya sebagai seorang sarjana psikologi.
Rambutnya disanggul sederhana, memperlihatkan leher jenjangnya dengan riasan wajah yang tidak berlebihan, hanya sapuan makeup natural yang menonjolkan kecantikannya yang elegan. Sepasang anting kecil berkilauan menghiasi kedua telinganya, sementara di pergelangan tangan kanannya melingkar gelang pemberian Alea dan Kirana empat tahun lalu-gelang yang tetap ia simpan sebagai pengingat akan keluarganya.
Alana menghela napas panjang. Hari ini bukan hanya tentang selebrasi, tetapi juga tentang sebuah akhir dan awal baru dalam hidupnya. Matanya berbinar saat menyentuh selempangnya, membiarkan momen ini benar-benar meresap dalam dirinya.
"Papa, Alana berhasil," batinnya sambil tersenyum kecil.
-o0o-
Empat tahun bukan waktu yang singkat, dan Alana tahu betul bagaimana perjuangannya hingga bisa duduk di sini, di antara ratusan wisudawan lainnya, dengan selempang bertuliskan "Alana Carolline S.Psi." melintang di dadanya.
Perjalanan menuju titik ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ia ingat betul hari-hari panjang penuh tugas, membaca jurnal hingga larut malam, berdiskusi dengan dosen yang terkadang sulit ditemui, hingga presentasi di depan kelas yang menuntut kepercayaan diri penuh. Setiap semester, tantangan baru datang silih berganti-mata kuliah yang semakin sulit, praktikum yang melelahkan, dan laporan-laporan yang seakan tak ada habisnya.
Saat KKN, ia harus tinggal di desa terpencil, membantu masyarakat dengan berbagai program sosial yang ia dan timnya rancang. Ia belajar banyak tentang kehidupan, tentang bagaimana teori psikologi yang ia pelajari di kelas bisa benar-benar diterapkan untuk membantu orang-orang di dunia nyata.
Namun, puncak dari semuanya adalah skripsi dan sidang akhir. Berbulan-bulan ia bergelut dengan penelitian, berkali-kali revisi hingga malam-malamnya lebih banyak dihabiskan di depan laptop dibandingkan di tempat tidur. Rasa lelah, frustrasi, bahkan ingin menyerah sempat menghampiri, tapi ia tahu ia tidak bisa berhenti di tengah jalan. Ia harus menyelesaikannya-bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mendiang ayahnya, untuk Mahen, untuk ibunya, untuk Alea.