ALWAYS C. 23 || Ujian Kelulusan

47 32 0
                                        

ALWAYS C. 23 || Ujian Kelulusan

 23 || Ujian Kelulusan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ALWAYS

Di lorong sekolah yang panjang, sekelompok siswa-siswi kelas 12 SMAN Lentera Bangsa berdiri mengerumuni papan mading sekolah. Suasana pagi itu terasa tegang, bercampur dengan bisik-bisik kecil yang menyusup di antara hembusan napas mereka.

Di papan pengumuman yang penuh dengan berbagai kertas tempelan, ada satu lembar yang paling menyita perhatian-jadwal mata pelajaran ujian kelulusan. Nama-nama mata pelajaran tertata rapi dengan tanggal yang telah ditentukan. Beberapa siswa mendekat, hampir menempelkan wajah ke papan, mencoba memastikan bahwa mereka tidak salah membaca.

"Gila! Ini serius hari Senin a.k.a hari pertama ujian langsung disambut sama Bahasa Inggris, Fisika, plus Matematika?!" pekik Amora dengan suara nyaring, matanya membelalak tak percaya dengan jadwal mata pelajaran di depannya.

"Ini mah bukan ujian kelulusan, ini pembunuhan berencana," desis Alana sambil menggigit bibir, dahinya berkerut penuh kecemasan.

Gavin yang berdiri di belakang mereka seketika menghela napas berat kala selesai membaca jadwal ujian itu. "Hadeh... mana gue bego lagi di mata pelajaran keramat ini," gumamnya putus asa, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Samuel, laki laki yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya buka suara. "Tapi kan setidaknya ada Bahasa Inggris di jam pertama. Itu bisa jadi pemanasan," ujarnya santai, meski matanya tetap menatap kertas jadwal itu dengan seksama.

"Pemanasan gigi lo, Sam!" ketus Ezakiel, langsung menatap Samuel tajam. "Pemanasan apaan coba bentukannya kayak gini? Udah pusing duluan gue yang ada," lanjutnya, sambil memijat pelipisnya.

Falenza, yang sejak tadi diam, akhirnya juga bersuara. "Kalau nggak belajar dari sekarang, bisa habis kita," ucapnya serius.

Ucapan itu langsung mengundang tatapan heran dari Amora dan Alana.
"Tumben lo khawatir, Len? Biasanya santai-santai aja tuh. Ya kan, Na?" ucap Amora sembari melirik Alana, yang langsung mengangguk setuju.

Falenza menghela napas pelan. "Gue nggak nyangka aja jadwal ujiannya bakal segini gila. Terus siapa yang nggak gugup coba kalau ujian yang bakal jadi penentu kelulusan kita diadakan bentar lagi?"

Alana menggigit bibirnya, matanya kembali menatap jadwal dengan perasaan semakin berat. "Lo bener, Len... gue jadi takut deh," lirihnya.

Samuel yang sedari tadi berdiri di samping Alana sontak melirik, menyadari kegugupan di wajah gadis itu lantas menepuk lembut pundak gadis itu. "Nggak usah takut, Na. Gue yakin lo bisa. Ingat aja semua yang udah gue ajarin," ujarnya dengan nada lembut, nyaris menenangkan.

Alana terdiam sejenak, kemudian mengangkat pandangannya perlahan. matanya bertemu dengan sorot mata Samuel yang penuh keyakinan. Ada sesuatu di sana-kepercayaan dan ketenangan yang entah kenapa sedikit menular kepadanya.

ALWAYS (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang