Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Matahari hampir tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di permukaan laut. Langit berubah menjadi perpaduan jingga, ungu, dan merah yang begitu indah, seolah melukiskan akhir dari hari yang penuh kenangan.
Di tepi pantai, Alana berdiri sendiri, membiarkan air laut menyentuh kakinya yang telanjang. Pandangannya tertuju pada teman-temannya yang masih bermain, tawa mereka bercampur dengan suara ombak yang datang dan pergi.
Namun, hatinya terasa berat.
Perlahan, langkah kaki terdengar mendekat. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
Samuel berhenti di sampingnya, menjejakan kaki di pasir yang mulai dingin. Sejenak, ia hanya berdiri di sana, menatap laut yang sama dengan Alana, sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan namun pasti, "Jadi ini alasan lo ngajak gue ke sini?"
Alana menggigit bibirnya, menunduk sedikit sebelum akhirnya mengangguk. "Maaf, El..." suaranya hampir tenggelam dalam suara ombak.
Samuel tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, lalu tanpa ragu, tangannya terangkat dan dengan lembut menepuk pucuk kepala Alana.
"Gue nggak butuh permintaan maaf, Na," katanya dengan senyum kecil. "Gue cuma mau lo janji satu hal."
Alana mengangkat wajahnya, menatap Samuel dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa?"
Samuel menatapnya dalam-dalam, memastikan bahwa Alana benar-benar mendengar setiap kata yang akan ia ucapkan.
"Hidup lo di sana harus lebih baik. Lo harus kejar impian lo, jangan setengah-setengah. Lo harus bahagia, lo gak boleh sering nangis di sana, terlebih gak ada gue di sisi lo. Setidaknya, gue tau lo bakalan bahagia di sana, dan itu udah cukup buat gue" katanya dengan suara yang hangat namun penuh ketegasan.
Alana menggigit bibirnya, merasakan dadanya semakin sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya.
Dan sebelum ia sempat berkata apa-apa, Samuel kembali tersenyum—senyum yang selalu bisa membuatnya merasa lebih tenang.
"Gue bakal tetap di sini," lanjutnya. "Nungguin lo."
Alana menatapnya, seolah mencari kepastian di balik kata-kata itu. Tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan.
Perlahan, matahari tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit yang semakin gelap.
Dan di bawah cahaya senja yang mulai redup, Alana menyadari satu hal—perpisahan ini tidak akan mudah.
Alana tersenyum, meski air matanya masih menggantung di sudut matanya. Ia menatap Samuel dalam-dalam, menyimpan semua kata-katanya di dalam hati.
"Gue janji, El," katanya akhirnya, suaranya pelan namun penuh keyakinan. "Gue bakal hidup dengan baik di sana, gue bakal kejar impian gue, gue pastiin lo gak bakalan kecewa sama penantian lo."