Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Beberapa bulan telah berlalu. Kini, Alana telah resmi menjadi mahasiswi di universitas impiannya. Segala proses panjang telah ia lewati—pendaftaran, tes, hingga ospek yang cukup melelahkan. Namun, semua itu terbayar saat ia akhirnya berdiri di depan gedung fakultas psikologi, tempat ia akan menghabiskan beberapa tahun ke depan untuk mengejar mimpinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, meresapi udara pagi Yogyakarta yang sejuk. Gedung di depannya tampak megah, berpadu dengan nuansa akademik. Mahasiswa berlalu-lalang di sekitar halaman, beberapa sibuk mengobrol, yang lain berjalan tergesa-gesa menuju kelas.
Alana tersenyum tipis
Dulu, ini hanyalah angan-angan—mimpi yang ia ceritakan pada ayahnya, tanpa tahu apakah suatu hari ia benar-benar bisa mencapainya. Namun, kini ia ada di sini, di tempat yang seharusnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tangannya meraba gelang tenun yang diberikan Kirana beberapa bulan lalu, mengingat semua yang telah membawanya sampai ke titik ini. Perjalanan panjang, perpisahan, dan juga… seseorang yang menunggunya di tempat lain.
Dengan langkah penuh keyakinan, ia melangkah memasuki gedung fakultas, memulai babak baru dalam hidupnya.
—o0o—
Alana melangkah perlahan menyusuri lorong fakultasnya, menikmati setiap detail bangunan yang kini akan menjadi bagian dari hari-harinya. Suasana kampus di pagi hari begitu hidup—mahasiswa berlalu-lalang, beberapa sibuk menghafal materi di depan kelas, yang lain bercengkrama di bawah pohon rindang.
Namun, di tengah lamunannya, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang dengan cukup kuat hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.
Alana hampir tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Satu detik ia sedang menikmati suasana kampus, dan di detik berikutnya tubuhnya sudah hampir mencium lantai.
"Astaga! Maaf! Maaf banget!" Suara panik seorang laki-laki menyadarkannya. Ia buru-buru mengangkat wajah dan menemukan seorang laki laki bertubuh tinggi dengan kacamata bertengger di hidungnya menatapnya dengan ekspresi cemas. Tanpa ragu, laki-laki itu segera mengulurkan tangan, membantu Alana berdiri.