ALWAYS C. 24 || Retak

53 35 4
                                        

C. 24 || Retak

 24 || Retak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ALWAYS

Hari demi hari berlalu, membawa kelelahan dan harapan yang saling bertautan. Ujian kelulusan kelas 12 di SMAN Lentera Bangsa kini hampir mencapai garis akhir, hanya tersisa dua hari lagi sebelum segalanya benar-benar usai.

Ruang-ruang Ujian yang sebelumnya dipenuhi ketegangan kini mulai terasa lebih ringan, meskipun sisa tekanan masih menggantung di udara. Para siswa telah mengerahkan segenap usaha mereka, menumpahkan semua yang mereka pelajari selama tiga tahun terakhir ke dalam lembar jawaban yang menentukan masa depan mereka.

Kini, jam istirahat tiba. Di sudut kantin yang sedikit lebih sepi, Samuel dan Alana duduk berseberangan, menunggu Amora, Ezakiel, Gavin, dan Falenza yang belum juga datang. Sambil menyeruput minumannya, mereka membahas ujian Bahasa Indonesia dan Kimia yang baru saja mereka lewati.

"Tadi soal esai Bahasa Indonesia lumayan gampang sih, tapi Kimia..." Alana menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke meja. "Gue kayak ditampar kenyataan, liat soal pertama aja nyawa gue serasa kecabut sedetik."

Samuel menatapnya dengan seksama. Sejak tadi, Alana terlihat jauh lebih lelah dari biasanya. Kantung mata yang menggelap dan sorot matanya yang redup membuatnya tampak seperti sudah melewati hari-hari tanpa istirahat yang cukup.

Sebelum Samuel sempat berkata apa-apa, tiba-tiba pengumuman terdengar melalui pengeras suara. Ujian untuk mata pelajaran berikutnya resmi ditunda sementara karena alasan teknis.

Suasana kantin langsung dipenuhi suara bisik-bisik, beberapa siswa tampak lega, sementara yang lain justru terlihat lebih gelisah.

Samuel melirik Alana yang masih bersandar di meja, matanya setengah terpejam. Dengan lembut, ia mendorong nampan makanan Alana ke sisi gadis itu. "Bocah, lo kelihatan capek banget. Mumpung ujian ditunda, tidur dulu gih."

Alana mengangkat kepalanya sedikit, menatap Samuel dengan ragu. "Tapi El..."

"Nggak pake tapi Alana," potong Samuel, suaranya lebih lembut. "Gue jagain, nanti kalau waktu ujian tiba, gue bangunin, sekarang lo tidur dulu, ya?"

Alana menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. Dengan sedikit enggan, ia melipat tangannya di meja dan menyandarkan kepalanya di sana. Samuel tersenyum tipis saat melihat Alana akhirnya menutup mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam istirahat singkat yang memang sangat ia butuhkan.

Samuel menatap Alana yang tertidur dengan tenang, napas gadis itu teratur, wajahnya yang lelah kini terlihat jauh lebih damai. Sesekali, ia menyelipkan beberapa helai rambut yang jatuh ke wajah Alana, gerakannya penuh kehati-hatian. Senyum kecil terukir di wajahnya.

Entah sudah berapa kali ia menyadari hal ini—setiap kali ia melihat Alana, baik saat gadis itu tersenyum, marah, atau bahkan dalam diam seperti sekarang, hatinya selalu jatuh cinta lagi dan lagi.

ALWAYS (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang