Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Merasa lelah setelah berlama-lama merenung di balkon, Mahen menghela napas panjang dan beranjak masuk ke dalam rumah. Matanya terasa berat dan perih, seakan-akan sisa-sisa tangisannya masih bergelayut di kelopak.
Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, berusaha keras menyembunyikan jejak kesedihan yang enggan pergi. Langkahnya berat, penuh pikiran yang menggulung seperti ombak di kepalanya.
Saat melewati lorong menuju kamar, langkahnya terhenti di depan sebuah pintu—pintu kamar Alana. Pandangannya tertuju pada pintu yang tertutup rapat, seolah ada beban tak terlihat yang menekan dadanya.
Ia menatapnya lama, mengembuskan napas yang terasa berat, seberat kenangan pahit yang mengoyak dirinya selama bertahun-tahun. Luka yang ditorehkan oleh ayahnya telah meresap jauh ke dalam jiwanya, membekas seperti goresan yang tak kunjung sembuh.
Namun, ucapan sederhana Alana tadi sore terus terngiang di benaknya, ucapan dimana adiknya begitu menantikan keluarga mereka kembali harmonis. Kata-kata itu menusuk kesadarannya lebih dalam dari apa pun. Ia menyadari, dalam amarahnya yang meluap-luap, ia telah melukai orang-orang yang ia sayangi.
Mahen menunduk sejenak, membiarkan pertarungan batin menguasai dirinya. Perlahan, ia mengangguk kecil, seperti menundukkan ego yang selama ini mengakar kuat di hatinya.
"Mungkin udah waktunya" gumamnya dengan suara yang nyaris tenggelam oleh keheningan, "demi Mama… dan Alana"
Dengan tekad yang masih rapuh, ia kembali melangkah menuju kamarnya, membawa perasaan yang sedikit lebih ringan, seolah sebuah pintu dalam dirinya baru saja terbuka menuju sebuah permulaan yang lain—jalan menuju penerimaan dan maaf.
—o0o—
Pagi hari tiba...
Pagi itu datang dengan aroma yang berbeda, bukan sekadar harum embun dan semilir angin, tetapi kehangatan yang seolah menyelinap dari sela-sela dinding rumah.
Di dapur, suara gemerincing wajan dan spatula yang beradu terdengar seperti alunan musik yang membangunkan suasana. Aroma bawang merah yang ditumis dengan rempah-rempah memenuhi udara.
Diana berdiri di depan kompor, tangan terlatihnya mengaduk tumisan yang mulai berubah warna menjadi keemasan. Sesekali, ia melirik ke arah Alea yang berdiri di dekatnya, asyik memotong wortel dengan konsentrasi penuh.
"Hati-hati, Alea. Pisaunya tajam. Jangan sampai kamu malah motong jari kamu" ujar Diana dengan nada lembut.
Alea tertawa kecil, matanya yang bening berkilat nakal. "Tenang aja, Tante. Jari Alea ini keras, nggak gampang kepotong"
Diana mendesah pelan sambil menggeleng, tapi senyum tipis tak dapat disembunyikan. "Ada-ada aja kamu ini"
Tawa mereka mengalir melewati ruang tamu hingga merembes ke teras rumah, tempat Alandra duduk bersandar santai di kursi kayu. Di sampingnya, segelas kopi hitam masih mengepul di atas meja kecil, sementara sebatang rokok mengepulkan asap tipis di antara jemarinya. Pandangannya kosong, seperti menatap jauh melewati cakrawala, seakan sedang memikirkan sesuatu.