ALWAYS C. 36 || Kembali & Penerimaan Perasaan

4 2 0
                                        

C. 36 || Kembali & Penerimaan Perasaan

 36 || Kembali & Penerimaan Perasaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ALWAYS

Di dalam mobil yang melaju menuju bandara, Samuel tersenyum kecil. Pertemuan dengan Alana tadi masih melekat di benaknya, membuat perasaannya jauh lebih ringan daripada sebelumnya.

Ia menghela napas, merasa lebih tenang. Namun, pikirannya kembali melayang ke dua hari yang lalu, saat ia masih di Bandung, belum ada rencana ke Jogja—sampai percakapan dengan teman-temannya mengubah segalanya.

Flashback

Dua hari yang lalu, di rumah Samuel, suasana sore itu dipenuhi suara kaleng minuman beradu dan tawa kecil yang sesekali terdengar dari Ezakiel dan Gavin. Mereka bertiga duduk di ruang tamu, menikmati waktu luang yang sudah jarang mereka dapatkan sejak sibuk dengan urusan masing masing.

"Sam, lo sekarang susah banget diajak nongkrong," keluh Gavin sambil meletakkan kaleng minumannya ke meja. "Dulu lo paling gampang dicari, sekarang kerja mulu. Jangan-jangan udah lupa sama kita, nih?"

Samuel menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya sedikit redup, menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. "Bukan gitu, Vin. Gue cuma lagi banyak kerjaan aja. Lo tau sendiri, kan, tanggung jawab gue makin gede."

Ezakiel menatapnya sekilas sebelum ikut berbicara. "Lo gak cuma keliatan sibuk, Sam. Lo juga keliatan stres."

Gavin mengangguk setuju, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dengan santai, ia menarik sebatang, lalu menyodorkannya ke arah Samuel. "Udah, coba ini. Lumayan buat ngilangin stres lo, kan?"

Samuel melirik rokok yang disodorkan Gavin, tapi ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng. "Gue gak ngerokok."

Gavin menaikkan alisnya, sedikit terkejut. "Sejak kapan lo jadi anti rokok?"

Samuel mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke depan, sebelum akhirnya berucap dengan nada datar, "Alana benci asap rokok, jadi gue gak ngerokok."

Suasana seketika hening beberapa detik. Ezakiel dan Gavin saling bertukar pandang, lalu Gavin tertawa kecil, setengah tak percaya.

"Serius, Sam? Lo segitunya?" Gavin menatapnya dengan ekspresi bercampur antara kagum dan geli.

Samuel hanya mengangkat bahu. "Bukan segitunya, Vin. Gue cuma gak mau sesuatu yang gue lakuin jadi alasan Alana menjauh."

Ezakiel tersenyum tipis, mengerti lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan Samuel. Ia tahu betapa Samuel benar-benar menyayangi Alana, dan setelah bertahun-tahun, perasaannya masih tetap sama.

Gavin mendecak pelan. "Fix. Lo harus ke Jogja."

Samuel menoleh. "Hah?"

"Lo stres, lo kerja mulu, dan kita tahu lo kepikiran Alana. Pas banget dia bentar lagi wisuda. Apa lagi yang lo tunggu?" Gavin menatapnya dengan tatapan serius. "Kita semua bakalan pergi ke sana, Sam. Lo harus ikut, lo butuh ini."

ALWAYS (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang