Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Malam ini, Alana berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan sedikit senyum di bibir. Gaun selutut berwarna merah muda yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan anggun, memberi kesan manis dan elegan sekaligus. Rambutnya tertata rapi, tergerai lembut di bahunya, sementara riasan wajahnya tampak natural, menonjolkan kecantikannya tanpa berlebihan.
Jantungnya berdebar pelan. Malam ini bukanlah akhir dari kencan mereka. Tadi hanyalah permulaan, karena Samuel telah berencana mengajaknya ke suatu tempat. Entah ke mana, Samuel tak memberitahunya, hanya meminta Alana bersiap sebelum ia menjemput.
Alana menghela napas kecil, merapikan helai rambut yang jatuh di sisi wajahnya, lalu mengambil tas kecilnya. Tak lama, suara deru mobil terdengar dari luar, disusul notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alana tersenyum. Tanpa pikir panjang, Alana segera melangkah keluar dari kamar, memastikan penampilannya sekali lagi sebelum berjalan menuju ruang tamu. Di sana, ibunya, Diana, tengah duduk di sofa, menatapnya dengan sorot mata lembut.
"Alana mau pergi sekarang?" tanya Diana dengan senyum tipis.
Alana mengangguk, lalu mendekati ibunya untuk berpamitan. "Iya, Ma. Alana pergi dulu, ya."
Diana mengamati putrinya sesaat, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya ia hanya tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati di jalan, sayang."
Alana tersenyum, lalu bergegas keluar. Begitu pintu terbuka, angin malam menyambutnya dengan sejuk. Di depan rumah, sebuah mobil sudah terparkir rapi, dan di balik kemudi, Samuel menatapnya dengan senyum yang langsung membuat jantungnya berdebar.
Ia menarik napas dalam, lalu melangkah menuju mobil.
Begitu melihat Alana keluar dari rumah, Samuel tanpa sadar menahan napas sejenak. Matanya terpaku pada sosok gadis itu-gaun merah muda yang ia kenakan tampak begitu pas, membuatnya terlihat anggun, dengan riasan natural yang semakin menonjolkan kecantikannya. Rambutnya tertata rapi, tetapi tetap memancarkan kesan lembut yang selalu Samuel sukai.