Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Selama tiga hari penuh, Alandra tetap terbaring dalam kondisi yang sama, dikelilingi oleh suara monitor dan desahan alat bantu pernapasan yang menjadi penghubung tipis antara dirinya dan kehidupan.
Namun siang ini, segalanya berbeda.
Udara di ruangan ICU terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah waktu melambat. Cahaya matahari yang menembus jendela menciptakan siluet lembut di sekitar tempat tidur Alandra, tapi kehangatan itu tak mampu mengusir ketegangan yang memenuhi udara. Sesuatu terasa berbeda—terasa lebih berat, lebih mengkhawatirkan.
Dan dalam sekejap, momen itu datang. Sesuatu yang selama ini mereka takutkan akhirnya terjadi.
Alana duduk termenung di sofa ruang ICU. Wajahnya tampak pucat, lingkaran hitam menghiasi matanya, menandakan betapa kurang tidurnya gadis itu. Tatapannya kosong, namun hatinya bergejolak hebat saat menatap sosok yang terbaring di atas brankar. Di sana, papanya—super hero, yang selalu membelanya—terbaring lemah, dengan berbagai alat medis yang menopang sisa hidupnya.
Mahen dan Alea sedang ke kantin, sementara ibunya berada di luar, sibuk berbincang dengan kerabat melalui telepon. Untuk pertama kalinya, Alana benar-benar sendiri menemani ayahnya dalam keadaan seperti ini.
Ceklek.
Pintu terbuka, menampilkan Mahen dan Alea yang baru kembali dengan kantong plastik berisi makanan. Ia berjalan mendekat dan menyerahkan bungkusan itu pada Alana, sebelum ikut duduk di sebelahnya.
Namun, sebelum Alana sempat menyuapkan sesuap nasi, suara nyaring dari mesin monitor membuat jantungnya hampir berhenti.
Tiiittt... Tiiittt...
Mahen yang lebih dulu tersadar langsung bangkit, wajahnya pucat pasi. Ia mendekat ke brankar, tangannya gemetar saat melihat tubuh ayahnya yang tiba-tiba kejang lemah.
"Panggil Mama! Cepat panggil dokter!" serunya panik.
Alana terlonjak dari tempat duduknya, berlari keluar ruangan dengan napas tersengal.
"Dokter! Tolong! Papa saya—"
Dokter dan beberapa perawat yang berjaga segera bergegas masuk, sementara Alana melanjutkan langkahnya mencari ibunya. Di ujung koridor, ia melihat Diana masih berbicara dengan seseorang di telepon.
"Ma! Papa!"
Diana menoleh dan, tanpa berpikir panjang, segera mengakhiri panggilannya sebelum berlari mengikuti Alana kembali ke ruang ICU.
Saat mereka masuk, ruangan itu sudah dipenuhi suara peringatan dari monitor yang terus berbunyi nyaring putus putus. Dokter dan para perawat sibuk bergerak cepat, mencoba menangani Alandra yang kini telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya.