ALWAYS C. 30 || Sea & "I will always wait for you"

6 1 0
                                        

ALWAYS C. 30 || Sea & "I will always wait for you"

Special Part🌷

Special Part🌷

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ALWAYS

Setelah satu jam perjalanan yang sunyi, akhirnya mobil berhenti di tepi pantai. Langit mendung, dan sisa gerimis masih membekas di kaca mobil. Suara ombak terdengar pelan namun terus-menerus, seakan memanggil Alana untuk mendekat.

Samuel mematikan mesin dan menoleh ke arah Alana. Gadis itu masih menatap kosong ke depan, matanya sembab, wajahnya tampak lelah. Ia tak berkata apa-apa, hanya duduk diam seolah raganya ada di sini, tapi jiwanya masih tertinggal di pemakaman.

Samuel melepas sabuk pengamannya dan beranjak keluar. Dengan tenang, ia membuka pintu di sisi Alana, "Kita sudah sampai, Na" ucapnya lembut.

Alana tak langsung merespons. Matanya bergerak perlahan menatap ke arah pantai, memperhatikan ombak yang berkejaran ke tepian. Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu, tapi juga menyakitkan—seperti mengingatkan bahwa dunia terus berjalan meski ia merasa dunianya telah runtuh.

Perlahan, Alana melepas sabuk pengamannya sendiri dan melepas alas kakinya kemudian turun dari mobil. Kakinya menyentuh pasir yang masih sedikit lembap karena hujan. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang khas.

Samuel tetap di sampingnya, tak berkata apa-apa, hanya menunggu. Ia tahu, Alana butuh waktu untuk memproses semuanya.

Tanpa sadar, Alana melangkah pelan ke arah laut, membiarkan pasir menenggelamkan kakinya sedikit demi sedikit. Samuel mengikutinya dari belakang, memastikan gadis itu tidak sendiri.

Sesaat, hanya suara ombak yang berbicara di antara mereka.

Alana duduk di atas pasir yang masih sedikit lembap, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Matanya kosong menatap ombak yang datang dan pergi, namun pikirannya terperangkap di masa lalu—di kenangan-kenangan yang kini terasa begitu jauh dan menyakitkan untuk diingat.

Ia mengingat bagaimana dulu, saat masih kecil, ia selalu melompat kegirangan setiap kali Ayah membawakannya mainan baru sepulang kerja. Betapa ia dulu berlari menyambut pelukan Ayah, mencium pipinya, dan berkata bahwa Ayah adalah pahlawan terbaik dalam hidupnya.

Ia juga teringat saat-saat mereka mengunjungi pantai bersama. Ayahnya selalu menggenggam tangannya erat, seolah ingin memastikan ia tak akan pernah tersesat.

Mereka berlarian di tepi pantai, tertawa di antara deburan ombak, dan membangun istana pasir yang selalu runtuh terkena air, tapi Ayahnya tak pernah keberatan untuk membangunnya lagi dan lagi.

Dulu, pantai adalah tempat penuh tawa dan kebahagiaan. Tapi kini, tempat yang sama terasa begitu sepi dan menyakitkan.

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. Alana menggigit bibirnya, berusaha meredam sesak di dadanya. Ia merasa begitu kehilangan, begitu hampa.

ALWAYS (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang