Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Malam promnight terus berlanjut dalam suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan. Setelah penampilan Samuel yang memukau, ia segera kembali ke meja tempat Alana, Amora, Ezakiel, Gavin, dan Falenza berkumpul.
"Gila! Romantis juga lo Sam," goda Ezakiel sambil menepuk bahu Samuel.
Samuel hanya terkekeh kecil, mengambil minumannya lalu menyesapnya pelan. "Biasa aja" ujarnya santai, meskipun pipinya sedikit memerah.
Falenza menyandarkan dagunya di tangan dan menatap Samuel penuh selidik. "Hmm... lo nyanyiin itu buat siapa, Sam?" tanyanya, jelas ingin menggali lebih dalam.
Samuel melirik sekilas ke arah Alana yang sejak tadi lebih banyak diam. Gadis itu menunduk, memainkan ujung gaunnya dengan gugup. Namun, samar-samar, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil.
Amora mendengus. "Masa lo pada gak tau?" Ia kemudian melirik Alana, menyenggol bahunya pelan. "Na, lo gak mau kasih tanggapan?" ucap Amora memancing Alana.
Alana mengangkat kepalanya, menatap teman-temannya yang kini menunggu reaksinya. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi, berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Eh..su-suara lo bagus, El."
Amora langsung bersorak. "Aww! Itu kode keras, Na masa lo gak paham!"
Tawa pun pecah di antara mereka. Samuel hanya bisa tersenyum kecil sementara Alana berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Perbincangan terus berlanjut di antara mereka, diselingi tawa dan canda seperti malam itu tidak akan pernah berakhir. Namun, di tengah kehangatan kebersamaan itu, Alana tiba-tiba teringat sesuatu—ponselnya.
Sejak tiba di aula promnight, ia belum sekali pun mengecek layar ponselnya. Dengan cepat, ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan ponsel, dan menyalakannya.
Begitu layar menyala, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Puluhan panggilan tak terjawab. Semua dari Mahen.
Tangan Alana sedikit gemetar saat ia membuka pesan terakhir dari kakaknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.