Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Kini, Mahen duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin dan lemah. Suara mesin monitor jantung menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan, sesekali disertai dengan tarikan napas pelan Alandra yang dibantu oleh alat pernapasan.
Ia sendirian menjaga Ayahnya, lantaran Ibunya dan Alana tengah pergi mencari sarapan.
Tatapannya melembut saat mengingat percakapan terakhirnya dengan ayahnya beberapa minggu lalu sebelum semuanya berubah.
Flashback on
Ia melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya setelah dipanggil. Ruangan itu selalu terasa hangat dengan aroma buku-buku lama dan kayu yang khas. Namun, saat itu, ada sesuatu yang berbeda. Pandangannya langsung tertuju pada dinding ruang kerja ayahnya, di mana banyak foto-foto terpajang rapi dalam bingkai kayu sederhana.
Mahen melangkah lebih dekat dan menyadari sesuatu-bukan hanya foto Alana yang ada di sana, tetapi juga fotonya.
Sebuah foto dirinya saat pertama kali mengenakan seragam SMA, senyumnya tampak bangga. Lalu ada foto lain, dirinya saat masih kecil, digendong oleh ayahnya dengan wajah ceria. Ada juga foto ketika ia memenangkan lomba di sekolah.
Mahen tersenyum kecil kala itu, merasa sedikit terkejut. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ayahnya lebih perhatian pada Alana, karena adiknya itu lebih sering mendapat perhatian langsung. Tapi ternyata, tanpa banyak kata, ayahnya juga menyimpan kenangan tentangnya dengan penuh kasih sayang.
Setelah puas memandang foto foto itu, kini Mahen berjalan ke arah sofa, kemudian mendudukkan dirinya disana.
"kenapa, pah?" tanya Mahen, laki laki itu kini telah duduk di sofa ruang kerja ayahnya, seraya menatap punggung Alandra yang kini berdiri membelakanginya.
Alandra tak menanggapi pertanyaan Mahen, ia hanya berbalik kemudian berjalan menuju ke arah salah satu sofa di samping putranya kemudian mendudukkan dirinya disana.
Alandra menghela nafas berat kemudian menyerahkan sepucuk surat kepada putranya, Mahen sontak menerima surat itu dari tangan ayahnya, dengan wajah penasaran ia perlahan membuka surat itu dan membaca isinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.