ALWAYS C. 29 || Pemakaman & Bunga Terakhir

9 1 0
                                        

C. 29 || Pemakanan & Bunga terakhir

 29 || Pemakanan & Bunga terakhir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ALWAYS

Pagi itu, cahaya matahari yang menerobos melalui celah jendela terasa terlalu menyilaukn bagi Alana. Matanya terasa berat, seolah semalaman tak benar-benar terpejam. Saat ia menggerakkan tubuhnya sedikit, ia baru menyadari keberadaan dua sahabatnya—Amora dan Falenza—yang masih tertidur dengan posisi memeluknya erat.

Amora bersandar di bahunya, sementara tangan Falenza masih menggenggam tangannya dengan erat. Nafas mereka terdengar pelan, namun keberadaan mereka memberi sedikit kehangatan di tengah kekosongan yang menggerogoti hati Alana.

Namun begitu pikirannya kembali mengingat apa yang akan terjadi hari ini, perasaan berat langsung menghantamnya lagi. Hatinya mencelos.

Perlahan, ia melepaskn diri dari dekapan sahabatnya dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap jari-jarinya yang gemetar, lalu mengusap wajahnya yang masih terasa basah bekas tangis semalam.

Di luar kamar, Alana bisa mendengar suara-suara pelan. Keluarga besar mungkin sudah mulai bersiap. Ada suara langkah kaki, mungkin Bibi atau Paman yang sedang memastikan semua keperluan pemakaman. Ada suara orang berbicara dengan nada tertahan, dan sesekali terdengar isakan pelan.

Semua terasa seperti mimpi buruk yang nyata.

Alana merasakan tempat tiur bergerak sedikit. Amora menggeliat, lalu membuka mata perlahan. Saat melihat Alana sudah duduk, ia langsung menegakkan tubuhnya.

"Na..." panggilnya dengan suara serak.

Tak lama, Falenza pun ikut terbangun, mengucek matanya sebelum langsung menatap sahabatnya dengan cemas.

"Udah pagi..." gumam Alana pelan, hampir seperti bisikan.

Amora dan Falenza saling bertatapan. Mereka tahu, pagi ini adalah awal dari hari yang paling berat bagi Alana.

Tanpa banyak bicara, Amora menarik Alana ke dalam pelukan lagi. Sementara Falenza mengusap pundak sahabatnya dengan lembut.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan sosok Mahen muncul di ambang pintu. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya tetap tegar. Ia melangkah masuk, lalu berjongkok di depan Alana yang masih duduk di tepi ranjang.

"Na, semua orang udah siap. Lo juga harus bersiap, ya?"

Alana menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. Rasanya sulit untuk bergerak, seolah tubuhnya memberontak untuk tetap diam di sini, tidak menghadapi apa yang ada di luar sana.

Melihat adiknya yang tak merespons, Mahen menghela napas, lalu meraih tangannya. "Gue tahu ini berat. Gue juga ngerasain hal yang sama."

Alana mengangkat wajah, menatap kakaknya yang juga menyimpan luka yang sama dengannya. Mahen berusaha terlihat kuat, tapi Alana tahu, jauh di dalam hati, ia sama hancurnya.

ALWAYS (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang