Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Minggu-minggu berlalu. Setelah melewati masa-masa ujian yang penuh tekanan, kini tiba saat yang paling dinanti sekaligus mendebarkan—pengumuman kelulusan.
Namun, bagi Alana, hari-hari setelah ujian bukan hanya tentang menunggu hasil. Itu juga menjadi waktu di mana ia perlahan menjauh dari kedua orang tuanya.
Setiap pagi, ia akan berangkat lebih awal bersama Mahen dan Alea, menghindari sarapan bersama di meja makan keluarga. Setiap malam, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, berpura-pura sibuk dengan ponselnya atau membaca buku yang sebenarnya tidak ia pahami.
Ia tidak ingin mendengar pertengkaran itu lagi. Tidak ingin mendengar percakapan yang semakin dingin antara Ayah dan Ibu.
Diana, ibunya, beberapa kali mencoba berbicara dengannya. Begitu juga Alandra, ayahnya. Tapi setiap kali mereka mendekat, Alana hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu kembali menghindar.
Ia takut. Takut jika terlalu dekat, ia akan semakin sakit saat akhirnya mereka benar-benar berpisah.
Di sekolah, Samuel dan teman-temannya menyadari perubahan itu. Alana tidak lagi seceria biasanya. Senyumnya masih ada, tapi lebih sering kosong. Tawanya tidak sehangat dulu. Dan setiap kali seseorang menyebut tentang keluarga, tatapannya selalu berubah sedikit lebih sendu.
Samuel tahu, Alana masih berusaha kuat. Tapi ia juga tahu, di dalam hati gadis itu, ada luka yang semakin dalam.
Dan kini, di hari yang menentukan masa depan mereka—hari pengumuman kelulusan—Alana berdiri di antara teman-temannya, menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk.
Bukan hanya tentang kelulusannya. Tapi juga tentang kehidupannya yang semakin berubah.
Pengumuman kelulusan akhirnya keluar.
Suasana di halaman sekolah dipenuhi oleh siswa-siswi kelas 12 yang berdebar menunggu hasil mereka. Beberapa terlihat tegang, ada yang berdoa dalam hati, sementara yang lain berusaha terlihat santai meskipun jantung mereka berdetak kencang.
Di antara mereka, Alana berdiri dengan ponselnya, menatap layar dengan telapak tangan sedikit berkeringat. Samuel berdiri di sampingnya, begitu juga Amora, Gavin, Ezakiel, dan Falenza.
Saat akhirnya hasilnya muncul di layar ponsel masing-masing, jeritan bahagia mulai terdengar dari berbagai sudut. Beberapa siswa langsung berpelukan, ada yang menangis lega, dan ada juga yang masih memeriksa ulang, seolah takut ada kesalahan.
Alana menatap layar ponselnya, matanya membelalak saat melihat namanya terpampang di deretan 10 besar perolehan nilai tertinggi.
"Gue... masuk 10 besar?" suaranya nyaris berbisik, seolah tidak percaya.