ALWAYS C. 39 || Perjodohan

6 2 0
                                        

C. 39 || Perjodohan

 39 || Perjodohan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ALWAYS

Rumah Besar Keluarga Diaskara.

Kediaman keluarga Diaskara— sebuah bangunan megah bergaya klasik modern yang berdiri di atas lahan luas. Dindingnya berwarna putih gading dengan pilar-pilar tinggi yang menambah kesan elegan. Pintu masuknya besar dengan ukiran kayu yang mewah, memberikan aura kemegahan sejak pertama kali seseorang melangkah masuk.

Di dalam, lantai marmer mengilap memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai di langit-langit tinggi. Ruang tamunya luas, dengan sofa kulit berwarna krem yang tertata rapi di sekeliling meja kaca, menciptakan suasana yang hangat namun tetap berkelas.

Di salah satu sisi ruangan, terdapat rak buku besar yang berisi berbagai koleksi buku dan ornamen klasik.

Dari ruang tamu, tangga melingkar dengan pegangan besi berukir mengarah ke lantai atas, tempat kamar-kamar pribadi berada. Sementara itu, di sisi lain, terdapat ruang keluarga yang lebih nyaman dengan sofa besar dan televisi layar lebar—tempat keluarga Samuel biasanya berkumpul.

Samuel berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh momen-momen indah bersama Alana malam ini.

Ia bahkan tidak langsung melepas sepatu seperti biasanya, terlalu larut dalam kenangan yang baru saja mereka ciptakan.

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika suara bass berat milik Edgar Diaskara— ayahnya, memanggilnya dari ruang keluarga.

"Samuel."

Samuel menoleh, mendapati kedua orang tuanya—Edgar dan Lydia—duduk di ruang keluarga. Ayahnya duduk dengan posisi tegap, sementara ibunya, Lydia, menatapnya dengan lembut, seolah mencoba meredakan suasana sebelum Samuel tahu apa yang akan terjadi.

"Duduklah, Nak," ujar Lydia, suaranya lembut namun penuh arti.

Samuel mendekat, bersiap untuk duduk di sofa berhadapan dengan kedua orang tuanya. Namun sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh sofa, suara Edgar kembali terdengar, kali ini dengan pernyataan yang membuat Samuel membeku di tempat.

"Kamu Papa jodohin sama anak teman Papa."

Samuel terdiam. Senyuman yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. Matanya menatap Edgar dengan tatapan tidak percaya. Detik itu juga, semua kenangan manis yang baru saja ia alami bersama Alana terasa seakan tertutup oleh kabut yang pekat.

Samuel mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras saat mendengar ucapan ayahnya. Tanpa ragu, ia langsung menolak. "Gak! Aku udah punya pacar, Pah!" suaranya meninggi, jelas menunjukkan bahwa ia tak akan mundur dari pendiriannya.

Tatapan Edgar langsung berubah tajam. Wajahnya mengeras, sementara Lydia menghela napas, mencoba menenangkan suasana yang semakin memanas.

"Samuel, ini bukan soal perasaan pribadi. Ini tentang keluarga kita, Nak" ujar ibunya lembut, berusaha menjelaskan. "Ini janji kami sama keluarga teman Papa. Mereka pernah menyelamatkan bisnis keluarga kita, dan hubungan ini bukan cuma sekadar perjodohan, tapi simbol penghormatan dan balas budi."

ALWAYS (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang