Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya Alana tiba di Kota Yogyakarta. Dari dalam mobil, ia menatap ke luar jendela, menyaksikan kota yang kini akan menjadi rumah barunya. Langit mulai menggelap, lampu-lampu jalan menyala, dan suasana kota terasa begitu hidup dengan orang-orang yang masih berlalu lalang.
Alana menarik napas panjang. Rasanya masih sulit percaya bahwa ia benar-benar meninggalkan rumahnya.
Mobil melaju melewati jalan-jalan kecil hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu tampak kokoh dan nyaman, dengan pagar besi hitam dan halaman depan yang rapi.
Mahen, yang duduk di depan, segera turun lebih dulu. "Sampai," ucapnya sambil membuka pintu mobil untuk Alana.
Alana keluar, menatap rumah itu dengan perasaan campur aduk. "Ini rumah lo, kan?" tanyanya.
Mahen mengangguk, ia tersenyum tipis lalu mengambil koper mereka dari bagasi mobil. "Ayo masuk."
Mereka berjalan melewati halaman, lalu masuk ke dalam rumah. Begitu melewati pintu, suasana hangat langsung menyambut Alana. Interior rumah ini sederhana, tapi tertata dengan rapi.
"Ini kamar lo," ujar Mahen, membuka pintu di salah satu sudut rumah.
Alana melangkah masuk dan melihat sekeliling. Kamar itu cukup luas, dengan jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Ada tempat tidur yang sudah rapi, meja belajar, dan lemari pakaian.
Ia meletakkan koper di lantai dan duduk di tepi tempat tidur. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu ia menoleh ke arah Mahen yang masih berdiri di ambang pintu.
"Gue bakal baik-baik aja di sini, kan?" tanyanya pelan.
Mahen tersenyum kecil. "Tentu aja. Lo bakal terbiasa."
Alana menghela napas, lalu mengangguk. "Semoga."
—o0o—
Alana mulai menata kamarnya dengan perlahan, mencoba membuat ruangan ini terasa lebih seperti rumah. Ia membuka koper dan mulai menggantung beberapa pakaian di lemari, melipat sisanya dengan rapi di rak yang tersedia.
Setelah pakaian selesai, ia beralih ke meja belajarnya. Dari dalam tas, ia mengeluarkan beberapa barang kesayangan—buku catatan, sebuah jam meja kecil, dan beberapa pernak-pernik yang selama ini selalu ada di kamarnya.
Lalu, ia mengambil beberapa foto yang sudah ia cetak sebelumnya. Foto-foto itu menampilkan momen bersama sahabat-sahabatnya—Amora, Falenza, Samuel, Gavin, dan Ezakiel. Ada foto mereka saat di pantai, saat berkumpul di kafe favorit, dan bahkan beberapa foto candid yang diam-diam diambil saat mereka sedang tertawa bersama.
Dengan hati-hati, ia menempelkan foto-foto itu di dinding dekat tempat tidurnya. Ia menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.
Seolah dengan memajang foto-foto ini, ia bisa membawa sedikit bagian dari rumah lamanya ke dalam ruang baru ini.