Alana Caroline, gadis dengan luka mendalam akibat trauma jatuh cinta, bagi Alana, cinta tak pernah berpihak padanya. Setiap hubungan yang ia jalani terasa seakan hanya sekadar permainan di hati laki-laki. Namun, hadirnya Samuel Diaskara mengubah sem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALWAYS
"hufft akhirnya sampe juga, thanks ya Mor" ucap Alana saat ia telah turun dari motor Amora, gadis itu menghela nafas lega, akhirnya ia sampai di rumah, tempat dimana ia bisa beristirahat dan melepas penat sehabis seharian menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah.
"Sama sama"balas Amora santai.
"Mau mampir dulu gak Mor?" tanya Alana, tangan gadis itu mengulurkan helm milik Amora yang baru saja ia pakai, lalu setelahnya ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat terpaan angin sore hari.
"Gak usah Na, udah hampir gelap soalnya, Mama gue pasti udah nyariin, gue langsung balik ya"jawab Amora seraya menerima helm miliknya dari tangan Alana.
" Oh ya udah hati hati ya Mor"balas Alana, Amora hanya mengangguk lalu kemudian menyalakan mesin motornya, melambaikan tangan pada Alana seraya tersenyum manis, lalu setelahnya ia menjalankan motornya pergi dari sana.
Alana membalas lambaian tangan Amora, kemudian saat ia melihat sosok sahabatnya kini sudah terlihat jauh, ia berbalik dan mendorong pintu gerbang rumahnya agar terbuka, ia menghela nafas berat seraya berdecak pinggang, rasanya mendorong pintu gerbang saja sudah sangat menguras tenaganya.
Alana kemudian kembali mendorong pintu gerbang hingga tertutup rapat, kemudian menguncinya. Setelahnya gadis itu dengan lesu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Alea!" teriak Alana saat gadis itu kini telah tiba di area ruang tamu, ia meletakkan sepatu sekolahnya tepat di atas rak sepatu seraya berteriak memanggil nama Alea, kala ia tak kunjung melihat sosok gadis itu.
Tak berselang lama setelah beberapa kali teriakan panggilan Alana menggema di ruang tamu, tampak Alea yang kini terlihat berjalan santai menghampiri gadis itu seraya berucap, "Kak tumben sore banget pulangnya? " tanya gadis itu seraya menatap heran ke arah Alana yang kini tengah tampak sangat kelelahan.
"Gue piket Le, capek banget" jawab Alana seraya melempar tas selempangnya di atas meja kemudian setelahnya ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Loh, lo bisa masak? Kok gue baru tau? " tanya Alana tampak bingung, pasalnya ia tak pernah tau bahwa Alea mahir memasak, terlebih lagi gadis itu menyiapkan makanan untuknya.
"Bisa dong, Alea kan sering bantuin tante Diana masak, sekalian diajarin masak juga hehe" jawab Alea dengan bangga lalu mendudukkan dirinya di sofa tepat di samping Alana.
"Wih, pinter lo Le" balas Alana seraya tersenyum bangga, tangan gadis itu terangkat untuk mengusap lembut pucuk kepala Alea.
"Oh iya kak, aku baru aja habis dari halaman belakang, bunga bunga disana cantik cantik banget, itu kakak yang rawat ya?" tanya Alea, kala teringat tentang betapa cantiknya halaman belakang rumah mereka, tempat dimana ada banyak jenis bunga yang tertata indah dan terawat.