"Lia berangkat, ya, Bu."
Seorang gadis dengan kerudung berwarna nude buru-buru mengikat tali sepatu dan mematut wajah bersihnya di standing mirror ruangan depan. Namanya Liani.
"Nggak sarapan dulu, Lia?" sahut seseorang dari ruang makan yang hanya bersekat tirai dari ruang depan.
"Nggak sempat, Bu. Nanti Lia sarapan di kantin kampus aja."
Seorang perempuan dengan baju rumahannya menghampiri Liani. Anak gadis semata wayangnya yang hari ini akan menginjak strata pendidikan yang lebih tinggi.
"Ibu buatin bekal, buat sarapan kamu di kampus." Perempuan berusia 49 tahun itu menyerahkan kotak bekal berwarna biru. Liani menerimanya dengan senyum mengembang.
"Makasih, Bu." Liani mencium puncak kening ibunya dan bersalaman.
"Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa hubungin Ibu atau Ayah."
Liani mengangguk mengiyakan. Usianya sudah 18 tahun, tapi masih saja suka diperlakukan seperti anak TK yang hendak berangkat ke sekolah. Tapi tidak apa, Liani memaklumi jika kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya.
"Abizar gimana?" Ibu Liani bertanya. Ikut mengantar anak gadisnya menuju pintu gerbang rumah yang tidak terlalu tinggi. Bunga-bunga indah mekar dengan warna khasnya.
"Nggak tau, Bu. Kayaknya dia nggak ada matkul pagi."
Ibunya manggut-manggut. Dia melirik sekilas bangunan dua tingkat yang berada tepat di depan rumah mereka. Pohon ketapang kencana tampak rimbun dengan dua mobil terparkir rapi di halaman.
"Tapi motornya Abizar nggak ada tuh," ucap ibu Liani sembari menunjuk halaman rumah di depannya.
Liani mengikuti arah pandang ibunya. Tidak ada motor besar berwarna merah yang biasanya parkir setiap pagi. "Mungkin lagi di bengkel, Bu," jawab Liani asal. Dia buru-buru sekarang.
"Liani berangkat, Bu. Assalamu‟alaikum."
Liani melambaikan tangan dan meninggalkan rumah. Menyisir jalanan komplek yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa tetangga yang lewat dan menyapa sekilas.
Liani sudah bangun dua jam lebih awal, tapi apa hendak dikata, jika soal lama dia nomor satu. Entah apa saja yang dilakukan di kamar mandi hingga membuatnya harus buru-buru berangkat ke kampus. Dia tidak boleh telat. Hari ini hari perdananya.
***
Liani melintasi koridor gedung yang cukup ramai. Mahasiswa hilir mudik memenuhi setiap gedung dan sisiannya. Tahun ajaran baru. Semester baru. Wajah semringah dan penuh semangat terpancar jelas lewat percakapan yang serupa dengung lebah.
"Beruntung kamu nggak telat tadi, Li. Kakak tingkat bilang, Pak Tomo adalah dosen killer sefakultas."
"Emang iya?" tanya Liani sembari terus berjalan menuju kantin fakultas. Berbagi jalan dengan mahasiswa lain yang juga hendak mengisi perut dan merehatkan kepala.
Viani mengangguk. Gadis dengan tubuh berisi dan kerudung berwarna cerah itu mengamati gedung-gedung kampus yang tinggi menjulang dengan beberapa area rimbun yang meneduhkan.
"Ada cowok ganteng tuh, Li." Viani berbisik saat mereka berpapasan dengan beberapa mahasiswa berseragam rapi-sepertinya kakak tingkat.
"Jangan jelalatan, Via!" Liani menarik lengan temannya.
Sejak keluar kelas sampai mereka hampir tiba di gedung kantin, Viani tidak ada henti-hentinya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Matanya menangkap semua objek penting dan tidak penting.
"Jaga pandangan!" tegur Liani. Gadis itu menundukkan pandangan. Setidaknya, meski belum sempurna dalam banyak hal, dia tahu apa yang menjadi batasannya.
"Astaga, Li cuma lihatin kakak tingkat yang ganteng. Nggak jelalatan kok." Viani berkelit sembari cengengesan. Dia masih mencuri pandang ke belakang untuk menatap sekali lagi wajah tampan itu.
Liani mendengus sebal. Viani memang banyak sekali alasannya. Kalau hendak menurutkan keinginan hatinya saja, sebenarnya apapun yang berada di luar dirinya adalah sesuatu yang tidak penting. Tapi Liani lebih dari tahu kewajibannya sebagai sesama muslim. Dia punya kewajiban untuk mengingatkan orang-orang terdekatnya agar terhindar dari sesuatu yang mendatangkan dosa.
Sejak SMA, Liani tahu betul jika perjalanan yang ditempuhnya memang tidak mudah. Dia tahu konsekuensi yang harus dia telan akan sangat melelahkan. Toh, tidak ada yang ringan dalam sebuah perjuangan berada di jalan-Nya.
Liani bukan manusia sempurna yang telah menemukan semua pemahaman baik itu. Belum. Lebih tepatnya dia masih berusaha untuk menjadi seperti yang Allah inginkan. Dalam beberapa kesempatan, dia masih suka terperosok jatuh dan ikut bergelimpangan bersama yang salah.
"Pekan depan aku boleh ke rumah kamu, ya, Li?" Viani bertanya antusias.
"Boleh."
Viani berseru senang. Gadis itu mengedarkan pandangan. Mencari kursi kosong di tengah jam ramai seperti ini tidak mudah. Lima detik. Mereka menuju sebuah meja yang menyisakan bangku kosong. Setidaknya meski berada di sudut, tempat itu cukup strategis untuk menyapu seluruh isi kantin-ide yang bagus bagi Viani.
"Li, kamu nggak risih pakai kerudung yang panjang banget kayak gitu?" Viani bertanya.
Membuka percakapan. Dia menilik baik-baik kerudung lebar yang dikenakan Liani. Tampak kontras dengan pashmina yang dikenakannya.
Liani hanya menggeleng. Gadis itu membuka lembaran buku panduan. Dia harus menyesuaikan diri dengan cepat di kampus barunya. Ada banyak manusia yang akhirnya tersingkir hanya karena tidak mampu beradaptasi dengan baik di lingkungannya. Dan Liani sangat menghindari itu.
"Nggak gerah?" Viani kembali bertanya.
"Nggak. Kan udah biasa, Vi."
"Besok-besok aku mau coba pakai kerudung syar'i kayak kamu, Li."
Liani mendongak. Menatap raut wajah antusias Viani saat mengucap kalimat itu. "Bagus."
"Kalau bisa jangan cuma coba-coba, tapi diterusin," lanjut Liani dengan senyum kecil.
"Aduh, kayaknya aku belum bisa istiqamah kayak kamu, deh, Li."
"Kenapa nggak?" Liani meletakkan buku. Mulai menatap serius lawan bicaranya. Dia tahu semua orang butuh waktu, tapi bukankah niat baik itu harus ditunjukkan jalan benarnya?
Viani tampak berpikir sejenak. "Hmm, belum siap."
"Kesiapan itu harus dijemput, Vi bukan ditunggu. Kalau kamu nunggu siap, iya kalau kamu merasa siap. Kalau ternyata kamu tidak pernah merasa siap bagaimana?"
Viani diam. Kepalanya masih harus mencerna banyak hal. Dia melambaikan tangan. Tidak ingin membahas hal itu terlalu jauh. Beruntung pesanan makanan mereka tiba. Membuat percakapan serius itu harus tertunda entah sampai kapan.
Mereka mulai menyantap makan siang perdana di kantin baru, kampus baru juga semester baru. Ada banyak hal yang harus Liani hadapi empat tahun ke depan, dan dia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuknya. Namun satu hal yang tidak pernah Liani persiapkan sejak menginjakkan kaki di jenjang pendidikan barunya.
"Hai, Lia!"
Suara hangat nan khas itu menyapa antusias. Serupa orkestra alam semesta yang membangunkan bunga-bunga indah di taman surga.
*****
Hai, terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca.
Salam hangat😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Penantian Liani
Teen Fiction"Lia, kamu mau kemana? Aku tidak bohong soal gadis itu, dia hanya masa lalu. Apa yang kamu khawatirkan dari seseorang yang telah jauh tertinggal di hari dulu?" "Justru orang yang ada di masa lalu yang harus aku khawatirkan, Bay. Bukankah dia yang le...
