Datang Tepat Waktu

6 1 0
                                        

"Lia!"

Suara itu membuat Liani menoleh. Seorang pemuda dengan motor matic berhenti di
dekatnya. Disusul dengan salah satu temannya yang juga mengendarai motor.

"Abay?"

"Kamu kenapa di sini?" Akbar bertanya sembari mengedarkan pandangan. Mencoba menerka kenapa Liani berdiri di dekat gang yang tidak terlalu ramai.

"Tadi aku naik angkot, tapi angkotnya pecah ban," jelas Liani jujur.

"Terus aku mau pesan ojek online, tapi hp aku ketinggalan di rumah."

Akbar mengangguk mengerti. "Memangnya kamu mau kemana?"

Liani menyebutkan alamat yang ditujunya. Akbar bicara sebentar dengan temannya yang juga mengendarai motor. Sepertinya dua sosok itu baru menghadiri acara duka. Pakaian hitam-hitam yang dikenakannya menjadi saksi bisu.

"Bareng kita aja, Li." Akbar menawarkan bantuan.

Liani menggeleng pelan. Dia menatap Akbar dan teman pemuda itu bergantian.

Akbar tertawa. "Kamu pakai motor aku. Aku boncengan sama Bagas." Akbar menunjuk
temannya yang ikut tersenyum.

"Aku masih ingat, kok kamu nggak mau boncengan sama laki-laki," sambung Akbar mengingatkan Liani pada kenyataan itu.

Liani sedikit salah tingkah. Gadis itu menyeka wajahnya sekilas untuk mengurangi detak jantungnya yang tidak beraturan.

"Gimana? Mau, kan?" Akbar memecah hening Liani yang terjebak pada pipi merah yang menggemaskan.

"Mau aja lah!" sahut Bagas yang sudah memberikan helm cadangan pada Liani.

"Ayo, Li. Buruan." Akbar mendesak dengan senyum manis. Bagaimana mungkin Liani bisa menolak jika yang memaksanya adalah Akbar Kalandra yang punya magis indah dari senyumnya yang memesona?

Liani meraih helm dan menggantikan posisi Akbar di motor matic berwarna cokelat.

"Beneran nggak papa, Bay? Nggak ngerepotin kamu?‟ Liani bertanya memastikan sebelum menyalakan mesin motor.

Akbar yang sudah pindah ke boncengan Bagas mengangguk pelan. "Daripada kamu nunggu angkot lain di sini, bakal lama, kan?"

"Nggak baik juga menolak pertolongan orang, Li." Akbar tertawa. Pemuda itu
mengisyaratkan Liani untuk melajukan motor. Gadis itu mengangguk.

Sepuluh menit. Liani menatap dari balik kaca spion Akbar dan Bagas yang mengiringi di belakang. Dua pemuda itu tampak asyik bercerita. Liani tersenyum.

Entah takdir semesta atau hanya kebetulan saja, Akbar selalu datang di waktu yang tepat.

Dia hendak berpikir bahwa semua ini adalah kebetulan. Tapi bukankah dia selalu percaya bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Kalaupun sesuatu terlihat seperti kebetulan, bukankah kebetulan adalah takdir yang sedang menyamar?

***

"Ayo dimakan, Nak." Mama Viani menyilakan dengan ramah. Senyum manisnya indah sekali.

"Iya, makasih, Bu." Liani mengangguk sopan dan meraih kue yang diberikan padanya.

Suasana ruang tamu megah Viani ramai oleh tamu undangan yang merupakan keluarga dan tetangga dekat.

"Sejak masuk kuliah, Viani sering banget ceritain kamu, Lia." Mama Viani membuka
obrolan sembari menyambut beberapa tamu undangan yang ada di rumahnya.

"Dia bilang kamu tuh selain cantik dan baik, pintar juga," sambungnya menjelaskan sembari menatap Liani hangat.

Liani hanya tersenyum kecil sebagai respon.

"Nggak usah dikasih tau juga kali, Ma." Viani yang baru saja bergabung menceletuk dengan wajah sedikit salah tingkah.

"Jadi malu, kan Viani."

Mamanya menyipitkan mata. "Kenapa harus malu? Kan kamu sendiri yang bilang seperti itu. Kamu juga bilang kalau Liani punya-"

"Shut!" Viani buru-buru mendekap mulut mamanya gemas. Dia tidak akan membiarkan kisah yang satu itu didengar oleh Liani.

"Mama kenapa jadi nyebelin banget, sih? Semuanya mau diceritain ke orang," sebal Viani sembari menatap wajah mamanya yang menahan tawa.

Viani memeluk tubuh mamanya agar perempuan berusia 47 tahun itu tidak lagi bicara soal yang dia malu mendengarnya. "Mama mending gabung sama Tante aja sana!" Viani menyuruh mamanya beringsut dari meja bundar yang dihuni Liani.

"Nih, kamu lihat, Li. Masa, sih ngusir mamanya sendiri." Mama Viani geleng-geleng kepala sembari menatap Liani dan Viani bergantian.

Drama itu tidak berlangsung lama karena mama Viani masih harus meladeni tamu undangan yang ada di rumahnya. Dia sesekali mengobrol dengan keluarga jauh yang menyempatkan untuk hadir.

"Gimana caranya tadi bisa bareng sama Akbar, Li?" tanya Viani saat mamanya sudah beranjak pergi ke meja lain.

"Nggak sengaja ketemu di jalan," jawab Liani sembari menyantap hidangan yang disuguhkan untuknya.

"Kamu kenapa naik angkot, sih? Taksi online, kan ada. Ojek online juga menjamur dimana-mana."

Liani hanya mengangkat bahu tidak terlalu peduli. Dia lebih suka suasana angkot. Apakah itu salah? Lagipula dengan naik angkot yang sopirnya sudah berumur, bisa sekalian membantu mereka untuk mendapat rezeki.

"Tamu undangan di acara ini kelihatannya keluarga dekat kamu semua, Vi." Liani yang sejak tadi mendengarkan dan memperhatikan menyadari sesuatu.

"Memang iya." Viani meraih ponsel dan membukanya. Menyandarkan punggung.

"Terus kenapa aku diundang? Kan kita baru kenal beberapa waktu lalu, Vi."

Kalimat itu membuat Viani beranjak dari menatap layar ponsel dan menatap wajah temannya yang begitu cantik dengan sentuhan sedikit bedak dan lip balm berwarna merah muda.

"Karena sekarang kamu adalah sahabat aku, Li." Viani tersenyum saat mengucap kalimat itu.

"Sejak ketemu kamu di Ospek, aku ngerasa cocok aja temenan sama kamu. Terus kita sekelas san aku semakin yakin kalau kamu bisa jadi sahabat yang menyenangkan, Li."

Liani tersenyum penuh pengharagaan. "Makasih, Vi udah percaya sama aku."

"Dan makasih juga udah diundang ke acara ulang tahun papa kamu."

Viani hanya mengangguk sebagai jawaban. Matanya kembali fokus menatap layar ponsel.

Bukan hanya karena dia merasa nyaman berteman dengan Liani, tapi ada niat lain yang terselip di hatinya. Viani punya rencana lain yang hatinya inginkan. Dan Liani tidak pernah nenangkap sinyal itu.

Liani terlalu lurus untuk mengerti ada hal tersembunyi dari orang lain. Ikhlas hatinya
membuat isyarat itu tidak terlihat dengan jelas.


*****

Hai, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca Penantian Liani.
Salam hangat 😊

Penantian LianiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang