Viani mengedarkan pandangan. Mencari meja kosong sembari membawa nampan berisi makanannya. Liani ikut mencari, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda meja kosong di penjuru kantin. Tumben sekali kantin ramai di jam-jam tanggung begini.
“Tuh, ada mahasiswa yang baru selesai, Li!” Viani menunjuk sudut kantin dengan bibirnya.
Tiga orang mahasiswa mulai beranjak.
Liani mengangguk dan mereka berjalan menuju sudut kantin. Berpapasan dengan teman sekelas yang juga hendak mengisi perut.
Sepuluh detik. Viani menghempaskan tubuhnya, tapi seorang gadis dengan rambut bergelombang mencekal lengan Viani.
Viani mengernyitkan dahi. “Kenapa?”
“Ini meja gue dan temen-temen gue.” Seorang gadis cantik dengan make up natural bicara santai. Seolah kalimatnyaa barusan bisa menikam siapapun.
“Tapi aku duluan yang duduk.” Viani membela diri. Dia melirik Liani yang masih berdiri. Mengisyaratkan Liani untuk ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Liani menelan ludah. Dia menatap Viani dan gadis rambut bergelombang itu bergantian.
“Lo emang duduk duluan, tapi ini meja gue dan temen-temen gue. Lo nggak dengar apa yang udah gue jelasin di awal.” Dia bicara dengan suara yang amat menyebalkan di telinga Viani.
“Kalian mahasiswa baru, kan?” Dia menatap Liani dan Viani bergantian. Seolah merendahkan.
“Gue kakak tingkat kalian, meja ini secara nggak tertulis udah jadi milik gue,” jelasnya.
“Zaman udah maju gini, emangnya masih ada aturan bodoh seperti itu?” Viani yang kesal akhirnya bicara. Dia tidak takut meski gadis sok berkuasa di hadapannya ini adalah anak Rektor sekalipun.
“Minggir dan cari tempat lain!” usir gadis itu sarkastik. Dia tidak suka ada mahasiwa baru yang melawannya.
“Nggak. Aku duluan yang duduk di sini. Kamu saja yang cari tempat lain!” Viani masih bersikeras. “Ayo duduk, Li. Kita duluan yang dapet meja ini!”
“Lo ngelawan banget, ya?!” Gadis itu menatap tidak suka. Tiga orang temannya sudah tiba dan meletakkan makanan di atas meja.
“Mending kalian minggir!” Salah satu gadis ikut bicara.
“Udah, Vi kita cari meja lain aja.” Liani sepertinya tidak mau cari masalah dengan siapapun di kampus barunya.
“Nggak, Li. Mereka yang harusnya cari meja lain!”
Liani menggeleng. Mencoba membujuk Viani dengan tatapan mata. Ini minggu pertama mereka berkuliah, dan tidak mungkin mereka membuat keributan di tengah ramainya kantin.
Beberapa mata juga mulai tertuju di sudut kantin. Liani tidak ingin terjadi apapun yang bisa merusak perdamaian.
“Buruan minggir! Gue mau makan!” Gadis itu menggebrak meja. Sepertinya status sebagai kakak tingkat membuatnya tidak ragu untuk menjadi pusat perhatian di manapun berada.
Liani yang kaget menatap Viani yang masih kokoh di tempat duduknya. Apa yang harus dia lakukan?
Viani keras kepala. Dia tidak akan mengalah apapun situasinya. Bukankah ini rumit sekali?
“Permisi.” Seorang pemuda membuat suasana menegangkan menjadi pecah. Dia yang duduk di kursi sebelah terlihat tenang dengan wajah tampan yang memesona.
“Kalian berdua duduk di meja gue aja,” ucap pemuda itu ramah. Dia mengangkat nampan makanan Viani dari atas meja.
“Ayo, pas banget masih ada dua kursi kosong,” lanjutnya sembari mengajak Viani dan Liani yang masih bengong karena kaget.
“Abay?” Liani merapal nama itu masih seolah tidak percaya meski mereka sudah bertemu sebelumnya.
“Ayo, Lia.” Pemuda bernama Akbar itu tersenyum dan sekali lagi mengajak Liani dan Viani.
Viani yang menyadari bahwa Akbar lah yang telah meredam suasana menyebalkan itu buru-buru meninggalkan meja dan menatap tajam ke arah gadis dengan rambut bergelombang itu.
“Makan tuh kursi!” Dia mengumpat tepat di hadapan wajah gadis itu.
Viani dan Liani sudah ikut bergabung bersama Akbar dan kedua temannya.
“Makasih, Bay.” Liani berucap pelan.
“Iya, Li santai aja.” Akbar tersenyum.
Liani tidak tahu jika sekarang, senyum itu punya magis hebat yang membuatnya terpaku pada alas bumi. Dia buru-buru mengalihkan pandangan saat perasaan itu tiba.
Mereka mulai menyantap makanan masing-masing.
“Hai, aku Viani. Nama kamu siapa? Kita belum kenalan, kan?” Viani mengulurkan tangan. Menatap Akbar takjub. Memecah hening yang tercipta.
“Akbar.” Akbar menyambut uluran tangan itu bersahabat dengan wajah yang begitu tampan.
Astaga! Viani tidak menyangka jika pemuda tampan yang beberapa waktu lalu menyapa Liani akhirnya bisa duduk semeja dengannya sekarang.
Viani menyikut Liani dengan senyum kecil. “Selain tampan, dia juga baik banget, Li!” bisik Viani semringah.
Liani tidak menanggapi dan terus melanjutkan menyantap makanannya. Liani tidak pernah sadar jika Akbar mencuri-curi pandang untuk menatap wajah indahnya. Bahkan sejak dulu Liani tidak pernah sadar jika mata itu selalu mencarinya penuh rasa.
“Kamu jurusan apa, Lia?” Akbar bertanya.
“Manajemen pendidikan, Bay.”
Akbar manggut-manggut. “Aku Ekonomi, Lia.”
“Oh Ekonomi. Hebat, dong.” Liani berkomentar pendek. Entah bagaimana caranya, dia tidak bisa menjawab lebih baik jika lawan bicaranya adalah Akbar.
Liani mendongak. Menatap wajah Akbar yang ternyata juga tengah menyaksikan matanya.
Sepasang netra itu bertemu sepersekian detik sebelum akhirnya Liani mengalihkan pandangan. Meski tak sampai pada hitungan menit, pertemuan dua iris indah itu menyimpan sesuatu yang tak pernah terbaca sejak dulu. Selalu menghadirkan perasaan yang yang sulit untuk diberi nama.
“Kamu jurusan Ekonomi, kan? Kenal sama Ojik nggak?” Viani bertanya santai.
“Ojik rambut gondrong?” Akbar terlihat antusias sembari menatap ramah Viani yang ada di hadapannya. Viani mengangguk sebagai jawaban.
“Kenal. Kita sekelas sama dia.”
“Dia temen aku, Bar.”
“Udah berapa dosen yang marah sama dia karena ketiduran di kelas. Dasar kebo!” Viani tertawa.
“Tapi kayaknya dia mudah banget ketiduran. Nyender dikit, kayaknya tidur!” Akbar tertawa sembari geleng-geleng kepala.
Akbar terlihat asyik membahas tentang teman Viani yang sekelas dengan dirinya.
Percakapan mereka berlangsung menyenangkan. Viani yang mudah bergaul dan selalu bisa masuk ke dalam percakapan terlihat menyatu dengan Akbar dan kedua temannya. Dia juga tidak menciptakan jarak dengan semua orang, bahkan yang baru dikenalnya sekalipun.
Liani hanya mengangguk atau menggeleng saat menanggapi percakapan itu. Dia tidak terlalu pandai menyatu dengan obrolan. Liani yang terkesan kalem lebih suka diam atau tersenyum menanggapi. Berbanding terbalik dengan Viani.
*****
Terima kasih sudah membaca Penantian Liani.
Salam hangat 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Penantian Liani
Roman pour Adolescents"Lia, kamu mau kemana? Aku tidak bohong soal gadis itu, dia hanya masa lalu. Apa yang kamu khawatirkan dari seseorang yang telah jauh tertinggal di hari dulu?" "Justru orang yang ada di masa lalu yang harus aku khawatirkan, Bay. Bukankah dia yang le...
