“Halo. Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumussalam.” Liani menjawab dengan suara pelan.
“Apa kabar, Lia?” tanya seseorang di seberang telepon. Suara antusias menyatu dengan keramaian yang terdengar melalui pengeras suara ponsel.
“Alhamdulillah baik, Nan. Kamu apa kabar?”
Kinan. Sahabat Liani sejak di bangku SMA. Gadis itu merantau ke kota sebelah.
Menghubungi Liani adalah rutinitas menyenangkan selama di perantauan.
“Aku baru dapat kabar kalau Akbar satu kampus sama kamu, Li. Kamu udah ketemu sama dia?” Ternyata kabar baik itu yang membuat Kinan buru-buru menghubungi Liani setelah jam mata kuliahnya selesai setengah jam lalu.
Liani diam sebentar. “Udah.”
“Li, kamu ingat nggak kalimat Akbar beberapa tahun lalu sebelum dia pergi?” Kinan tersenyum kecil di balik telepon. Dia sedang membayangkan bagaimana merahnya wajah Liani saat itu.
“Kalimat yang mana?” Liani menegakkan kepala. Sepertinya pembahasan tentang Akbar memicu semangatnya bangkit.
Kinan tertawa. Liani menyipitkan mata mendengar tawa itu. Bukannya mendapat respon atas pertanyaannya, Kinan malah memberikan tawa yang Liani tidak pahami.
“Kenapa ketawa, Nan?” Liani bertanya bingung. Dia menatap sekitarnya sembari menunggu tawa Kinan reda.
Kinan mengusap wajah dan kembali fokus pada Liani yang berada di seberang telepon.
“Maaf maaf, Li.”
“Aku sampai lupa kalau kamu punya hubungan spesial sama Akbar. Wajar aja kamu nanya kalimat yang mana. Pasti banyak banget kalimat Akbar yang tersimpan di kepala kamu.”
Liani menelan ludah. Seulas senyum mampir di wajah cantiknya, tapi Liani buru-buru melenyapkannya. “Jangan sembarangan kamu, Nan! Hubungan spesial apa!”
Mendengar kilah Liani yang dipahami Kinan sebagai salah tingkah, gadis itu menahan tawa.
“Iya, kamu lebih tau sespesial apa hubungan kalian.” Kinan melanjutkan untuk menggoda.
Liani semakin bergejolak dengan perasaan senang itu. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang erempuan dia suka dengan kalimat-kalimat jahil itu.
“Sebenarnya kamu mau ngomong apa, sih, Nan? Kenapa jadi melebar sampai kemana-mana.”
Kinan menarik napas pelan dan mengangguk menyudahi menjahili Liani. “Iya iya.”
“Dulu Akbar pernah bilang, nggak ada yang namanya kebetulan. Kebetulan hanyalah takdir yang sedang menyamar.”
Liani mengingat-ingat kalimat itu. Sebenarnya tanpa harus mengingatnya dengan keras, kalimat itu sudah terpatri di dalam kepalanya. Liani mengangguk. Dia mengingatnya dengan baik.
“Kenapa sama kalimat itu?”
“Setelah dua tahu kalian dipisahkan, kalian dipertemukan lagi di kampus yang sama, Li.”
Kinan menatap lurus ke depan. Dia sedang berada di lantai dua gedung kuliahnya. Menatap kuli bangunan yang tengah merenovasi salah satu gedung di kampus barunya.
“Menurut kamu pertemuan itu kebetulan atau takdir Tuhan?” Kinan bertanya serius.
Liani diam sejenak. Dia percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tuhan telah
merencanakan setiap apapun yang terjadi. Pertanyaan itu dilematis, bagaimana menjawabnya tanpa mengundang rasa yang ingin disangkalnya setiap waktu.
“Li, kamu masih di sana, kan?” panggil Kinan setelah hanya mendengar deru napas Liani.
Liani menggumam pelan. “Iya aku masih di sini, kok.
“Gimana, Li? Kebetulan atau takdir Tuhan?"
“Takdir.”
Kalimat itu lepas tanpa hambatan apapun, Kinan hanya tidak tahu jika jauh di lubuk hati Liani, kalimat itu adalah sebuah percaya yang hendak dijaganya hingga mati.
“Wah, berarti Tuhan sudah menakdirkan kamu untuk bertemu kembali dengan Akbar, Li.” Kinan menahan senyum.
“Jangan-jangan kalian berjodoh.”
Liani terdiam seketika dan tidak melanjutkan percakapan. Kinan telah membangkitkan perasaan lama yang terkubur dan sekarang mengganggu hatinya.
***
“Kaki kamu kenapa, Zar?” tanya Ayah Liani yang duduk di kursi teras rumah. Dia melepas sepatu dan menyandarkan pungggung. Baru pulang dari Konveksi. Wajahnya terlihat lelah.
Abizar datang tepat saat laki-laki paruh baya itu mengempaskan tubuh di kursi teras berbahan rotan.
“Jatuh, Yah,” jawab Abizar kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia cengengesan menatap ayah Liani.
“Jatuh dimana?” Ayah Liani kembali bertanya saat menatap lama lutut Abizar yang diperban. Pemuda itu hanya memakai celana pendek dan kaos oblong berwarna gelap.
“Jatuh dari motor, Yah.” Abizar memilih berbohong. Akan panjang sekali urusannya jika dia jujur tentang kejadian tadi malam di balkon kamar Liani.
Beruntungnya ayah Liani hanya manggut-manggut dan tidak bertanya hal lain yang mengharuskan Abizar mengarang kebohongan lain. Laki-laki itu terlalu lelah untuk bertanya banyak pada Abizar.
“Lain kali hati-hati, Zar. Kurang-kurangin jadi pembalap jalanannya.”
Abizar hanya nyengir lebar menanggapi kalimat ayah Liani. “Iya, Yah.”
Ternyata kebohongan barusan membuat masalah lain datang.
“Ya udah kalau gitu Ayah masuk dulu. Liani belum pulang, Ibu ada di dalam.” Dia
memberitahu yang hanya dijawab anggukan oleh Abizar.
Laki-laki itu masuk dan meninggalkan Abizar sendiri di teras rumah. Pemuda berambut gondrong itu duduk di salah satu kursi. Memegangi bebat lukanya yang terasa perih.
Kejadian tadi malam tidak serius, tapi luka itu tetap luka. Abizar memang sering berkunjung ke rumah Liani tanpa alasan. Kadang dia hanya datang untuk duduk di kursi teras rumah sembari menatap taman bunga mungil milik keluarga Liani.
Di halaman belakang rumahnya taman bunga itu lebih megah dan indah, tapi sungguh dia tidak menemukan keteduhan di sana. Justru di rumah Liani lah dia merasa lebih baik.
Seperti menelan obat pahit yang akan menyembuhkan lukanya.
“Minum dulu, Nak.”
Ibu Liani tiba setelah sepuluh menit pemuda itu duduk termenung dengan pikiran kosong.
“Aduh, nggak perlu repot-repot, Bu. Abizar cuma numpang duduk aja.” Pemuda itu terlihat salah tingkah. Keluarga Liani benar-benar baik padanya.
Ibu Liani menggeleng pelan dengan senyum hangat. “Nggak papa. Ibu senang bisa buatin kamu teh hangat sore-sore seperti ini.”
Abizar tersenyum kikuk. “Makasih kalau gitu, Bu.” Dia meraih gelas berisi teh hangat dari tangan ibu Liani.
“Lia kenapa belum pulang, Bu? Udah sore banget.”
*****
Hai, terima kasih sudah sampai sini:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Penantian Liani
Teen Fiction"Lia, kamu mau kemana? Aku tidak bohong soal gadis itu, dia hanya masa lalu. Apa yang kamu khawatirkan dari seseorang yang telah jauh tertinggal di hari dulu?" "Justru orang yang ada di masa lalu yang harus aku khawatirkan, Bay. Bukankah dia yang le...
