PROLOG

29 2 1
                                        

Cahaya mentari pagi menerobos sisian cela jendela yang terbuka separuh. Sepasang anak manusia menggeliat resah di bawah remang pencahayaan ruangan berwarna putih gading.

Dering ponsel memenuhi setiap sudut kamar. Sudah sejak dua jam lalu memecah hening pagi buta.

"Akbar."

Vokal serak terdengar khawatir. Sang pemilik suara meringkuk di bawah selimut tebal. Wajahnya kusut penuh dengan curiga berlebih. Apa yang telah terjadi?

"Akbar."

Suara itu sekarang terdengar memilukan. Hampir tak terdengar, tapi justru lewat suara pilu itu seorang laki-laki di sebelahnya memberikan respon. Sama dengan perempuan yang barusan bersuara, tidak ada sehelai benang yang menempel di sukmanya.

"Ra."

Laki-laki itu memutar tubuh. Berusaha membuka mata yang terasa diganduli batu sebesar gajah. Punggung seorang perempuan terlihat membelakanginya-terbalut selimut tebal yang kusut.

"Lo kenapa, Ra?" Laki-laki yang dipanggil Akbar bertanya. Suara baritonnya menampilkan kebingungan. Kesadarannya masih di awang-awang.

Tidak ada jawaban. Perempuan itu menangis sebagai respon yang tidak pernah diinginkan. Akbar menelan ludah. Kepalanya mulai merangkaikan penjelasan. Kenapa mereka tidur sekamar, di satu ranjang pula? Astaga!

Akbar buru-buru bangkit dan mendekati tubuh terbalut selimut yang sekarang sesegukan. Rambut cokelat bergelombang itu berantakan sekarang.

"Ra, kita ngapain di sini, Ra?" Akbar bertanya cepat.

"Lo ... lo nggak ingat apapun, Bar?" Suara itu terdengar resah.

Akbar mencoba memutar ingatan yang terlintas di kepala. Apa yang membuat mereka bisa berada di ruangan sama dalam keadaan 'memalukan'? Tidak. Akbar tidak mampu mengingat apa yang telah terjadi semalaman, tapi dia ingat tentang party sahabatnya tadi malam.

Meski kepalanya tidak menemukan penjelasan apapun, Akbar tidak bodoh. Dengan kondisi mereka sekarang, ditambah pula tangis perempuan bernama Yura di sebelahnya, dia lebih dari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Ra, gue nggak ingat sama sekali apa yang terjadi sama kita." Akbar mengusap wajahnya yang terasa kebas. Perasaan bersalah itu menggantung di pucuk netranya yang cokelat terang.

"Tapi gue tau apa yang udah terjadi," sambung Akbar dengan hela napas yang amat berat.

Suara tangis itu semakin riuh dan memecah sisian kamar. Berpadu dengan kicau burung yang bersahut-sahutan menyambut hari baru. Akbar mengurut pelipisnya. Urusan ini akan rumit sekali. Bagaimana cara menjelaskan pada semua orang yang percaya padanya.

"Jangan nangis, Ra." Akbar mencoba membujuk, tapi apa hendak dikata. Tubuh perempuan itu semakin terguncang bersama deras air mata yang membanjiri bantal.

"Gue nggak gadis lagi sekarang, Bar."



*****
Hai, terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca:)
Salam hangat😊

Penantian LianiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang