Masa Lalu Abu-Abu

13 1 0
                                        

Akbar menatap ponselnya dengan mata membulat. Menemukan beberapa foto yang entah siapa pengirimnya. Sejak kapan kejadian itu terabadikan dalam jepret kamera? Akbar menggeleng resah.

Perasaan bersalah seluas lautan selalu menghantui saat kejadian itu naik ke ingatannya. Akbar sudah lama mencoba berdamai dan melupakan kejadian itu. Dan sekarang, seolah ada yang tengah memantik api untuk membangunkan luka masa lalunya.

Kelebat tentang masa lalu itu berputar berulang-ulang di kepalanya.

"Jangan nangis, Ra." Akbar mencoba membujuk, tapi apa hendak dikata. Tubuh perempuan itu semakin terguncang bersama deras air mata yang membanjiri bantal.

"Gue nggak gadis lagi sekarang, Bar."

Akbar hendak menyentuh pelan pundak gadis di sebelahnya, tapi tangannya kebas seolah diikat rantai sebesar gajah.

"Gimana jelasin semuanya ke ayah dan ibu gue, Bar?" Suara gadis itu serak.

Akbar menggeleng pelan. Dia pun tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada kedua orang tuanya.

"Yura, lo ingat sesuatu nggak?" tanya Akbar setelah pikirannya kacau balau.

Yura diam sejenak sembari mengatur napasnya yang satu-dua. Gadis itu menyeka air mata dan merapikan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Bangkit dari posisi tidur, duduk menghadap Akbar yang bertelanjang dada.

Akbar mengutuk diri atas penampilan wajah Yura yang berantakan. Mata gadis itu sembab. Rambutnya acak-acakan.

Yura menggeleng pelan. "Terakhir yang gue inget tadi malam, Bara ngajak gue minum, tapi gue tolak. Bara maksa dan akhirnya gue minum, dikit, Bar," jelasnya pelan.

"Lo sendiri gimana, Bar?" Sekarang giliran Yura yang bertanya. Matanya menatap Akbar hati-hati. Seolah ada yang ditakutkannya terjadi.

Akbar memejamkan mata. Mencoba mengingat kejadian tadi malam yang terasa abu-abu. Kepalanya pusing.

"Gue nggak ingat apapun, Ra. Seingat gue, gue cuma duduk bareng anak-anak kelas."

Yura mengembuskan napas pelan. Jika demikian, berarti tidak ada yang tahu persis apa yang telah terjadi, tapi seseorang harus bertanggung jawab. Bukankah demikian makna tatapan mata Yura?

"Gue bakal tanggung jawab, Ra. Gue bakal ketemu sama bokap nyokap lo."

"Tapi gimana sama-"

"Lo nggak perlu mikirin gue," potong Akbar cepat. Siapapun harus menjadi sasaran atas kejadian memalukan ini. Siapa lagi jika bukan dia? Toh tidak ada sosok lain di ruangan ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 11, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Penantian LianiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang