Menjalani Hari Sebaik-Baiknya

6 1 0
                                        

“Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumussalam.” Ibu Liani keluar dari rumah dengan pakaian rapi. Pagi ini dia akan pergi ke Konveksi untuk mengecek beberapa keperluan.

Berdiri di ambang pintu menyambut Abizar yang tampil rapi dengan rambut gondrong diikat classy. Senyumnya mengembang lebar. Sehangat mentari pagi yang menyingsing di ufuk timur. Menyemburatkan cahaya lembut yang meneduhkan.

Abizar menyalami tangan ibu Liani.
“Liani-nya mana, Bu?” Abizar berjinjit. Mencoba mencari keberadaan gadis yang tujuh tahun terakhir sudah seperti adik kecilnya sendiri.

Ibu Liani mengernyitkan dahi. “Eh. Liani sudah berangkat bareng Ayahnya.” Senyum lebar Abizar tersumpal kalimat barusan. Pemuda itu memasang raut wajah kaget.

“Serius, Bu?” tanyanya memastikan. Sembari sekali lagi menatap ke dalam rumah. Tidak ada tanda-tanda Liani akan keluar dengan gamis panjangnya.

“Serius.” Ibu Liani menjawab lurus.

Liani memang sudah berangkat setengah jam lalu. Memang masih terlalu pagi, tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Wajar saja, kan Liani berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat tiba di kampus. Toh dia mahasiswa baru, kan?

Abizar menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul tujuh pagi. Tumben sekali Liani berangkat sepagi itu.

“Dia bilang pagi ini tidak mau terlambat, makanya datangnya pagi-pagi,” jelas ibu Liani seolah mengerti raut wajah Abizar yang penuh tanda tanya.

Abizar mengembuskan napas pelan dan mengusap wajahnya. “Ya udah, Bu kalau gitu Abizar berangkat.” Pemuda itu berpamitan dengan wajah tertekuk delapan. Hilang sudah senyum semringah menyambut pagi yang begitu menyenangkan.

“Liani nggak bilang kalau kamu ada mata kuliah pagi. Ibu kira kamu masuknya siang.”

Abizar hanya menatap ibu Liani dan tersenyum tanggung. Dia menuju mobil sedan hitam yang terparkir di depan pagar. Meninggalkan rumah Liani dan ibunya yang masih berada di halaman rumah.

Liani memang tidak bilang apapun pada ibunya kalau sebenarnya hari ini mereka bisa berangkat bareng karena jam mata kuliah mereka sama. Jika ibunya tahu, perempuan itu akan memaksa berangkat bersama Abizar.

Hari ini Abizar masih berpikir bahwa kejadian barusan hanyalah kebetulan. Dia masih belum mengerti jika sebenarnya Liani sedang mencari cara untuk menjaga jarak darinya demi aturan Tuhan yang harus dipatuhi.

***


Liani menutup buku catatan. Seorang dosen laki-laki dengan perawakan tinggi gempal baru saja menyelesaikan mata kuliah dan melenggang pergi meninggalkan ruang kelas yang ramai.

Liani menikmati pelajaran dengan senang hati pagi ini. Masih ada satu mata kuliah siang nanti, mungkin dia bisa menunggu di gazebo fakultas atas menumpang di perpustakaan sebelum mata kuliah itu dimulai.

“Dosennya resek, Li.” Viani duduk di kursi kosong sebelah Liani.

“Kenapa? Bukannya Pak Wira nyenengin?” Liani menyipitkan mata. Tidak sependapat
dengan kalimat Viani barusan. Dosen yang barusan mengajar menyenangkan sekali malah.

Dia menyampaikan silabus mata kuliah dengan penyampaian yang lugas dan tidak berteletele.

“Masa, sih harus ada kuis setiap selesai mata kuliah. Kan nggak asik!” Viani mengerucutkan bibir. Wajahnya sebal sekali.

“Terus kamu maunya gimana?” Liani tertawa.

“Nggak perlu pakai kuis-kuis. Ngerepotin.”

“Namanya juga kuliah, Vi. Kalau nggak mau repot, mending di rumah aja.”

“Lagian niat Pak Wira juga baik, kok ngasih kuis setelah mata kuliah selesai. Biar
mahasiswanya paham sama materi yang dia ajarkan. Itu juga jadi bahan evaluasi untuk mengembangkan cara dia mengajar.”

Viani tambah sebal mendengar kalimat Liani yang tidak setuju dengan pendapatnya. Gadis itu memilih membuka ponsel. Masih pukul sepuluh. Masih terlalu dini untuk pergi ke kantin mengisi perut. Dia masih kenyang karena sarapan lontong sayur tadi pagi—yang dibelikan ibunya.

“Teman kamu yang kemarin jurusan apa, Li?”

Liani yang membaca silabus menoleh pada Viani. Dia berpikir sejenak lalu menggeleng.

“Nggak tau.”

Viani mengangkat kepala dari layar ponsel. “Masa, sih nggak tau?” Dia menatap wajah Liani lamat-lamat. Mencoba mencari apakah terdapat kebohongan di sana.

“Beneran nggak tau,” tegas Liani.

Liani tidak berbohong soal itu. Dia baru bertemu kemarin dengan Akbar setelah dua tahun tidak bertemu. Bagaimana dia tahu pemuda itu kuliah di jurusan apa. Bahkan apa yang terjadi di masa lalu pun dia tidak tahu apa alasannya. Hingga hari ini pun dia masih bertanya-tanya dalam kegamangan.

Liani merogoh saku. Ponselnya berdering.

Abizar. Kenapa pula pemuda itu menelepon?

“Halo.”

“Lo dimana, Li?” tanya Abizar cepat. Suaranya menyatu dengan ramai suara-suara lain yang bising. Liani harus menjauhkan ponselnya sejenak.

“Masih di kelas.”

“Lo kenapa berangkat duluan tadi pagi?” Abizar masih bersuara sedikit berteriak.
Mengalahkan suara ramai di sekitarnya.

Liani menelan ludah. “Hmm, buru-buru soalnya.”

“Kamu dimana? Kenapa berisik banget?” Liani bertanya untuk mengalihkan percakapan.

Pembahasan itu tidak boleh panjang-panjang. Mungkin nanti Liani bisa menjelaskannya dengan baik pada Abizar, tapi tidak sekarang.

“Gue lagi di sekretariat UKM-Seni. Pengen daftar. Ini lagi dengerin peserta lain main drum,” jelas Abizar cepat.

Dia tidak akan membiarkan hidupnya suntuk selama empat tahun di kampus yang sebenarnya tidak dia inginkan. Memilih untuk masuk organisasi UKM-Seni
adalah pilihan tepat untuk mengusir bosan.

“Oh.” Liani mengangguk mengerti. “Ya udah kalau gitu, fokus dulu aja sama tes-nya.”

“Iya iya.” Abizar mematikan sambungan telepon.

Liani mengembuskan napas perlahan. Kembali memasukkan ponsel ke dalam saku. Ternyata ada banyak hal yang akhirnya tidak bisa diterka. Liani tidak tahu akan seberat apa perjalanan hijrahnya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dia juga tidak tahu jalan seterjal apa yang
sudah menunggunya di depan sana atas mimpi-mimpinya.

Liani hanya bisa menjalankan hari-harinya dengan baik sesuai kemampuan. Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa diulang, masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa diterka. Maka menjalani hari ini adalah pilihan terbaiknya sekarang.


*****

Hai, terima kasih sudah tiba di akhir. Semoga kamu tetap suka.
Salam hangat 😊

Penantian LianiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang