Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Sabille terduduk lesu di bangkunya. Matanya terpejam sejenak, mencoba meredakan pusing yang mendera akibat deretan angka dan rumus yang terhampar di papan tulis. Ruangan itu seakan berputar, dan pelajaran Matematika Minat kian terasa sebagai labirin tanpa jalan keluar.
Tiba-tiba, sebuah kaki mendekat dari ujung ruangan. Calva, dengan langkah yang pasti, melangkah menghampiri Sabille.
"Pusing ya?" tanya Calva, setelah sampai di samping meja Sabille. "Mau gue bantuin kerjain soalnya?"
Sabille membuka mata, menemukan wajah Calva yang penuh melihat ke arahnya. "Iya, Cal. Gue kayaknya butuh dukun biar bisa ngerjain ginian," jawabnya dengan nada yang setengah berkelakar.
Calva tertawa kecil, menarik kursi dan duduk di samping Sabille. "Gak ada dukun, tapi ada gue. Coba– mana yang lo gak ngerti?"
Sabille sempat kaget saat Calva menarik kursi dan duduk di sampingnya. Tetapi, Sabille tak mempermasalahkan itu, justru ia senang.
Ketika Calva mulai menjelaskan setiap detail fungsi trigonometri, Sabille berusaha keras untuk fokus. Namun, pikirannya teralihkan. Bukan rumus atau angka yang menarik perhatiannya, melainkan Calva itu sendiri.
Sambil pura-pura menulis catatan, Sabille menatap Calva. Dia memperhatikan setiap inci wajah Calvanya itu. Dari cara alis Calva mengerut ketika ia menemui bagian yang sedikit rumit untuk dijelaskan, hingga gerakan bibirnya yang lembut saat membacakan langkah demi langkah penyelesaian soal. Sorot mata Calva yang fokus, ditambah dengan cahaya yang masuk melalui jendela kelas, menambah kesan mendalam pada wajahnya.
Sabille menyadari dirinya sangat terpesona, bukan hanya oleh kecerdasan Calva, tetapi juga oleh perubahan sikap Calva yang ia pancarkan. Harapan yang dulu ia pikir hanya khayalan nya saja, sekarang datang dengan sendirinya.
Bagimana perasaan Sabille? Seperti bintang yang baru saja menemukan tempatnya di langit malam.
"Agak susah sih di bagian ini. Tapi udah lumayan paham, kan?" Ucap Calva sambil menunjuk sebuah langkah di buku catatan.
Sabille tersadar dan buru-buru mengangguk. "Eh, iya, iya, lumayan. Makasih, Calva," jawabnya dengan sedikit gugup.
Calva mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan menulis beberapa langkah jawaban dari soal-soal itu.
Ting!
Beberapa pesan masuk dari teman-temannya, mengganggu konsentrasi yang sebelumnya sudah terbagi antara pelajaran dan Calva.