Beberapa saat menunggu, akhirnya dokter kepercayaan Nio sampai dengan napas tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Ken terus menghubunginya dengan menelpon tiada henti saat perjalanan menuju rumah Nio. Menjengkelkan sekali.
Matanya menatap malas kepada pria itu. Buat apa dia datang? Terlihat anak-anak sahabat semuanya tak ada masalah, lantas buat apa dia berada di sini?
"Lo ngapain suruh gue datang?"
"Lo dokter, seharusnya tau kenapa gue manggil, lo!" Jawab Nio geram.
Dokter itu memutar matanya jengah. "Ya buat apa?! Keluarga lo aman semua, Nio!"
Alenza yang terbaring di atas ranjang hanya mendengar pertengkaran mereka. Pikirannya sibuk memikirkan nasibnya jika dokter itu berkata bahwa dirinya baik-baik saja, apakah keluarganya akan mengeluarkan dari kartu keluarga?
Nio menunjuk Alenza membuat gadis itu menatap tertekan. "Lah? Ini anak siapa? Lo culik dia di mana dah?!" Kaget Gavindra.
Mereka mengendus kesal, enak saja pria itu berucap. "Lo lupa kalo gue punya anak cewek, Vin?" Malas Nio menjawab.
Mata melotot Gavindra tunjukkan. "Hah? Jadi ini anak lo yang buang ke keluarga Elior itu?!" Ungkapnya syok.
Alenza menatap mereka penuh dendam. Dokter itu banyak tanya, mengapa tidak langsung memeriksanya lalu berkata mengenai kondisinya yang baik-baik saja hingga mereka membuangnya kembali?
"Gavin, lo bisa langsung periksa dia tanpa basa-basi nggak bermutu!" ucap Yaskara geram dengan sahabat Daddy-nya itu.
Dokter itu menunjukkan ekspresi tak sukanya. Sampai sekarang pun mereka tidak memanggil namanya dengan sopan, masih saja tak memakai embel-embel Om atau sebagainya untuk menghargai karena usainya yang lebih tua. "Gue 'kan penasaran, bocah! Wajar dong!" Sungutnya membalas.
Gavindra menatap kembali Alenza. Senyuman manis dia perlihatkan lalu duduk di pinggiran ranjang. "Ayo sini deketan, biar Om periksa dulu dadanya." Ucap Gavin sembari meraba-raba dadanya sendiri.
Brughh!
"Shit!" Umpat pria itu terjatuh karena pukulan keras di rahangnya.
"HA-HA-HA!!!" Tawa Karel dan Areksa keras melihat Adiknya tanpa segan memberikan pukulan kuat kepada Gavindra hingga membuatnya jatuh dari atas ranjang.
Sedangkan Yaskara dan Argasya hanya menampilkan senyum tipis melihat Gavin tersungkur karena pukulan dari Eza yang cukup bertenaga.
Nio menatap kasihan dengan sahabat sehidup sematinya itu yang tengah meringis kesakitan memegang rahang. "Akh sshhh," desis Gavin menahan sakit, ia akui pukulan dari gadis itu memanglah kuat.
"Dasar dokter gadungan!" Sarkas Alenza menjulurkan lidahnya berniat mengejek Gavin yang masih saja duduk di lantai.
Gavin yang mendengar perkataan Eza pun dibuat naik pitam, ia langsung berdiri dan mendekat ke arah ranjang.
"Sialan lo, bocah! berani-beraninya lo ngatain gue! Lo belum tau aja kekuatan gue di atas ring tinju, lo mau kita duel?!" Sulutnya merasa harga dirinya sudah hilang karena kalah dengan gadis kecil itu.
"Ngapain lo ngajak gue duel di atas ring tinju? Di sini aja udah kalah malah pilih lebih mempermalukan diri di tonton banyak orang di ring karena kalah sama anak kecil!" Pedas Alenza berucap menimpali.
Gavin memegang dadanya yang sakit hati. Kalimat itu benar-benar menusuk sekali. "Kurang ajar banget ya, lo!" Geramnya ingin meraih tubuh gadis itu tetapi mendapatkan halangan dari mereka semua.
Dia mengambil napasnya dalam-dalam mencoba bersabar dengan bocil tak punya hati itu. "Sabar Gavin, anggap aja nggak ada orang... " ucapnya mengusap pelan dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Novela JuvenilDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
