20. Pertanyaan Belum Terjawab

109 25 0
                                        

Sementara di area kantin masih dengan ketegangan yang sama karena kedatangan dua gadis yang ikut membuat kerusuhan.

“Nggak punya mata kalian, hah?! Lihat gue sekarang!” Pintanya begitu keras seraya berucap naik ke atas meja melihat sekeliling dengan wajah angkuh miliknya.

Semua murid yang ada di sana memusatkan perhatiannya kepada Debi. Gadis itu menarik satu murid lainnya untuk naik bersamanya di atas. “Gue perkenalkan, Gena! Dia member baru gabungan bullying geng gue!” Serunya mengangkat tangan gadis itu di sampingnya yang menebar senyuman lebar.

“Ya terus kenapa? Lo kira kita peduli, hah?!” Sahut berani dari Alenza membuat semua murid menatapnya terkejut.

“Apa lo bilang?!” sentak Gena menunjuknya.

“Masih muda udah bolot aja tuh telinga!” Kembali Alenza membalas membuat geng bullying mereka mengeram marah.

“Nggak tau diri banget ya kalian, cih, mentang-mentang Lily udah keluar dari gabungan bullying, udah ada aja pengganti barunya!” tambahnya menatap mereka rendah.

Debi dkk menatap tajam Alenza yang dengan berani menentang mereka. “Oh jadi ini cewek lonte yang gatel sama pacar gue... ” ucap Debi turun dari atas meja mendekati Alenza yang berdiri menantang mereka.

“Jangan ngarep deh! Mimpi waktu kapan lo jadian sama Argasya?” sarkasnya tersenyum miring.

Debi menatap Lily sinis. “Serius, Ly? Selera pertemanan Lo makin rendah aja sekarang. Ini teman baru lo? Si Lonte?” ujar Debi bergerak menata kerah seragam Lilly di depannya.

“Oh babi, kamu melihat aku sebagai seorang rendahan?” gemulai Alenza menyahuti membuat mereka merinding mendengarnya.

“Emang kenapa ya?! Sirik banget lo sama gue!” Sentak Alenza langsung tegas kembali dengan ekspres datarnya.

Debi yang geram dengan mereka yang semena-mena pun segera bertindak. “Kasih tau mereka!” pintanya kepada Tesi dan Gena yang ada di belakangnya langsung maju bersamaan.

Gena dengan sigap langsung menjambak rambut Lily kencang, sementara Tesi maju mundur ingin menyerang Alenza yang tengah menatap tajam.

“Tesi lo ngapain, sialan! Hajar dia!” sentak Debi membuatnya menyerang Alenza segera.

Banyak murid langsung memberikan sorakan kencang mendukung perkelahian mereka di sana. Penjaga kantin hanya bisa melihat diam tanpa berniat melerai mereka yang terus saja mengulangi kesalahannya.

“Lepasin gue, jalang!” bentak Lily merasakan rambutnya akan lepas saat ini juga.

Plak!

Dugh!

Brugh!

Alenza tersungkur menubruk lantai karena ulah Debi, Gena bertugas memegang tangannya agar tak memberontak saat ini.

“Andai lo nggak dekat sama cowok gue, udah tentu gue nggak bakalan bully lo kayak gini, lonte!” Marahnya mencengkram rahang gadis itu. “Dan satu lagi, lo dekat Lily, sama aja lo pengen dibully kita!”

Alenza meringis sekilas. Dia menatap mereka malas, matanya melirik Lilly yang sudah tumbang tergeletak di sana dengan suara merintih kesakitan.

“Seret mereka ke rooftop!” pinta Debi pergi mendahului mereka.

Gena dengan teganya menyeret kasar Lily yang wajahnya sudah lebam-lebam terkena hantaman darinya. Dia memang pandai taekwondo dan sekarang Gena mengandalkan keahliannya untuk bergabung bersama Debi.

Sementara Tesi yang takut dengan tatapan tajam Alenza hanya menyeretnya pelan penuh hati-hati. Sebelum mereka membawa keduanya ke rooftop, Gena telah mengikat tangan dan kaki mereka agar tak bisa memberontak nantinya.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang