Alenza menatap nanar ke arah gundukan tanah itu. Jemarinya yang gemetar memeluk lengan sendiri, mencoba menahan dingin yang menyelusup dari dalam, bukan karena cuaca—tapi karena kehilangan. Di sana, tubuh suaminya, Dava, telah dibaringkan. Tepat di samping makam ayah dan ibunya.
Hatinya sudah hancur. Lebur. Tak bisa dirakit lagi menjadi utuh, bahkan setelah orang yang paling dia cintai dikubur di depannya sendiri. Napasnya berat, seperti ada batu yang nempel di dadanya, menindih tiap detik yang dia lewati.
Tatapan matanya kosong, tapi sorotnya dalam... ada luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Luka yang tak bisa sembuh hanya karena waktu. Siapa yang bisa menyembuhkan ini? Siapa?
Dua orang yang dia sayang, semuanya telah pergi. Tuhan meninggalkan dia sendiri. Apa memang begitu rencana-Nya? Kata orang, rencana Tuhan itu indah. Tapi bagaimana bisa bisa dia percaya itu sekarang?
“Gue bakal coba ikhlas…” bisiknya pelan, suara lirihnya nyaris nggak terdengar. “Tapi hati yang udah hancur cuma bisa dibenerin sama orang yang ngancurin. Dan Dava… lo nggak di sini lagi.”
Orang mungkin ngira dia lemah, tidak bisa terima takdir. Tapi gimana caranya nerima semuanya dalam sekejap? Butuh waktu. Bahkan mungkin seumur hidup pun tidak cukup.
Dava... satu-satunya orang yang mendapatkan Alenza untuk tidak kebergantungan. Tapi justru kehadirannya adalah alasan Alenza bisa berdiri sampai sekarang.
Dava—cowok yang selalu bisa bikin orang ketawa, padahal hatinya sendiri remuk. Orang yang selalu nyelipin candaan, bahkan saat dunia seakan nyeret dia ke bawah. Membantu orang lain, walau dirinya sendiri lagi rapuh. Itu Dava. Langka. Nggak ada duanya.
Benar apa yang dikata suaminya dulu, kita tidak boleh kebergantungan dengan orang lain, karena itu membuat kita tidak bisa mandiri nantinya.
Dava adalah sosok yang begitu berpengaruh di kehidupannya, jika tidak, mungkin ia masih bergelut dengan misi dan misi.
Perlu diketahui, bahwa orang yang sering membuat orang lain tertawa itu adalah orang yang paling rumit kehidupannya.
Membuat orang lain tertawa itu melelahkan, saat masalah menimpanya ia akan jalani hari hari nya dengan senyuman seperti biasa. Tak peduli dengan masalah yang ia pikul dan belum menyelesaikan nya, tapi mereka akan membantu temannya yang sedang bermasalah dan menyelesaikan nya dengan matang-matang.
Tidak dengan masalahnya sendiri, ia akan lebih cenderung ceroboh memilih keputusan dalam masalahnya, sungguh berbanding terbalik jika mengambil keputusan untuk orang lain.
Seperti itu lah Dava, rela mengorbankan nyawanya demi orang yang ia sayangi, bahkan orang yang ia tak kenal pun dengan hati ikhlas ia bantu.
Dava dulu pun pernah dihantam duka berkali kali, namun dengan santainya ia lalui bersama senyum tulusnya. Jika dicari orang yang seperti Dava, sulit untuk menemukannya, memang orang seperti nya ini adalah langka.
Alenza sangat bersyukur bisa kenal dan menjadi istri seorang Dava Sanjaya ini, hidupnya dituntun menjadi pribadi yang lebih baik. Walau terkadang orang seperti Dava ini sangatlah menyebalkan tapi itulah yang membuat seseorang nyaman bersamanya.
Berbagai candaan nyeleneh ia lontarkan kepada orang yang diajak nya mengobrol, membuat mereka tertawa mempunyai kepuasan tersendiri baginya.
Melihat orang tertawa karena nya membuat beban pikiran dan masalah yang tengah ia alami serasa hilang diganti tawa bahagia dari mereka semua.
Alenza menghela napas panjang. Tangannya pelan-pelan merapikan bunga di atas makam itu. “Kalo ada orang kayak lo lagi, Dav… lo harus kasih tau gue dari sana, ya…” ucapnya pelan, mata berkaca-kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Подростковая литератураDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
