10. Kepulangan Seseorang

183 26 5
                                        

Alenza menatap kesal lelaki itu karena berani memotong ucapannya. "Apa sih?! Gue belum minta sesuatu tau!" Sungutnya merasa terganggu.

"Lo boleh minta apa pun ke kita, tapi jangan sampe permintaannya aneh-aneh!" tegas Asya menatap tajam memperingatkan adiknya yang hanya merespons dengan anggukan kecil.

"Iya-iya, santai aja kali, gue nggak minta yang bikin dompet kalian terkuras kok!" Senyum Alenza tertekan.

"Sebenarnya lo mau minta apa?" Tanya Karel.

Alenza tak menjawabnya melainkan berpura-pura berpikir di depan mereka. "Eum, gue cuma minta satu permintaan... bawa gue ketemu Dazeen dong!"

Serempak mereka berkata, "Enggak! Ganti yang lain!" Tegasnya menolak permintaan sang empu.

"Ih, kalian kok gitu! Gue 'kan cuma minta itu doang masa nggak dibolehin!" geram Alenza tak ingin merubah keputusannya.

"Ganti!" tekan Argasya menatap dengan mata tajam.

"Kenapa sih minta ganti?! Emangnya kenapa kalo gue minta itu?!" sulutnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan mereka darinya.

Matanya menatap curiga semua lelaki di depannya. "Apa jangan-jangan, kalian udah habisin nyawanya Dazeen ya?!" Tuding Alenza menunjuk.

Semuanya terdiam tak menjawab. Alenza dibuat semakin penasaran. "Ayolahhh... kali ini aja kalian turuti kemauan gue!" paksa Alenza kian merengek, mereka bertatap satu sama lain meminta pendapat.

Setelah satu menit berbincang-bincang untuk memutuskan lewat bahasa mata yang tak Alenza bisa mengerti, akhirnya ada sebuah anggukan kepala menyetujui.

"Lo boleh ke sana, tapi sama kita, terus nggak boleh deket-deket sama Dazeen! Dilarang buat pegang ini-itu, dan kita sana nggak bisa lama-lama!" ucap Karel memberi penjelasan.

Alenza tak mempermasalahkannya, kepalanya terangguk antusias menyetujuinya. "Yaudah apa lagi yang perlu di tunggu? Langsung aja kita ke sana!" Serunya bersemangat membuat mereka menggelengkan kepala tak habis pikir.

🥀

Di tempat lain, ada cowok yang tengah berdiri di pesisir pantai menatap hamparan laut biru yang menenangkan. Dia seorang diri, seharusnya jika Alenza tidak menghilang tiba-tiba, jelas Dava akan mengajaknya, membawa gadis itu bersamanya.

Suara seseorang memanggil namanya membuat gairah semangat Dava kembali terpacu. Senyuman manis sudah dia terbitkan di bibirnya, matanya menyipit tenggelam karena senyuman lebar miliknya. "Dava!!!" Seru suara cewek di belakangnya.

Dava tak membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa seseorang itu karena hatinya sudah menerka bahwa dia adalah Alenza.

Grep

Tangan kecil melingkar dengan bebas di perutnya. Memeluk tubuhnya dari belakang. "Dava, gue kangen banget sama, lo... " ucapnya sedikit mendayu. Dava segera melepas paksa pelukan itu saat menyadari ada yang berbeda. Dia langsung berbalik menatap cewek itu.

Deg!

"Ales--?" ucapnya tercekat tak mampu melanjutkan ucapannya sangking terkejutnya dia.

Gadis itu tersenyum manis, rambut panjangnya bertebaran tertiup angin kencang. "Hai, Dav!" Sapanya melambaikan satu tangannya.

Karena tak mendapatkan sahutan. Gadis itu mengeryit tak mengerti kenapa cowok itu hanya diam menatapnya dingin. "Dav? Lo nggak kenapa-kenapa 'kan?" Tanyanya memastikan sembari melambaikan tangannya di depan wajah sang empu.

Dava tersadar, lalu dengan segera memeluk gadis itu erat. Dia tak sama sekali menyangka bahwa seseorang itu telah kembali sekian lamanya, muncul di hadapannya dengan senyuman baru. Gadis itu pun membalas pelukan hangat Dava, dia tak menyangka akan bertemu cowok itu di tempat ini.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang