15. Berangkat Bareng

141 23 0
                                        

Di malam harinya, Alenza duduk bergabung bersama keluarganya untuk makan malam. Saat asyik menikmati makanannya, sebuah suara membuatnya menghentikan pergerakannya.

“Eghem!” dehem Karel membuat mereka mengalihkan perhatiannya.

Alenza menatap aneh. “Apaan sih?” tanyanya tak mengerti karena suasana menjadi hening.

“Kita mau tau, lo pacaran sama Dava, ya?” ucap Areksa memulai berbicara.

Gadis itu terdiam sejenak. “Kenapa jadi bahas Dava sih?!” kesalnya menatap sinis mereka.

“Soalnya, katanya waktu itu lo cinta sama dia, terus kalian berdua kalo di sekolahan akrab banget. Lo ngelakuin prank aja waktu itu bareng Dava ‘kan?” sahut Yaskara bertanya.

Tanpa ragu Alenza berucap. “Iya, emang gue suka sama Dava, kenapa kalian nggak terima?!” terangnya langsung. “Tapi, dia bukan pacar gue, kita nggak jadian.” lanjutnya kembali.

“Ah, intinya ‘kan kalian deket udah lama, ajak main dia ke rumah aja!” celetuk Karel membuat Alenza mengeryit keheranan.

“Ngapain, kocak?!”

“Ajak main aja dulu ke rumah nanti juga tau,” balas Argasya mendapatkan gelengan kepala gadis itu.

“Idih, ogah banget gue! Pasti kalian buat rencana yang nggak-nggak ‘kan buat isengin Dava karena dia deket sama gue?!” sinis Alenza menatap curiga.

“Negatif banget pikiran lo ke kita!” sulut Areksa kesal.

“Udah deh, nggak usah bertele-tele, kalian sebenernya mau buat apa ke Dava, huh? Jujur!” sentaknya tak ingin dibuat berpikir negatif kembali.

“Kita mau tantang Dava,” jawab Argasya apa adanya.

Brak!

“Tantangan apaan sih, jangan aneh-aneh ya kalian sama sahabat baik gue!” kesalnya menggebu-gebu setelah menggebrak meja makan.

“Astaga, Alenza... ” ucap Titanio melihat putrinya emosi.

“Jangan marah sama Al dong, Dad! Mereka sih yang bikin jengkel!” cecarnya memberitahu.

“Ya intinya tantangan, kita nggak rela kali hati lo udah diambil sama orang lain!” ucap Kara tak terima.

“Apaan sih, sialan!” sungut Alenza sudah muak.

“Ini di lakukan demi kebaikan kamu, dan kita bisa percaya sama Dava, jadi kamu harus setuju.” Ucap Titanio membuat Alenza berdiri dari duduknya.

“Terserah lah, kalo sampe Dava kenapa-kenapa, habis kalian di tangan gue!” ancamnya bersungguh-sungguh.

“Pulang sekolah bawa dia ke rumah,” pinta Argasya membuat Alenza menjadi terperangah tak percaya.

“Harus secepat itu?!”

“Terus mau kapan? Nunggu dia mati dulu?!” sarkas Karel mendapat tatapan nyalang dari mereka.

“Jangan sekate-kate mulut lo ya! Mau gue sobek?!” marah Alenza melotot kan matanya menatap Karel.

“Jangan besok sepulang sekolah dong! Kali aja Dava sibuk!” ujarnya memberitahu.

Areksa memutar bola matanya malas. “Halah, bocah ingusan kayak gitu aja sok sibuk banget!” ucapnya meremehkan.

“Dari pada lo, sibuk gibah kerjaannya!” sahut Alenza sewot.

Di dalam kamar, setelah menyelesaikan makan malam bersama keluarganya. Gadis itu memutuskan untuk menyalakan televisi ingin menonton suatu film menegangkan.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang