12. Alesya Berulah

189 28 1
                                        

Jam menunjukan pukul 06.11, tetapi gadis cantik itu masih bergelud dengan alam mimpinya. Alenza sama sekali tak bergerak bangun saat banyak orang yang tengah berusaha membangunkan dari tidur nyenyak miliknya.

Mereka menatap malas adiknya di atas ranjang dengan selimut hangat membungkus tubuh gadis itu. “Bangun, Al! Lo nggak mau sekolah, hah?” Areksa mengguncang tubuh sang empu pelan.

Karena tak ada reaksi, Karel langsung saja bergerak brutal membuat pergerakan di ranjang Alenza. Tubuh gadis itu bergerak berganti posisi membuat mereka hanya menghela napas pasrah. “Bangun, kerbau! Udah pagiii!!!” geram Karel sembari menarik penuh tenaga selimut tebal itu, tetapi tubuh sang empu ikut terseret terbawah hingga jatuh dari atas ranjang.

Brugh!

“Aduuuhhh!!!” ucap Alenza merasa nyawanya hampir melayang karena di alam mimpinya tengah jatuh dari ketinggian.

Dia bangkit dengan kaki tak siap membuatnya kembali jatuh terduduk di lantai. “Argh! Apa-apaan sih, ini?!” sungutnya tak terima setelah sadar.

Mata Alenza terbuka lebar, rambutnya seperti singa saat ini. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu setelah ini. “Kalian mau ke mana?” tanyanya keheranan melihat mereka memakai seragam yang sama.

“Lo nggak mau sekolah hari ini?” sahut Yaskara bertanya.

Alenza seketika mendelik kaget menyadarinya. “Eh iya! Gue lupa kalo hari ini mau berangkat! Okay, tungguin gue ya!” ujarnya langsung bangkit, dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah menunggu cukup lama hanya karena gadis satu-satunya di antara mereka. Semua turun ke lantai bawah untuk menemui Titanio dan segera berangkat ke sekolah.

Nio melipat kedua tangannya di depan dada melihat Alenza yang susah di atur. “Naik sekarang, Al! Bareng sama Argasya!” pintanya sudah berulangkali mengatakannya tetapi sang empu tak kunjung setuju dengannya.

Alenza mulai memperlihatkan sisi wajah melas miliknya. “Daddy, Alenza maunya naik motor sendiri, nggak mau di bonceeenggg!!!” rengeknya manja setelah itu mengerucutkan bibirnya sedih.

Nio menggeleng tak setuju. “Kamu jangan ngeyel! Badan kamu kecil, nanti kalo naik motor sendiri terus jatuh gimana, huh?!” geramnya memperingatkan.

Alenza mengerang di tempat karena merasa di remehkan keluarganya. “Jangan cuma karena badan gue mungil jadi nggak bisa naik motor sendiri ya, Dad! Alenza itu kuat!” sentaknya membela diri.

Nio berpikir terlalu lama membuat mereka menunggu dalam kegelisahan. “Okay! Daddy izinin kamu berangkat naik motor sendiri! Tapi yang lainnya harus siaga mengawasi pergerakan kamu?” tegasnya membuat keputusan.

Alenza tersenyum lebar, dengan segera dia langsung mengeluarkan salah satu motor dari dalam garasi rumahnya. Mereka menggeleng di tempat saat sang empu terlihat tak kenal rasa takut saat menunggangi motor besar itu seorang diri.

Dia menarik gas dengan tangan memegang rem membuat suara motor itu menggaung kencang. “Mau diam sampe kapan? Ayo berangkat!” serunya langsung melepaskan tarikan rem membuat dia langsung melaju kencang meninggalkan mereka di sana.

Titanio menatap anak lelakinya tak paham. “Kenapa kalian masih diam aja?! Udah sana susul Alenza!” Geramnya membuat mereka tersadar lalu melesat menyusul kepergian gadis itu.

Alenza menghentikan motornya di pinggir jalan menunggu mereka mendekat. Saat semuanya berhenti menunggu pergerakannya. Gadis itu tersenyum lebar. “Gimana kalo kita balapan?” ajaknya bersemangat.

Mendengar penuturan adik mereka membuat semuanya menjadi saling melempar tatapan mata kebingungan. “Udah deh cepetan, kalian mau apa enggak?!” geram Alenza tak ingin lama menunggu mengingat mereka akan pergi ke sekolahan.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang