Mereka menatap nyalang kedatangan tamu tak diundang itu yang kini tengah terpaku melihat dua orang di dalam ruangan.
“Masih aja dia nempel sama lo, padahal udah kita maki habis-habisan,” ucap Alenza pelan kepada Dava.
Mata gadis itu terlihat sinis kepada Alenza, berbeda jika menatap Dava, ada binar cinta yang dia perlihatkan. “Dava, lo baik-baik aja ‘kan?” tanyanya berjalan mendekat.
“Lo apa-apa sih, tadi? Berisik tau nggak!” kesal Dava berucap membuat Alesya berhenti tak lagi berjalan untuk perlahan mendekati lelaki itu yang terduduk di ranjang.
Alenza mengangguk membenarkan. “Tau nih! Lo kira ini tempat karaoke bisa koar-koar kayak tadi!” sungutnya menatap tak suka.
Alesya memilih mengabaikan penuturan Alenza yang berbicara dengannya. Dia sama sekali tak ingin ada urusan dengan gadis songong itu. “Dava, lo kok bisa sampe masuk rumah sakit, sih... ” lirihnya begitu lembut, dia tetap berdiri di tempatnya tak berpindah sedikitpun.
“Za, ini semua salah lo ‘kan? Ngaku nggak lo!” tudingnya menunjuk Alenza, menyudutkannya.
Bibir Alenza terangkat membentuk senyuman miring. “Dih, lo mau gue tuntut karena pencemaran nama baik, huh? Asal tuduh gue lagi tanpa bukti, cih!” desisnya begitu tak habis pikir, dia kali ini benar-benar menunjukkan bagimana menatap Alesya jijik.
Gadis itu tak berani mengelak lagi. Dia terdiam sembari menatap Dava berharap. Entah apa yang diinginkannya, tetapi tatapan itu membuat Alenza menjadi geram sendiri.
Dengan gerakan cepat kepalanya terfokus menghadap gadis yang terduduk di ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, menggantung dan mengayunkannya beberapa kali. “Udah deh nggak usah alasan! Ini semua perbuatan lo ‘kan ke Dava, sengaja ‘kan lo!” sulutnya tetap ingin menjadikan Alenza sebagi tersangkanya.
Bola mata Alenza berputar malas karena gadis itu tetap kekeuh menuduhnya. “Terserah lo deh! Capek banget ladenin orang gila baru!” ujarnya menyahuti.
“Lagian kenapa maksa banget sih buat gue jadi dalangnya?!” tanya Alenza ingin tahu isi otak Alesya.
“Nggak ada alasan buat gue nggak curiga ke lo! Lo setiap detik ada sama Dava, jadi kalo bukan lo pelakunya siapa lagi!” tegasnya sangat yakin dengan nalurinya.
“Okey deh gue mau jujur. Sebenarnya yang buat Dava, cowok yang lo cinta ini tuh anggota inti Hero's, jadi... jangan sala paham lagi ya sama gue,” ujarnya membuat gadis itu tercengang di tempatnya.
“Hero’s siapa sih?! Gue nggak kenal!”
“Bapak lo!” sarkas Alenza sudah malas menanggapi.
“Bokap gue udah dikubur, sialan!” sentaknya tak terima.
Alenza mengangguk setelah menyadari kenyataannya. “Oh, semoga diterima amal ibadahnya ya, ikut berduka cita,” cicitnya membalas.
“Maksud lo apa ngomong gitu ke gue?!” bentaknya benar-benar emosi.
Alenza mengangkat kedua bahunya ke atas. “Ya terus gue harus ngomong sama siapa kalo bukan ke anaknya! Apa harus gue dapat ke kuburannya cuma buat ngucapin ber-bela sungkawa atas kematiannya gitu, hah?!” sentak Alenza sangat tak habis pikir.
Alesya yang sudah tak tahan pun mendekat berjalan ke arah gadis itu, menarik tangan Alenza kuat, mencengkramnya kencang. “Minta ribut lo sama gue, huh?!” tantangnya saat ini tak memiliki rasa takut.
Gadis yang saat ini merasakan pergelangan tangannya panas menatap datar Alesya. Berani sekali dia menyentuh kulit halus miliknya. Dia langsung menyentak tarikan sang empu sembari memberikan dorongan agar dia menjauh dari jangkauannya, jangan sampai kuku-kukunya berhasil membuat ukiran di kulit kasar gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALENZA
Ficção AdolescenteDalam kehidupan yang penuh dengan luka dan kesakitan, Alenza, seorang gadis malang, berjuang untuk menemukan arti hidupnya. Dengan keluarga yang tidak pernah mencintainya, Alenza merasa seperti ombak yang terus-menerus menghantam pantai, tanpa perna...
