41. Dear: My Wife

141 24 1
                                        

Setelah hujan reda, sore harinya Eza pergi ke apartemen sang suami. Ia sudah izin kepada keluarganya dengan alasan ingin menenangkan diri sebentar.

Ia menaiki taksi, menolak diantar oleh supir rumah. Perjalanan terasa panjang, padahal hanya beberapa kilometer dari rumah. Saat sampai di depan apartemen yang cukup besar, Eza tak langsung melangkah keluar.

Tatapannya kosong menembus kaca jendela taksi.

Perlahan, ia turun. Langkahnya tertahan di depan pintu masuk. Tangan kanannya gemetar saat hendak menekan tombol PIN. Hatinya berdebar tak karuan.

“Lo bisa, Al… pelan-pelan,” bisiknya lirih, mencoba menguatkan diri.

Untung saja Dava pernah memberitahunya bahwa PIN apartemen itu adalah tanggal pernikahan mereka. Dengan jari gemetar, ia mengetik angka itu. Pintu terbuka perlahan, seakan menyambutnya masuk ke ruang penuh kenangan.

Langkahnya pelan menyusuri lorong apartemen, dan saat ia membuka pintu utama—

“Dava…” bisiknya, tertegun.

Matanya membelalak. Seluruh dinding dipenuhi foto-foto mereka. Foto masa kecil, foto candid saat liburan, bahkan foto pernikahan mereka—semuanya terpajang rapi dalam pigura elegan.

Eza berdiri terpaku di tengah ruangan. Matanya berkaca-kaca. Ia melangkah pelan mendekati salah satu meja kecil di dekat sofa. Sebuah pigura menarik perhatiannya.

Dengan hati-hati, ia mengangkat foto itu. Di dalamnya, Dava dan dirinya sedang saling menyuapi kue, wajah mereka begitu bahagia, tertawa dengan mata menyipit penuh cinta.

Air matanya tak terbendung.

Pandangan Eza beralih ke foto besar di ruang tamu—tiga sahabat tengah berpelukan hangat. Lalu matanya jatuh pada foto lain: ia, Alesya, dan Dava—keduanya mencium pipinya dari kanan dan kiri, sementara ia berada di tengah dengan tawa lepas.

Senyumnya lirih, namun penuh duka.

Perlahan ia melangkah menuju kamar. Kamar yang dulu menjadi saksi kehangatan mereka.

Langkahnya ragu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Begitu membuka pintu kamar, aroma khas Dava masih melekat. Ia memejamkan mata, menghirup dalam-dalam.

Kemudian ia duduk di pinggiran ranjang, mengusap pelan seprai. Pandangannya menyapu seluruh ruangan.

“Lo pasti capek buat ini semua, Dav…” ucapnya pelan, air matanya menetes satu per satu.

"Kenapa juga lo buat semua ini..." bisiknya, seakan bertanya pada udara.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah amplop biru di atas nakas. Ia berdiri, meraihnya dengan pelan. Amplop itu bertuliskan:

Dear: My Wife.

Tangannya gemetar saat membuka surat itu. Ia duduk kembali, menahan napas saat membaca setiap kalimatnya dengan saksama.

Usai membaca surat, Eza menggenggam lembaran itu erat-erat, memeluknya ke dada seolah takut surat itu menghilang.

Senyumnya getir, mata sembab.

“Gue nggak nyangka kamu bakalan nulisin ini semua buat gue, Dav…” bisiknya sambil memejamkan mata.

“Gue bakalan simpen surat ini… sampe kapan pun…” ucapnya, mengangguk mantap dengan suara serak.

Ia berdiri pelan, lalu berjalan mendekati jendela kamar. Cahaya temaram senja masih tersisa di ufuk barat.

Tatapannya nanar menembus langit yang mulai gelap.

“Kita nggak bakalan bisa liat sunset bareng lagi, Dav…” gumamnya, suaranya tercekat menahan luka yang menganga dalam diam.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang