14. Keseruan Pembullyan

159 28 0
                                        

Mereka berdua langsung mendekat bergabung dengan kerumunan. Alenza menyenggol tangan Dava sembari meliriknya. “Ini gimana? Beneran dikira ada kebakaran lagi,” tanyanya sembari berbisik kecil di samping sang empu.

Dava menggeleng tak tahu. “Ya ini diluar kendali kita,” sahutnya ikut berbisik.

“Lagian masa pada nggak nyadar kalo nggak ada api sama sekali sih, serius banget hidup mereka.” Tanggap Alenza menatap kesal semua murid-murid itu.

“Salah lo juga sih, kan jadi ribet jadinya!” sungut Dava membuat Alenza langsung menginjak kakinya kuat.

“Sialan lo! Ngomongnya nggak usah keras-keras, nanti kita ketahuan, ege!” jengkelnya membalas.

“Kalo semuanya udah sadar nggak ada kebakaran, pasti mereka cek cctv lorong sekolah, udah tentu kita balapan ketahuan, Al!” gereget Dava memberitahu.

Alenza berdecak bingung, dia berkacak pinggang sembari berpikir sesuatu rencana. Gadis itu menarik Dava membawanya pergi menjauhi kerumunan. Lelaki itu pun pasrah mengikuti langkah Alenza.

Mereka berhenti di bawah pohon rindang yang ada di lapangan. Alenza terduduk lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku membuat Dava ikut duduk di sampingnya.

“Lo mau ngapain?”

“Gue bisa retas cctv dari handphone, tapi masalahnya... ” ucap Alenza menggantung.

“Apa lagi? Batre handphone lo habis?” tanya Dava penasaran.

“Gue nggak tau gimana masuk ke akses cctv sekolah,” cicitnya sembari tersenyum canggung.

“Tapi itu pikir nanti aja, gue buka dulu akses retas ke cctv nya nanti lo yang masukin sandi segala macam buat hapus rekaman cctv-nya, okay? Bisa ‘kan?” ujarnya mendapatkan anggukan mengerti Dava.

Tak butuh banyak waktu akhirnya tugas bagian Alenza telah selesai. Dava langsung merebut benda pipih yang di genggaman Alenza.

“Finished!” seru Dava berhasil membuat mereka langsung bernapas lega.

“Kalo kita emang jagonya di aksi bobol membobol kayak gini, ya ‘kan?!” cicit Alenza langsung bertos ria dengan Dava.

“Kalo bobol keperawanan agak susah sih,”

Plak!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Dava setelah berucap seperti itu. Alenza menatapnya tajam. “Mulut lo minta gue potong kayaknya ya?” gemasnya menggertak.

Dava mengelus-elus pipinya yang terasa panas. “Tega banget sih lo, jadi cewek nggak ada lembut-lembut nya sama sekali perasaan!” melasnya berucap parau.

Alenza langsung saja mengejek sang empu karena mencoba terlihat lemah di depannya. “Untung cuma gue tampar doang, nggak sampe gue penggal kepala elo!” sulutnya menyahuti.

“Sadis bener dah!” celetuk Dava tak habis pikir.

Datang seseorang menghampiri mereka dengan langkah tak santai, raut wajahnya terlihat tak senang ketika melihat mereka. “Heh, kalian!” marah sang empu menghentikan langkahnya di depan mereka yang terduduk.

Alenza memutar bola matanya malas melihat kedatangan gadis itu. “Apaan sih lo! Datang-datang emosi mulu!” kesalnya menggebu-gebu.

“Sekolah kita tuh ada kebakaran malah enak-enakan berduaan di sini, kalian pikir ini tempat pacaran?!” sungut Alesya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Kekehan pelan terdengar dari Alenza membuat Alesya menatapnya aneh. “Udah gila ya lo? Mana ada kebakaran di sekolah ini! Api aja nggak ada apalagi asapnya!” sarkasnya memberikan menatap jengah.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang