28. Kenangan di Rumah Belanda

88 25 0
                                        

Eza dan keluarganya akhirnya sampai di rumah Nio yang berada di Belanda. Begitu turun dari mobil, mata Eza langsung membulat. Rumah itu besar, megah, dan klasik. Bahkan dari luar pun udah kelihatan aura elegan yang kuat. Tapi waktu mereka masuk ke dalam, semuanya terasa jauh lebih mencengangkan.

Aneka barang antik tertata rapi di beberapa ruangan. Lukisan-lukisan tua, guci dari zaman entah kapan, sampai lampu gantung kristal besar menyambut mereka sejak dari pintu utama.

“Sumpah, gue capek banget. Nggak kuat lagi,” keluh Eza seraya berhenti melangkah. Napasnya memburu. Wajahnya pucat, keringat dingin udah membasahi pelipisnya.

“Astaga… belum juga sampai kamar,” geleng Karel, meski ia sendiri juga sama lelahnya.

“Biar gue gendong,” ucap Kara langsung berjongkok di depan Eza.

Tanpa pikir panjang, Eza langsung naik ke punggung lebar kakaknya itu dengan senyum lemas. Kara mengangkat tubuhnya perlahan lalu membawanya menuju kamar di lantai atas—satu ruangan yang didominasi warna gelap. Langit-langitnya dihiasi lukisan abstrak dengan dominasi biru tua dan ungu gelap yang misterius.

“Ini kamar lo. Istirahat yang cukup, abis itu boleh keliling-keliling,” ucap Kara sambil mengelus rambut adiknya lembut.

“Yaudah, abang sana pergi,” usir Eza, mendorong tubuh Kara keluar kamar dengan malas.

“Dasar adik kurang ajar!” sungut Kara dari ambang pintu.

“Biarin, gue mah bodo amat,” balas Eza dengan tawa kecil, lalu menutup pintu dan menguncinya rapat. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.

Nuansa dalam kamar itu cocok banget di matanya—gelap, elegan, tapi nggak bikin sumpek. Justru nyaman. Ia berjalan mendekati jendela balkon, tirainya tertutup rapat. Karena penasaran, ia menarik gorden itu lebar-lebar, lalu membuka pintu balkon setengah.

Mata Eza langsung terpaku.

Di tengah halaman belakang, berdiri sebuah rumah pohon besar. Matanya berbinar. Tanpa sadar ia tersenyum.

Ia melirik kanan-kiri, tampak beberapa balkon lain. Mungkin itu kamar kakak-kakaknya. Satu balkon paling besar di ujung, ia tebak itu milik Nio—ayahnya.

Eza lalu menunduk, melihat ke bawah balkon. “Oh, ada tangga kecil,” gumamnya. Ternyata pagar kaca di balkon itu bisa dibuka. Pantas saja ada tangga tersembunyi.

Dengan cepat ia menuruni tangga itu. Kakinya ringan, langkahnya cepat.

Rasa penasarannya tak tertahankan.

Ia sampai di depan rumah pohon itu, lalu mulai menaiki tangga kayu. Setiap anak tangga terbuat dari potongan asli batang pohon—alami dan kokoh.

“Siapa sih yang bikin rumah pohon ini?” monolognya dengan suara pelan.

Begitu sampai di atas, Eza masuk ke dalam. Ia terpaku.

Dinding dalam rumah pohon itu penuh dengan foto-foto lama. Potret keluarga. Banyak senyum, banyak pelukan, banyak kebahagiaan.

Salah satu foto membuat Eza menahan napas. Itu dirinya. Masih kecil, digendong oleh ibunya, diapit oleh ayahnya dan keempat kakaknya. Foto itu sama persis dengan yang selama ini ia simpan—tapi yang ini ada di sini, di rumah Dazeen.

Ia berjalan ke jendela rumah pohon, menatap langit senja. Di balik rumah pohon itu ternyata langsung menghadap pantai. Hamparan pasir putih terbentang, hanya perlu beberapa langkah untuk sampai ke sana.

“Andai ada Dava di sini… pasti tiap sore ngajak liat sunset bareng gue,” gumamnya pelan, mata berkaca-kaca.

“Ngapain di sini?” suara berat yang datang dari belakang membuatnya kaget.

ALENZA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang