38. Duka Mendalam Alenza

143 24 1
                                        

"Dad... mereka bakalan nggak kenapa-napa kan?" tanya Karel dengan suara lirih, matanya yang berkaca-kaca tak lepas menatap Nio penuh harap.

Areksa menunduk sesaat sebelum merengkuh tubuh mungil Karel ke dalam pelukannya. "Mereka pasti baik-baik aja... Mereka berdua kuat, Karel... kuat banget."

Ia menepuk punggung anak itu pelan, mencoba menyalurkan ketenangan yang bahkan dirinya sendiri tidak yakin masih punya. Lalu ia berdiri, membelai kepala Gasya dan Kara. "Kalian tunggu di sini, ya. Daddy coba hubungi pihak yang menangani insiden Dava."

Dengan tangan gemetar, Nio menekan tombol hijau di ponselnya. Napasnya naik turun tak beraturan. "Dava pasti selamat... Pasti... Itu cuma kabar palsu... Tuhan, tolong..."

Tut...

Tut...

"Halo, ini siapa?" suara di ujung sana terdengar asing dan bingung.

"Saya... saya keluarganya Dava... saya ingin bicara langsung dengannya... di mana dia sekarang?" ucap Nio cepat, nadanya penuh kecemasan yang ditahan-tahan.

Hening sesaat.

"Maaf, untuk nakhoda kapal atas nama Dava... dinyatakan hilang dalam insiden tabrakan dua kapal di laut tadi malam..." suara itu menurun, ikut berduka.

Nio mencengkeram ponsel lebih erat. "Tolong temukan anak saya... Tolong bawa dia pulang dengan selamat!" suaranya berubah jadi desakan penuh air mata.

"Kami... kami belum bisa memastikan siapa saja yang selamat. Kedua kapal meledak hebat... korban belum bisa diidentifikasi sepenuhnya."

"Bagaimana bisa?!" suara Nio meninggi, antara marah dan kalut. "Bagaimana dua kapal bisa tabrakan?!"

"Ada dugaan miskomunikasi, Pak... Kami juga masih menyelidiki... untuk info lebih lanjut, kami mohon kesabaran Bapak."

"Baiklah... Saya mengerti," gumam Nio, nyaris tak terdengar. Lalu sambungan langsung terputus, meninggalkan keheningan yang mengerikan.

Nio berdiri terpaku, menatap kosong ponsel di tangannya. Pandangannya buram, pikirannya berkecamuk seperti badai. Ia tak mampu berkata apa-apa... bahkan untuk mengutuk nasib sekalipun.

Ia menghampiri anak-anaknya yang sejak tadi duduk gelisah, menanti dokter keluar dari ruang perawatan.

"Gimana, Dad?" tanya Gasya, suaranya pelan saat ia mendekat.

Nio hanya menggeleng lemah. "Dava... dinyatakan hilang," katanya akhirnya, pelan... seakan satu patah kata lagi bisa menghancurkan dunia.

Karel mendongak, menahan air mata yang mendesak keluar. "Jadi kecil kemungkinan... dia masih hidup?" bisiknya.

Kara tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk, menutup wajah dengan tangannya, bahunya bergetar.

"Kita... kita berdoa saja, semoga Tuhan melindunginya," Areksa mencoba tegar, tapi air matanya sudah mengalir diam-diam.

Beberapa jam kemudian, dokter keluar. Wajahnya lesu. Ia menghela napas panjang, sorot matanya sudah cukup menjelaskan.

"Dok... anak dan bayinya... mereka selamat, kan?" tanya Nio nyaris berbisik, menggantungkan seluruh harapannya pada satu kalimat.

"Syukurlah... anak Anda selamat," jawab dokter, dan senyum bahagia sejenak merekah di wajah mereka.

Namun senyum itu seketika luluh saat dokter melanjutkan, "Tapi... mohon maaf... kami tak berhasil menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan anak Anda."

Seketika udara seolah berhenti bergerak.

"Apa? Kenapa bisa begitu?!" seru Karel, matanya merah menatap dokter wanita itu tajam.

ALENZA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang